SALVE, mediasumatera.id – bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Adakah kita selalu membuka aib sesama kepada orang lain? Atau adakah kita selalu menjelek-jelekan sesama kepada orang lain? Para saudaraku, tidak ada gunanya kita membuka aib sesama kepada orang lain. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta kelahiran Santa Perawan Maria.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 1: 1 – 16. 18 – 23, yakni silsilah Yesus Kristus dan kelahiran Yesus Kristus. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan silsilah Yesus Kristus. Kita melihat bahwa Ia lahir dari garis keturunan yang tidak sempurna. Ada tokoh-tokoh yang pernah jatuh dalam dosa, namun tetap dipakai Allah dalam rencana keselamatan. Ini menjadi pengingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna, semua pernah jatuh, semua butuh rahmat. Dan
Ketika Maria mengandung oleh Roh Kudus, Yusuf menghadapi dilema besar. Ia tahu bahwa secara manusia, Maria tampak telah melanggar norma. Namun, Yusuf tidak mencemarkan nama Maria. Ia tidak menyebarkan aib, tidak menghakimi, tidak membiarkan emosi menguasai. Ia memilih untuk berdiam dan mempertimbangkan, melakukan discernment. Dan justru dalam keheningan itulah, malaikat Tuhan berbicara kepadanya dalam mimpi.Di sinilah kita belajar:
_Pertama_ *Orang yang cepat menyebarkan aib sesama adalah orang yang belum belajar KASIH dan KERENDAHAN HATI.
_Kedua_ *Orang yang merasa diri paling suci, paling saleh, paling alim, sesungguhnya sedang berdiri di atas kesombongan rohani*
_Ketiga_ *Orang yang bijak adalah seperti Yusuf: diam, berdoa, dan taat pada suara Tuhan*
Maka mari, daripada kita membuka aib orang lain, lebih baik kita mendoakannya. Dan daripada merasa lebih baik dari yang lain, lebih baik kita bertobat. Karena setiap kita adalah orang berdosa yang sedang dalam proses transformasi. Kita mungkin sering jatuh, tetapi kita dipanggil untuk bangkit dan bangkit kembali.
Akhirnya, jangan merasa diri paling suci, sebab kesombongan rohani adalah bentuk kemunafikan. Oleh karena itu, belajarlah dari Yusuf, yang dalam ketulusan & rendah hati, dia: diam dalam doa, pertimbangkan, dan dengarkan suara Tuhan. Sekali lagi, doakan sesama yang jatuh, bukan sebarkan aibnya. Kita pun harus selalu
bertobat yang berarti kita bertransformasi.
*Pertanyaan Refleksi:*
1. Apakah aku pernah tergoda untuk menyebarkan kelemahan atau kesalahan orang lain, dan apa motivasiku saat melakukannya?
2. Dalam situasi sulit, apakah aku cukup memberi ruang untuk berdiam dan melakukan discernment seperti Santo Yoseph, atau justru cepat bereaksi dan menghakimi?
3. Sudahkah aku menyadari bahwa aku pun adalah orang berdosa yang sedang dalam proses pertobatan, dan bagaimana aku bisa lebih rendah hati dalam memperlakukan sesama?
*Selamat berefleksi*🙏🙏



