KEMBALILAH KEPADA TUHAN!

KEMBALILAH KEPADA TUHAN!

RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”

Senin, 30 Maret 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id
Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan pengharapan dari Tuhan perlahan mengalir dan memenuhi hati kita—bahkan di saat kita merasa lelah, kosong, atau tidak baik-baik saja.
Di masa menjelang Minggu Palmarum ini, kita diajak untuk berhenti sejenak… dan jujur melihat hati kita.
Mungkin di luar kita terlihat kuat, tetapi di dalam hati kita sedang lelah, terluka, bahkan merasa sendiri.
Hari ini Tuhan berbisik lembut…
“Aku tahu pergumulanmu. Aku melihat air matamu.”
Kasih-Nya tidak pernah berubah.
Bahkan saat kita menjauh, Dia tetap menunggu kita kembali.
Kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur namun rindu dipulihkan.
Kembali dengan iman yang mungkin kecil… tetapi ingin kembali menyala.
Renungan ini disampaikan oleh Tubiran M.T. Simamora sebagai penguatan iman bagi kita semua.

“Sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Aku pun akan kembali kepadamu, Firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 1:3)

Pada abad ke-17, ada seorang pelukis besar bernama Rembrandt van Rijn. Di masa mudanya, ia hidup dalam kemewahan, ketenaran, dan kesombongan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia kehilangan segalanya: hartanya habis, istri dan anak-anaknya meninggal, dan ia hidup dalam kesendirian yang pahit. Di masa tuanya yang kelam, Rembrandt kembali membaca kisah “Anak yang Hilang” di Alkitab. Hal ini menggerakkan hatinya untuk melukis salah satu mahakaryanya yang paling menyentuh: The Return of the Prodigal Son (Kepulangan Anak yang Hilang). Dalam lukisan itu, Rembrandt menggambarkan sang anak yang hancur, pakaiannya compang-camping, dan satu sandalnya terlepas, menunjukkan betapa jauh dan sulitnya perjalanan “pergi” dari rumah. Namun, bagian paling indah adalah tangan sang ayah yang memeluknya. Satu tangan terlihat kuat dan maskulin (melambangkan keadilan), sementara tangan lainnya terlihat lembut dan feminin (melambangkan kasih sayang). Rembrandt menyadari bahwa sejauh apa pun ia “pergi” mengejar ego dan dunia, Tuhan tidak pernah mengunci pintu. Tuhan sedang menunggu di ambang pintu, siap menerima kepulangannya dengan tangan terbuka. Melalui lukisan itu, Rembrandt “kembali” kepada Tuhan sebelum akhir hayatnya.

Baca Juga :  Bersukacita di Gunung Batu, Tuhan Memanggil Kita Menjadi Saluran Berkat di Minggu Estomihi

Pesan Tuhan dalam Zakaria 1:3 sangatlah jelas dan penuh kasih: “Kembalilah kepada-Ku… maka Aku pun akan kembali kepadamu.” Seringkali kita merasa bahwa Tuhan menjauh dari hidup kita. Masalah menumpuk, hati terasa hampa, dan doa-doa seolah memantul di langit-langit. Namun, jika kita jujur, sebenarnya bukan Tuhan yang menjauh, melainkan kita yang berjalan membelakangi-Nya.

Sama seperti anak yang hilang atau Rembrandt dalam ceritanya, kita sering mencari kebahagiaan di luar “Rumah Bapa.” Kita mengejar ambisi, kepuasan sesaat, atau bahkan tenggelam dalam keputusasaan sampai kita lupa jalan pulang.

Kembali kepada Tuhan bukan berarti kita sudah menjadi sempurna. Kembali berarti: Mengakui bahwa kita tidak mampu berjalan sendiri; Memutar arah (bertobat) dari jalan yang sedang kita tempuh; Percaya bahwa Tuhan tidak akan menghakimi masa lalu kita saat kita datang bersujud.
Tuhan memberikan janji yang indah, saat kita mengambil satu langkah untuk kembali, Dia sudah berlari untuk menjemput kita. Dia tidak menunggu kita bersih untuk menerima kita; Dia menerima kita apa adanya untuk kemudian membersihkan kita.

Apakah hari ini kita merasa jauh? Ingatlah, sejauh apa pun kita melangkah pergi, jalan pulang hanya berjarak satu doa saja.

Renungan:
Apa satu hal dalam hidup kita saat ini yang membuat Saudara merasa jauh dari Tuhan? Maukah Sudara melepaskannya hari ini untuk kembali ke pelukan-Nya?

Lagu:
BE No. 404:1,2 “Unang Ho Sai di Na Holom”
KJ No. 39:1,2 “Ku Diberi Belas Kasihan”

Doa:
Ya Tuhan yang Mahapengasih. Aku datang ke hadapan-Mu dengan hati yang apa adanya. Aku menyadari bahwa selama ini langkahku seringkali menjauh dari jalan-Mu dan aku mencoba mencari ketenangan di tempat yang salah. hari ini, aku mendengar undangan-Mu di dalam Zakaria 1:3. Aku mau kembali kepada-Mu. Amin.

Baca Juga :  Renungan hari ini: Mengulurkan Tangan Untuk Berbuat Baik, Bukan Untuk Berbuat Jahat

Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.

Amin.

(VIP)