SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Sudahkah Anda menjadi pelita yang bercahaya di dalam kegelapan bagi sesama? Atau Anda menyembunyikan cahaya pelitamu di bawah tempat tidur? Ingat, sebagai murid Yesus kita dituntut untuk menjadi terang dunia.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 8: 16 – 18, yakni perumpamaan tentang pelita.
Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau meletakkannya di bawah tempat tidur, melainkan menaruhnya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya
Sebagai murid Yesus, kita dipanggil untuk menjadi pelita yang bercahaya. Pelita tidak akan menyala tanpa minyak tanah dan dalam kehidupan rohani, minyak itu adalah minyak spiritual yang bersumber dari Yesus sendiri. Tanpa hubungan yang intim dengan Sang Sumber Terang, pelita kita akan redup, bahkan padam. Oleh karena itu,
kunci utama adalah hati yang terbuka. Ketika hati kita terbuka dan kita menjalin relasi yang dalam dengan Yesus, melalui doa, firman, dan ketaatan, maka minyak rohani itu akan mengalir. Pelita kita akan menyala, bukan karena kekuatan kita, tetapi karena terang Kristus yang hidup dalam diri kita. Namun terang itu bukan untuk disimpan. Yesus menegaskan bahwa pelita tidak boleh disembunyikan di bawah tempat tidur. Pelita harus ditempatkan di atas kaki dian, agar menerangi lingkungan sekitar kita. Maka, tugas kita adalah memancarkan terang itu melalui: Pertama Cara hidup yang mencerminkan kasih dan kebenaran. Kedua Sikap yang rendah hati dan penuh pengampunan. Ketiga Perilaku yang jujur dan adil. Keempat Tutur kata yang membangun dan menguatkan. Kelima Tindakan yang membawa damai dan harapan. Yang perlu digarisbawahi adalah kita tidak perlu menjadi matahari yang menerangi seluruh semesta, tetapi cukuplah menjadi pelita kecil yang menerangi ruang di mana Tuhan menempatkan kita, di keluarga, di komunitas, di tempat kerja, di komunitas basis. Yang paling penting adalah terang kecil yang konsisten & bermakna daripada terang besar yang hanya sesaat.
Maka, mari kita terus mengisi pelita kita dengan minyak dari Yesus, dan dengan setia memancarkan terang itu kepada dunia. Sebab terang sekecil apapun, jika berasal dari Kristus, mampu mengusir kegelapan.
Pertanyaan refleksi:
1. Apakah aku sudah memiliki “minyak rohani” yang cukup dari Yesus untuk membuat pelita hidupku tetap menyala?
2. Dalam aspek hidupku yang mana aku sudah atau belum memancarkan terang Kristus kepada orang lain?
3. Apakah aku sedang menyembunyikan pelita itu karena takut, malu, atau nyaman dalam zona aman?
4. Apakah pelita hidupku masih menyala, atau mulai redup karena kurangnya minyak rohani atau spiritual?
Selamat berefleksi🙏🙏




