SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apa kabar Anda di hari ini? Ada ungkapan: jangan tunggu kaya harta baru memberi, tetapi Anda bisa memberi dari kekurangan atau dari kecukupan, sebab Anda tidak akan tambah miskin, melainkan justru akan menjadi kaya secara rohani. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Andreas Dung Lac, Imam dan Kawan-kawan, Martir Vietnam.
Renungan ini terinspirasi dari Injil Lukas 21: 1 – 4, yakni persembahan seorang janda miskin. Dalam bacaan Injil hari ini, dalam kesibukan Bait Allah, penuh dengan orang-orang kaya yang melemparkan persembahan mereka dengan suara gemerincing, hadirlah seorang janda miskin dengan dua peser di tangannya. Dua keping uang tembaga terkecil yang nyaris tak bernilai. Dalam ukuran dunia, pemberiannya itu tidak ada artinya. Namun, di mata Tuhan, persembahan itulah yang paling bermakna dan bahkan menggetarkan surga. Mengapa bisa demikian?
Pertama Nilai di Mata Tuhan Berbeda dengan Ukuran Dunia. Dua peser adalah simbol dari segala yang kita anggap kecil dan tidak berharga.Bagi si janda, itu adalah seluruh nafkah hidupnya. Tuhan tidak menghitung jumlah yang kita beri, tetapi Dia mengukur pengorbanan di balik pemberian itu. Orang-orang kaya memberi dari kelimpahan mereka, sedangkan janda ini memberi dari kekurangannya. Ketulusan hatinya membuat persembahan yang kecil secara materi menjadi sangat bernilai secara rohani. Kedua Hati Seorang Pemberi Sejati. Si janda miskin ini mengajarkan kita tentang arti memberi yang sebenarnya. Dia tidak menunggu kaya untuk memberi. Dia tidak membiarkan kekurangannya menghalangi rasa syukur dan ketaatannya. Dia adalah pemberi sejati, yang percaya bahwa segala yang dimilikinya berasal dari Tuhan. Dengan memberi seluruh nafkahnya, ia menunjukkan bahwa Tuhan adalah sumber kepercayaannya, bukan uang atau harta. Ketiga Iman yang Mengalahkan Kekhawatiran. Secara manusiawi, mustahil seseorang memberikan seluruh nafkahnya tanpa rasa takut. Namun, si janda melakukan hal itu karena imannya yang besar. Dia tidak khawatir tentang masa depannya, karena dia yakin Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Iman inilah yang mendorongnya untuk memberi dengan berani, percaya bahwa Tuhan akan membalas pengorbanannya dengan berkat yang berkelimpahan.
Bagaimana dengan kita?
Mungkin kita merasa seperti si janda memiliki sumber daya terbatas, baik uang, waktu, atau talenta. Tuhan tidak menuntut yang besar-besar. Dia hanya meminta HATI yang tulus dan siap berkorban. Ketika kita memberi dengan iman, sekecil apa pun, Tuhan akan melipatgandakannya menjadi BERKAT bagi banyak orang.
Pertanyaan Refleksi:
Dari mana saya sebenarnya sedang ‘memberi’ selama ini: dari ‘kelimpahan’ yang nyaman, atau dari ‘kekurangan’ yang penuh pengorbanan, seperti janda miskin itu?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus,ajarlah kami untuk memberi seperti janda miskin ini. Bebaskan kami dari ketakutan dan kekhawatiran. Penuhkan hati kami dengan iman dan ketulusan, agar setiap pemberian kami, sekecil apa pun, menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Mu. Amin.




