Di Tengah Zaman yang Semakin Individualis, Pendeta Bernando Napitupulu: “Jadilah Saksi Kristus yang Membawa Pengharapan”

Di Tengah Zaman yang Semakin Individualis, Pendeta Bernando Napitupulu: "Jadilah Saksi Kristus yang Membawa Pengharapan"

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Jemaat GKPI JK Imanuel melaksanakan Ibadah Minggu Trinitatis dengan penuh hikmat, sukacita, dan penguatan rohani pada Minggu, 31 Mei 2026. Ibadah tersebut menjadi momentum bagi jemaat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan di tengah berbagai pergumulan kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

Ibadah dimulai dengan suasana yang khusyuk dan penuh penghayatan. Alunan Pelengkap Kidung Jemaat yang lembut mengisi ruangan, diiringi oleh Inang A. br. Sihombing bersama song leader Inang E.E. br. Sitorus dan Inang V. br. Silalahi. Setiap nada yang mengalun seakan menyentuh relung hati terdalam. Beberapa jemaat tampak menutup mata, sebagian menundukkan kepala dalam doa. Pada saat itu, pujian tidak lagi sekadar lagu, melainkan menjadi persembahan jiwa yang naik ke hadirat Tuhan.

Dengan penuh ketenangan, Amang Pnt. A. Sinaga memimpin liturgi dan membawa jemaat mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan tertib dan khidmat. Pembacaan Epistel diambil dari Yesaya 44:1-8 yang mengingatkan umat bahwa Allah tetap menyertai dan menguatkan umat pilihan-Nya dalam setiap musim kehidupan.

Di Tengah Zaman yang Semakin Individualis, Pendeta Bernando Napitupulu: "Jadilah Saksi Kristus yang Membawa Pengharapan"

Puncak ibadah diisi dengan penyampaian Firman Tuhan oleh Pendeta Bernando Napitupulu, S.Th dari Gereja GKPI Resort Pardomuan dengan tema “Menjadi Saksi Allah Tritunggal” berdasarkan Matius 28:16-20.

Di Tengah Zaman yang Semakin Individualis, Pendeta Bernando Napitupulu: "Jadilah Saksi Kristus yang Membawa Pengharapan"

Dalam khotbahnya, Pendeta Bernando Napitupulu, S.Th mengajak jemaat GKPI JK Imanuel untuk memahami bahwa menjadi saksi Kristus bukan hanya melalui perkataan, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Seorang saksi adalah orang yang berani menyampaikan kebenaran yang telah dilihat dan dialaminya. Demikian juga orang percaya dipanggil untuk menyatakan kasih dan karya Tuhan melalui hidupnya,” ungkapnya.
Pendeta Bernardo menjelaskan bahwa para murid Yesus yang menerima Amanat Agung juga pernah mengalami ketakutan dan keraguan. Mereka pernah menyaksikan berbagai mukjizat Yesus, namun ketika Yesus ditangkap dan disalibkan, mereka kehilangan keberanian dan bersembunyi.
Meski demikian, Yesus tidak meninggalkan mereka. Sebaliknya, Yesus datang dan memberikan tugas mulia untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan kehidupan orang percaya saat ini. Banyak orang ingin menikmati berkat Tuhan, tetapi tidak semua siap menjalani proses dan tanggung jawab sebagai murid Kristus.
Dalam bagian khotbah yang menyentuh hati jemaat, Pendeta Bernando Napitupulu, S.Th menyoroti fenomena kehidupan modern yang semakin dipengaruhi teknologi dan media sosial.
“Kita sering melihat orang lebih cepat mengangkat telepon genggam untuk merekam sebuah peristiwa daripada mengulurkan tangan untuk menolong. Kadang-kadang handphone lebih cepat menangkap kenyataan daripada hati kita yang tergerak oleh belas kasihan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut membuat jemaat merenungkan kembali panggilan mereka sebagai pengikut Kristus yang dipanggil untuk menjadi pembawa kasih dan pengharapan di tengah masyarakat.
Pendeta Bernando Napitupulu, S.Th juga menekankan bahwa kesaksian iman dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Orang tua diingatkan untuk tidak hanya mengharapkan anak-anak mengenal Tuhan melalui gereja, tetapi juga melalui teladan kehidupan yang ditunjukkan setiap hari.
“Jangan hanya menyuruh anak berdoa atau beribadah. Tunjukkan kepada mereka bagaimana mengasihi Tuhan melalui kehidupan kita sendiri,” pesannya.
Selain itu, Pendeta Bernando Napitupulu, S.Th mengajak jemaat untuk meninggalkan sikap menghakimi dan lebih mengedepankan kasih. Menurutnya, gereja bukanlah tempat untuk mencari kesalahan orang lain, melainkan tempat pemulihan bagi mereka yang sedang terluka, lemah, dan kehilangan pengharapan.
“Gereja hadir bukan sebagai hakim, tetapi sebagai rumah yang menghadirkan kasih Kristus bagi setiap orang,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa menjadi saksi Kristus juga membutuhkan keberanian dan pengorbanan. Seorang saksi harus siap meluangkan waktu, tenaga, dan perhatiannya demi melayani sesama tanpa selalu menghitung keuntungan yang akan diperoleh.
Mengakhiri khotbahnya, Pendeta Bernando Napitupulu, S.Th mengingatkan jemaat akan janji Tuhan dalam Matius 28:20, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman.
“Ketika kita lemah, Tuhan menguatkan. Ketika kita takut, Tuhan memberikan keberanian. Dan ketika kita merasa sendiri, Tuhan tetap berjalan bersama kita,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penghiburan sekaligus penguatan bagi jemaat yang hadir. Banyak jemaat tampak mengikuti khotbah dengan penuh perhatian dan penghayatan, terlebih ketika diajak untuk merenungkan bagaimana mereka dapat menjadi saksi Kristus dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga :  Jalan Sempit Masuk Kerajaan Surga

Pelayanan Ibadah:
* Warta Jemaat & Doa Syafaat: Amang Pnt. J Sipayung
* Song leader/ Pujian: Inang E.E. br. Sitorus dan Inang V. br. Silalahi
* Organis: Inang A br Sihombing
* Persembahan: Inang Pnt. N br Marbun & Amang C.Pnt. P Purba
* Penerimaan Tamu: Amang Pnt. U Marpaung & Inang C.Pnt. L br Siagian.

Ibadah Minggu Trinitatis tersebut ditutup dengan doa syafaat dan doa berkat dalam suasana yang penuh kekhusyukan. Jemaat mengikuti setiap rangkaian ibadah dengan hati yang terbuka dan penuh penghayatan. Firman Tuhan yang disampaikan tidak hanya menjadi pengajaran, tetapi juga penghiburan bagi mereka yang sedang menghadapi berbagai pergumulan kehidupan.

Beberapa jemaat mengaku memperoleh kekuatan dan semangat baru melalui pesan Firman yang mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dengan wajah yang lebih teduh dan hati yang dipenuhi damai sejahtera, jemaat meninggalkan rumah ibadah sambil membawa keyakinan bahwa kasih Allah Tritunggal senantiasa menyertai, menguatkan, dan menuntun setiap langkah kehidupan mereka.

Perayaan Minggu Trinitatis di GKPI JK Imanuel bukan sekadar rangkaian ibadah rutin, melainkan menjadi momentum pembaruan iman bagi seluruh jemaat untuk semakin berani menjadi saksi Kristus yang membawa kasih, pengharapan, dan damai sejahtera di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat.
(VIP)