El Niño 2026: Waspadai Harga Ikan Anjlok

El Niño 2026: Waspadai Harga Ikan Anjlok
Prof. Jonson Lumban Gaol

mediasumatera.id – Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memprediksi bahwa fenomena El Niño berpotensi berkembang dan mencapai intensitas kuat pada akhir tahun 2026 hingga awal 2027. Prediksi tersebut sejalan dengan prakiraan Climate Prediction Center (CPC) dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat. Indikasi berkembangnya El Niño terlihat dari anomali suhu permukaan laut (SPL) di wilayah tropis Samudra Pasifik yang terus meningkat sejak Mei 2026. Berdasarkan hasil pemodelan iklim dan penilaian para ahli, peluang terjadinya El Niño pada periode Juni–Agustus 2026 diperkirakan mencapai 80 persen dan meningkat hingga sekitar 90 persen pada periode berikutnya.

Indikasi kondisi tersebut mulai terlihat di lapangan. Data sensor satelit Ocean Color selama sepekan terakhir menunjukkan peningkatan konsentrasi klorofil-a sebagai indikator peningkatan intensitas upwelling selatan Jawa hingga Sumatra bagian Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara. Pengamatan kami di salah satu  pendaratan ikan di pantai selatan Jawa juga menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan pelagis kecil, seperti ikan teri, mulai meningkat. Demikian pula hasil tangkapan ikan pelagis besar, seperti tenggiri dan tuna, mulai bertambah. Berdasarkan pengalaman nelayan, hasil tangkapan diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa bulan mendatang apabila kondisi oseanografi tetap mendukung.

El Niño 2026: Waspadai Harga Ikan Anjlok

Dampak El Niño terhadap Perikanan

Kajian mengenai dampak El Niño terhadap perikanan mulai berkembang pesat sejak dekade 1970-an, terutama setelah terjadinya penurunan drastis produksi ikan anchoveta di Peru pada peristiwa El Niño 1972–1973. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa El Niño merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan menurunnya produktivitas perikanan di Peru. Fenomena El Niño ini melemahkan proses upwelling di sepanjang pantai Peru sehingga pasokan nutrien ke lapisan permukaan berkurang, kesuburan perairan menurun, dan pada akhirnya menurunkan kelimpahan ikan.

Sebaliknya, di sebagian wilayah perairan Indonesia, khususnya di sepanjang pantai selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara, El Niño justru cenderung memperkuat intensitas upwelling. Sejumlah penelitian yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal nasional maupun internasional  bahwa El Niño dapat memperkuat intensitas upwelling di sepanjang perairan selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada saat berlangsungnya Monsun Tenggara. Upwelling merupakan proses naiknya massa air laut dari lapisan yang lebih dalam ke permukaan. Massa air tersebut umumnya kaya akan unsur hara, seperti nitrat dan fosfat, sehingga meningkatkan kesuburan perairan di lapisan permukaan.

Kesuburan perairan yang meningkat akan merangsang pertumbuhan fitoplankton sebagai produsen primer dalam rantai makanan laut. Kelimpahan fitoplankton kemudian diikuti peningkatan kelimpahan zooplankton yang menjadi sumber pakan ikan pelagis kecil. Selanjutnya, proses tersebut akan meningkatkan ketersediaan pakan bagi ikan pelagis besar, seperti tenggiri dan tuna. Oleh karena itu, penguatan intensitas upwelling selama periode El Niño berpotensi meningkatkan produktivitas perairan dan kelimpahan sumber daya ikan di wilayah selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Peningkatan produksi perikanan tersebut seharusnya menjadi kabar baik bagi nelayan skala kecil. Namun, kenyataan di lapangan sering kali menunjukkan hal yang berbeda. Hasil kajian kami pada tahun 2019 dan 2023 menunjukkan bahwa ketika intensitas upwelling meningkat tajam dan produksi ikan pelagis kecil melonjak di Pelabuhan Perikanan Teluk Palabuhanratu, Banyuwangi, dan Pengambengan, harga ikan justru mengalami penurunan yang signifikan. Fenomena ini merupakan konsekuensi dari hukum permintaan dan penawaran. Ketika produksi meningkat secara tajam sementara permintaan relatif tetap, harga ikan di tingkat nelayan cenderung turun.

Selain itu, ikan merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu apabila tidak segera ditangani dengan baik. Keterbatasan fasilitas rantai dingin (cold chain), terutama ketersediaan es, cold storage, dan sarana distribusi, menyebabkan nelayan terpaksa menjual hasil tangkapan dengan harga rendah. Pengamatan kami di Selat Bali pada tahun 2023 menunjukkan bahwa ketika produksi ikan lemuru meningkat tajam, persediaan es yang dibawa nelayan tidak mampu mengimbangi volume hasil tangkapan. Akibatnya, kualitas ikan menurun sehingga harga jualnya ikut merosot.

Sebaliknya, pada saat La Niña kondisi yang terjadi cenderung berbeda. Berbagai publikasi ilmiah menunjukkan bahwa La Niña melemahkan intensitas upwelling di sepanjang pantai selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Melemahnya upwelling mengurangi pasokan nutrien ke lapisan permukaan sehingga produktivitas perairan dan kelimpahan ikan pelagis kecil cenderung menurun. Dampaknya, hasil tangkapan dan pendapatan nelayan juga berpotensi menurun.

Fenomena variabilitas iklim ini menunjukkan bahwa nelayan skala kecil menghadapi risiko pada dua kondisi yang berbeda. Ketika El Niño meningkatkan hasil tangkapan, harga ikan justru turun karena kelebihan pasokan. Sebaliknya, ketika La Niña terjadi, hasil tangkapan menurun akibat berkurangnya produktivitas perairan. Dalam kedua kondisi tersebut, pendapatan nelayan sama-sama tertekan, sementara biaya operasional, seperti bahan bakar, es, dan logistik, terus meningkat.

Oleh karena itu, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat strategi adaptasi sektor perikanan terhadap variabilitas iklim. Upaya yang dapat dilakukan antara lain memperkuat sistem informasi kondisi oseanografi dan variabilitas iklim serta peramalan daerah penangkapan ikan, meningkatkan kapasitas penyuluhan kepada nelayan, memperluas fasilitas rantai dingin (cold chain), mendorong diversifikasi produk olahan ikan, serta memperluas akses pasar antardaerah maupun ekspor. Selain itu, nelayan skala kecil perlu difasilitasi untuk memperoleh perlindungan melalui program asuransi perikanan sehingga memiliki jaring pengaman ekonomi ketika menghadapi dampak variabilitas dan perubahan iklim yang semakin sering terjadi.

Prof. Jonson Lumban Gaol*

*Dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Bogor