Berita  

Catatan Penting Konferensi IGARSS 2026: Masa Depan Observasi Bumi dan Urgensi Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan dan Prediksi Bencana di Indonesia (Prof. Jonson Lumban Gaol)*

Catatan Penting Konferensi IGARSS 2026: Masa Depan Observasi Bumi dan Urgensi Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan dan Prediksi Bencana di Indonesia (Prof. Jonson Lumban Gaol)*

mediasumatera.id – Konferensi akbar IEEE-International Geoscience and Remote Sensing Symposium (IGARSS) 2026 baru saja usai digelar di Washington, D.C. pada 9–14 Agustus 2026. Dihadiri lebih dari 2.000 ilmuwan dari seluruh penjuru dunia, simposium tahun ini mengusung tema krusial: “The Future of Earth Observations”.

Di tengah eskalasi krisis iklim yang melanda atmosfer, daratan, hingga samudra, peran observasi planet Bumi kini telah bergeser. Menatap masa depan, teknologi ini tidak lagi sekedar mendokumentasikan apa yang sedang berubah di permukaan planet kita. Tantangan terbesarnya kini adalah bagaimana mengubah tumpukan data observasi menjadi sistem prediksi dan peringatan dini yang mampu melindungi sumberdaya dalam menjaja keberlanjutan peradaban manusia.

Penetapan pondasi teknologi observasi bumi ini bermula tepat enam dekade lalu. Pada tahun 60-an, dua ilmuwan visioner dari United States Geological Survey (USGS), William A. Fischer dan Charles J. Robinove, meyakini bahwa sensor satelit dari ruang angkasa mampu memetakan sumber daya yang ada di planet bumi ini. Gagasan tersebut disambut baik oleh Direktur USGS William T. Pecora dan Menteri Dalam Negeri AS Stewart L. Udall, yang kemudian mengumumkan proyek revolusioner Earth Resources Observation Satellites (EROS) pada 21 September 1966.

Para pionir tersebut menanamkan satu visi: to observe the Earth for the benefit of all (mengamati Bumi demi kemaslahatan bersama). Satelit bukan lagi sekadar alat eksplorasi ruang angkasa, melainkan instrumen vital untuk memahami planet Bumi  dan memprediksi kondisi rumah tempat manusia hidup.

Enam puluh tahun kemudian, fondasi tersebut telah menjelma menjadi ribuan wahana satelit yang mengitari Bumi. Volume data citra yang dihasilkan pun tidak lagi dihitung dalam Terabita, melainkan sudah menembus skala Exabyte (1 Exbyte = 1 juta Terabyte). Berkat lompatan teknologi cloud computing, internet cepat, dan kecerdasan buatan (AI), data raksasa ini kini bisa diolah dan disajikan hampir secara real-time dan menjadi pembelajaran untuk melakukan prediksi secara akurat.

Catatan Penting Konferensi IGARSS 2026: Masa Depan Observasi Bumi dan Urgensi Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan dan Prediksi Bencana di Indonesia (Prof. Jonson Lumban Gaol)*

Pergeseran Paradigma di IGARSS 2026

Arah masa depan observasi bumi ini mendominasi ribuan makalah yang disajikan di IGARSS 2026. Fokus global kini tertuju pada integrasi Earth System Monitoring and Modeling, Numerical Weather Prediction, Physics-informed Machine Learning, Deep Learning (AI), hingga teknologi digital twin.

Ratusan sesi yang disajikan pada pertemuan IGARSS 2026, dimana beberapa  sesi yang secara spesifik membedah peranan AI dan data observasi bumi dari satelit serta manajemen risiko bencana, antara lain:

  • AI on Hyperspectral Satellite Data for Rare Earth Element Detection: Enabling Sustainable Resource Management in the Perspective of Current and Future Satellite Missions”
  • “Global Food-and-Water Security-support Analysis Datasets at 10–30m Resolution using Remote Sensing Embedded Data and AI models on the Cloud”
  • “Large-scale forest structure and change mapping with the fusion of radar and lidar/optical sensors”
  • “AI-Driven Digital Twins and 3D Modeling for Earth and Infrastructure Systems”
  • “Multimodal Foundation Models for Earth Observation: Unifying Multi-source Geospatial Data for a Holistic Planet Understanding”
  • “Understanding the Impact of Monsoon, El Niño and Indian Ocean Dipole Events on Oily Sardine (Sardinella lemuru) Production Using Ocean Color Data in the Bali Strait, Indonesia”
  • “Multi-Sensor Satellite, Ground and Ocean Observing Systems for Ocean Associated Disasters: Damage Assessment and Forecasting”
  • “Remote Sensing and Geospatial Modelling of Wildfire Risk, Detection, and Recovery”
  • “Advanced Satellite Remote Sensing and AI-driven Strategies for Multi-hazard Monitoring and Risk Prediction”.

