Jumat, 09 Desember 2022

Kader PAN Dikabarkan Ramai-ramai Mundur, Pengamat: Membesarkan Parpol atau Sekadar Kuda Tunggangan

Kader PAN Dikabarkan Ramai-ramai Mundur, Pengamat: Membesarkan Parpol atau Sekadar Kuda Tunggangan

Media Sumatera, Online. Palembang – Sejumlah jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Provinsi Sumatera Selatan dikabarkan ramai-ramai menyampaikan surat pengunduran dirinya dari keanggotaan Partai Amanat Nasional maupun Pengurus Wilayah PAN Sumatera Selatan Periode 2020-2025.

Menyoroti ini, Pengamat Politik Drs Bagindo Togar Butar Butar melihat secara terbuka para elite pimpinan DPW PAN Provinsi Sumatera Selatan merespon secara bijak atas mundurnya beberapa kadernya.

Ada yang beralasan tak ingin lagi berada dalam network politik praktis, ada juga mungkin ingin beralih ke lain hati parpol yang lebih pas dengan orientasi atau ideologi partai politik yang lain.

“Wajar dan sah sah saja itu. Kalau pun diperkirakan ada kekuatan lain di luar, mendorong untuk eksodus dari fungsionaris PAN di Sumsel, hal itu juga lumrah saja. Tak perlu petinggi PAN menyikapinya secara berlebihan,” ungkap Bagindo, Senin (30/5/2022).

Bukankah beberapa waktu terakhir tengah muncul trend, pindah parpol oleh beberapa tokoh publik di Sumsel, terakhir resignnya Fitri Agustinda dari Bendahara juga keanggotaan PDIP Kota Palembang.

Sebelumnya juga terjadi di partai lain dibeberapa kabupaten/kota yang lain.

Realitas ini acapkali datang dari para kader yang berkualifikasi non ideologis, dimana parameter pengambilan keputusannya cenderung pragmatis atau situasional.

“Sederhananya jangan berharap banyak atas muatan loyalitas, kolektivisme maupun militansi untuk membesarkan parpol yang menaunginya, tapi semata mata memposisikan parpol sebagai kuda tunggangan untuk pengembangan karir politik pribadinya semata,” kata Bagindo yang juga mantan Ketua IKA Fisisp Unsri.

Tentu saja PAN dituntut untuk peka akan fenomena itu, terkhusus menjelang event Pemilu.

Tentu saja PAN dituntut untuk peka akan fenomena itu, terkhusus menjelang event Pemilu.

Baca Juga :  Banyuasin, Kabupaten Pertama dan Tercanggih Terapkan CMS SP2D Online

Bukankah PAN merupakan Parpol yang lahir di era reformasi, cukup berpengalaman serta memilki mekanisme internal yang teruji untuk mendorong kader genuinenya supaya diutamakan perkembangan karir politiknya.

Bukan memberi previlege bagi para new comer, yang diragukan totalitas maupun pengabdiannya bagi parpol tempat bernaung agar lebih bergaung?

Popularitas dan “isi tas” memang dibutuhkan di era sistem politik demokrasi yang butuh kapitalisasi dalam operasional atau praktek politik.
Tetapi PAN Sumsel, juga diharapkan tak terjebak oleh tradisi praktek yang tak substansial seperti hal disebut di atas.

Semua parpol, takkan luput oleh “ujian dan godaan” seperti itu.

Tetapi, kedepankan komunikasi dan penggalangan dengan seluruh kader maupun pengurus, mulai dari struktur terbawah hingga top level, saling bahu, tanpa diskriminasi, terkhusus bagi yang telah cukup lama berkontribusi membesarkan partai berlambang matahari di langit Nusantara yang biru ini.

Kejadian begini merupakan tantangan awalan.

“Yang pada tujuan cita cita organisasi berdirinya organisasi politik ini sungguh mulia, yang berjuang agar PAN menjadi yang terdepan membangun kemaslahatan umat serta bangsa kita,” kata Direktur Eksekutif Forum Demokrasi Sriwijaya (Fordes).