Belajar dari Kristus: Saat Cinta Mengajarkan Kita untuk Merendahkan Diri

Belajar dari Kristus: Saat Cinta Mengajarkan Kita untuk Merendahkan Diri

RENUNGAN IBADAH MASA PASION

Senin, 30 Maret 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana ibadah Pasion di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar pada hari Senin 30 Maret 2026 yang dilaksanakan pada jam 19:00, berlangsung penuh sukacita, pengharapan, dan perenungan yang mendalam.
Dalam rangkaian ibadah masa Pasion (Sengsara Kristus), jemaat diajak untuk tidak hanya mengikuti tata liturgi, tetapi juga memahami makna terdalam dari setiap pembacaan Firman Tuhan yang disampaikan.
Hal inilah yang diungkapkan dalam pemberitaan Firman Tuhan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th, yang mengajak jemaat untuk melihat kembali esensi sejati dari Sengsara Kristus secara lebih mendalam dan reflektif.

Belajar dari Kristus: Saat Cinta Mengajarkan Kita untuk Merendahkan Diri

Dalam khotbahnya, ia menegaskan bahwa salah satu dasar utama liturgi Pasion adalah pembacaan dari Surat Paulus kepada Jemaat Filipi 2:5–11. Firman ini bukan sekadar teks biasa, melainkan inti dari iman Kristen yang menyingkapkan perjalanan kasih Kristus.
“Kristus itu Allah, tetapi Ia tidak mempertahankan kemuliaan-Nya. Ia mengosongkan diri, merendahkan diri, bahkan taat sampai mati di kayu salib,” tegasnya di hadapan jemaat.
Dalam tradisi gereja seperti HKI, GKPI, dan HKBP, liturgi Pasion memiliki susunan yang jelas dan terarah. Salah satu bagian utama yang selalu dihadirkan adalah pembacaan Firman Tuhan dari Surat Paulus kepada Jemaat Filipi pasal 2 ayat 5–11.
Bagian ini menegaskan inti iman Kristen, yaitu:
* Kristus yang adalah Allah
* Mengosongkan diri-Nya (kenosis)
* Merendahkan diri menjadi manusia
* Taat sampai mati di kayu salib
* Dan akhirnya ditinggikan oleh Allah
Pembacaan ini menjadi dasar utama dalam liturgi Pasion karena menggambarkan secara utuh perjalanan sengsara Kristus yang berakar dari kasih.
Selain pembacaan Firman, liturgi juga menekankan tema-tema penting seperti sengsara Kristus, kerendahan hati, pengorbanan, serta kasih Allah kepada manusia. Jemaat diajak untuk hadir dengan sikap hormat, merendahkan diri di hadapan Tuhan, serta menghayati penderitaan Kristus dengan sungguh-sungguh, baik dalam doa maupun dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus.
Namun demikian, dalam praktik ibadah, seringkali jemaat mendengar berbagai ilustrasi dan penekanan yang disampaikan dalam khotbah. Perlu dipahami bahwa tidak semua yang disampaikan tersebut merupakan bagian dari aturan liturgi.
Penjelasan tentang kenosis misalnya, memang benar secara teologis. Namun contoh-contoh seperti gelar akademik, kisah kehidupan sehari-hari, atau ilustrasi sosial hanyalah bagian dari gaya penyampaian pengkhotbah untuk mempermudah pemahaman jemaat.
Demikian juga dengan penekanan seperti perbedaan antara “merendahkan hati” dan “merendahkan diri”, ataupun pernyataan bahwa “mencintai itu penderitaan”, merupakan refleksi spiritual dan pendekatan retoris dalam khotbah, bukan aturan resmi dalam tata ibadah gereja.
Kritik terhadap sikap jemaat, seperti kecenderungan mempertahankan gengsi atau status, juga merupakan bagian dari aplikasi firman dalam kehidupan sehari-hari, bukan bagian dari struktur liturgi itu sendiri.
“Kalau Kristus saja rela meninggalkan kemuliaan-Nya, mengapa kita begitu sulit melepaskan ego kita?” ungkapnya, yang disambut keheningan jemaat.
Secara esensial, liturgi Pasion mengajarkan satu kebenaran utama: bahwa Kristus rela merendahkan diri demi kasih kepada manusia, dan karena itu Ia ditinggikan oleh Allah. Dari sini, jemaat diajak untuk meneladani hidup dalam kerendahan hati, pengorbanan, dan kasih yang tulus.
Namun, ia juga menyoroti satu hal yang sering disalahpahami.
“Banyak yang mengira semua yang disampaikan dalam khotbah adalah bagian dari liturgi. Padahal tidak. Ilustrasi, cerita kehidupan, bahkan kalimat seperti ‘mencintai itu penderitaan’ adalah bagian dari penjelasan, bukan aturan ibadah,” jelasnya.
Di akhir pemberitaan Firman, jemaat diajak untuk tidak hanya memahami, tetapi juga menghidupi makna Pasion dalam kehidupan sehari-hari, belajar merendahkan diri, mengasihi tanpa syarat, dan berjalan dalam kasih Kristus.
Melalui penyampaian yang tegas namun menyentuh, ibadah Pasion kali ini menjadi lebih dari sekadar rutinitas. Tuhan Yesus menjadi cermin iman, yang mengajak setiap orang untuk bertanya:
Sudahkah kita sungguh menghayati kasih Kristus, atau hanya sekadar mengikutinya dalam liturgi?

Baca Juga :  Hidup Berdamai Dengan Sesama

(VIP)