Kajian dan pembahasan dalam makalah-makalah tersebut, mengajak para ilmuwan dunia sepakat bahwa data assimilation—kemampuan menghubungkan data besar satelit dengan pemodelan untuk prediksi berbasis AI sangat penting untuk dikembangkan.

Urgensi bagi Indonesia: Kasus Banjir dan Kebakaran Hutan 2026

Perubahan paradigma dari sekadar “memantau” (monitoring) menjadi “memprediksi” (prediction) adalah hal yang sangat krusial bagi Indonesia. Sebagai contoh nyata, data time series suhu permukaan laut dari satelit yang dianalisis oleh NOAA dan BMKG pada Maret 2026 telah memprediksi bahwa fenomena El Niño akan menghantam planet ini pada periode Juni–Agustus 2026. Hari ini, kita menyaksikan dampak dari prediksi tersebut: kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan yang meluas di berbagai wilayah Indonesia.

Bencana karhutla yang terjadi saat ini menjadi alarm keras. Jika peringatan dini berbasis observasi dan pemodelan beresolusi tinggi tersebut direspons lebih cepat dengan aksi mitigasi yang agresif, kebakaran hebat semestinya bisa dicegah atau ditanggulangi sejak dini sebelum telanjur meluas.

Ketika sistem observasi mampu memberikan sinyal akurat mengenai dampak El Nino, maka data tersebut harus segera diterjemahkan menjadi kebijakan praktis di lapangan:

  • Sektor Pertanian: Petani dapat langsung menyesuaikan kalender tanam agar terhindar dari fuso.
  • Sektor Kelautan dan Perikanan: Nelayan diarahkan untuk mengatur waktu operasi penangkapan supaya nelayan terhindar dari kerugian akibat anjloknya harga saat ikan melimpah dan sebaliknya nelayan mengurangi operasi penangkapan saat kelimpahan ikan menurun, karena biaya operasional tidak tertutupi.
  • Infrastruktur Air: Pengelola danau danwaduk dapat memperketat manajemen cadangan air nasional dan juga memberi peringatan kepada nelayan yang mengoperasikan budidaya keramba apung.
  • Garda Depan Perhutanan: Pengelola hutan bisa meningkatkan patroli hotspot dan melakukan pembasahan lahan gambut (rewetting) secara masif.
  • Sektor Kesehatan: Rumah sakit dan kedinasan dapat bersiap menghadapi risiko ISPA akibat kabut asap.

Investasi untuk Kesejahteraan dan Keselamatan Manusia

Data dari satelit mengajarkan kita: apa yang terjadi di samudra luas akan menentukan nasib para nelayan tapi juga petani padi di sawah, api di hutan, hingga stabilitas harga pangan dan ekonomi di pasar-pasar kita.

Oleh karena itu, investasi pada teknologi observasi penginderaan jauh satelit, dan pemodelan sistem Bumi bukanlah biaya konsumtif untuk sains semata. Ini adalah investasi pertahanan nasional untuk ketahanan pangan, ketersediaan air, perlindungan ekosistem, dan keselamatan jiwa manusia.

Pesan utama dari IGARSS 2026 sangat sederhana: semakin cepat kita membaca perubahan alam, semakin besar peluang kita untuk menyelamatkan diri. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Komitmen politik (political will) untuk mengarusutamakan kebijakan berbasis data observasi bumi (the Future of Earth Observation) di Indonesia tidak bisa lagi ditunda dan harus didukung dalam pengembangan yang lebih advanced dengan membangun suatu sistem yang kompak dari berbagai komponen pendukung yang terlibat. Kebijakan mutakhir ini harus menjadi panglima dalam setiap strategi pengelolaan sumberdaya yang  berkelanjutan dan juga penanggulangan bencana yang  kita  hadapi setiap waktu.

*Prof. Jonson Lumban Gaol (Divisi Remote Sensing and GIS- MST Program – IPB University)