Media Sumatera,Online,Pematangsiantar – Melalui Panitia Sosialisasi dan Pelatihan Ketua M. Syahrizal Damanik, SPd, MPd, Sekretaris Hasudungan Purba Siboro dan Bendahara Sarinta Purba, Dewan Pimpinan Cabang Partuha Maujana Simalungun Kota Pematangsiantar menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Pakaian Adat Simalungun.
Sosialisasi dan Pelatihan ditekankan kepada pemahaman tentang Filosofi Busana Tradisional Simalungun, Busana Simalungun dan Cara dan Ketentuan Berpakaian Tradisional Adat Simalungun. Kegiatan diadakan di Siantar Hotel Jalan W.R. Supratman No. 3 Kel. Proklamasi, Kec. Siantar Barat Pematangsiantar (Sabtu, 12.2.2022)

Ketua Panitia M. Syahrizal Damanik, SPd, MPd dalam sambutannya mengatakan, pemahaman tentang pakaian adat Simalungun akhir-akhir ini terasa diabaikan, dimana dalam setiap acara perkawinan maupun acara adat resmi , pemakaian pakaian adat Simalungun tidak sesuai dengan pola pemakaian.
Melalui Sosialisasi dan Pelatihan ini diharapkan peserta yang hadir dapat memahami, menjelaskann dan menunjukkan pemakaian pakaian adat Simalungun yang baik dan benar. Sekaligus melestarikan pakaian adat Simalungun yang merupakan salah satu bentuk dari identitas dan jati diri daerah dan suku Simalungun.

Acara dibuka oleh dr. Rajin Saragih, SPB, ketua DPP/Presidium PMS mewakili Ketua Umum DPP/Presidium PMS Marsiaman Saragih, SH, anggota DPR RI. Turut hadir pada kegiatan ini anggota Majelis Hapartuahon Nabolon Haji Burhan Saragih Garingging, ketua DPP/Presidium PMS Baren Alijoyo Purba, SH, Evra Sasky Damanik, S.Sos dan Rado Damanik, SPd.
Kegiatan yang dipandu S. Triadil Saragih, MSn menampilkan narasumber Drs. Setia Dermawan Purba, MSi, dosen Etnomusikologi USU/Budayawan, Tuahman Saragih, pegiat kebudayaan/Sekretaris DPP/Pesidium PMS dan Dr. Erond L. Damanik,MSi, dosen UNIMED/penulis.

Salah satu narasumber, Erond L. Damanik menyampaikan catatan kritis dan rekomendasi : Seminar Kebudayaan I Simalungun telah menetapkan Busana Nasional Simalungun. Tidak boleh diubah sebelum adanya Harungguan untuk mengubah dari format awal sesuai dengan novelty.
Harus dibedakan gotong dan bulang sebagai penutup kepala adat dengan takkuluk. Begitupun tolugbalanga dan soja dengan pakaian sehari-hari,maupun aksesoris lainnya. Semua busana mutlak, milineris, dan aksesoris memiliki norma dan nilai secara filosofis. Perlu diingat, berbusana (asli) erat dengan seni berbusana, itulah sebabnya muncul variasi-variasi baru pada setiap ritus dan upacara perkawinan, ataupun momen lain yang mencerminkan kenasional-an Simalungun. Jika dimungkinkan, Partuha Maujana Simalungun perlu melakukan seminar, dan penegasan kembali atas Standarisasi Busana Nasional Simalungun ini.
Sosialisasi dan Pelatihan diikuti oleh sekitar 50 orang yang merupakan wakil dari DPC PMS Kota Pematangsiantar, DPC PMS Kota Medan, DPC PMS Kabupaten Asahan, DPC Kabupaten Simalungun, guru-guru SMP Negeri, SMA Negeri, SMK Negeri di kota Pematangsiantar dan SMK Negeri I Siantar Kabupaten Simalungun serta pegiat pakaian adat Simalungun.







