PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Dalam keheningan yang menyelimuti ibadah Jumat Agung, jemaat di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar diajak menyelami sebuah kesaksian iman yang lahir dari salib: bahwa Yesus bukan sekadar manusia, melainkan Anak Allah yang mengorbankan diri-Nya bagi keselamatan dunia.
Ibadah yang dilaksanakan pada Jumat 03 April 2026 pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung dalam suasana haru, khidmat, dan penuh penghayatan. Sebanyak 458 jemaat hadir mengikuti setiap rangkaian liturgi dengan hati yang terbuka, diawali dengan alunan pujian dari Buku Ende yang membawa jemaat masuk dalam suasana damai dan penghayatan rohani. Liturgi ibadah dipimpin oleh Pnt. J. Sipayung.

Pembacaan Firman Tuhan diambil dari Matius 27:45–56, yang mengisahkan detik-detik penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib. Firman tersebut disampaikan oleh Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th dengan penekanan pada makna penderitaan dan kasih yang melampaui batas kemanusiaan.
Dalam khotbahnya, ia menyoroti seruan Yesus di atas salib yang menggugah hati:
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Seruan itu menggema dalam keheningan ibadah, menyentuh pengalaman batin banyak jemaat, tentang rasa sepi, kehilangan, dan pergumulan hidup yang kerap dialami manusia.
“Penderitaan Yesus bukan hanya soal luka fisik, tetapi kesepian yang paling dalam. Ia merasakan ditinggalkan, sesuatu yang juga sering dialami manusia. Namun justru di situlah kasih Allah dinyatakan dengan sempurna,” ujar Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th.
Ia menegaskan bahwa kematian Kristus merupakan pengorbanan yang mulia, di mana Yesus menjadi korban pengganti bagi dosa manusia—sebuah kasih yang menghadirkan keselamatan.
“Setiap kali kita memandang salib, kita melihat dosa kita. Tetapi pada saat yang sama, kita melihat kasih Tuhan yang menyelamatkan. Dari kematian Kristus, lahir kehidupan bagi kita,” tambahnya.
Suasana ibadah semakin sakral ketika jemaat mengikuti Perjamuan Kudus dengan penuh kerendahan hati. Dalam keheningan tersebut, jemaat diajak merasakan persekutuan yang hidup dengan Kristus serta menghayati pengorbanan-Nya secara pribadi.
Rangkaian ibadah Jumat Agung tidak berhenti pada pagi hari. Pada pukul 14.00 WIB, jemaat kembali berkumpul untuk mengikuti ibadah lanjutan dalam rangka mengenang Tuhan Yesus yang disalibkan, sebagai bentuk penghayatan iman yang semakin mendalam.
Menutup Kotbah dalam pesannya, pendeta juga mengajak jemaat untuk menghidupi makna Jumat Agung dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam hal kasih dan pengampunan.
“Jangan kita menjadi orang yang memberi ‘anggur asam’ kepada sesama, merendahkan dan menyakiti. Sebaliknya, kita dipanggil untuk mengasihi, mengampuni, dan merangkul, seperti Kristus telah lebih dahulu melakukannya kepada kita,” tegasnya.

Susunan Pelayanan Ibadah Jumat Agung
Pelayanan ibadah berjalan dengan tertib dan penuh tanggung jawab melalui keterlibatan para pelayan Tuhan, yaitu:
1. Liturgis: Pnt. J. Sipayung
2. Doa Syafaat: Pnt. D. Br. Gultom
3. Persembahan:
– Pnt. P.H. Turnip
– Pnt. R. Br. Tobing
– Pnt. S. Br. Hutagalung
– Pnt. U. Br. Tobing
4. Penerima Tamu:
– Pnt. N. Br. Panggabean
– Pnt. R. Br. Manurung
5. Pendamping Pendeta dalam Perjamuan Kudus: Pnt. J. Sipayung
6. Pengatur Jemaat Maju ke Depan:
– C. Pnt. P. Purba
– C. Pnt. Victor Asido Elyakim P
– C. Pnt. B. Simangunsong
7. Pengisi Anggur ke Seloki (sebelum ibadah):
– Pnt. N. Br. Marbun
– C. Pnt. Tatri Br. Siregar
– C. Pnt. L. Br. Siagian

Kebahagiaan juga terpancar dari wajah jemaat yang hadir. Tahun ini menjadi momen yang istimewa bagi jemaat GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, karena ibadah Jumat Agung dirayakan di gedung gereja yang baru. Suasana terasa hangat, bukan hanya karena kebersamaan, tetapi karena jemaat merasakan pelukan kasih Tuhan yang nyata di tengah-tengah mereka.
Bangku-bangku gereja tampak terisi penuh, seolah tidak menyisakan ruang kosong. Kehadiran jemaat yang begitu antusias mencerminkan kerinduan yang besar untuk bersekutu dan merayakan karya keselamatan Kristus.
Dengan penuh sukacita dan pengharapan, jemaat juga menantikan acara syukuran yang akan dilaksanakan pada Minggu, 19 April 2026, dengan harapan dapat dihadiri lebih banyak lagi jemaat dan menjadi momentum kebersamaan yang lebih besar dalam kasih Tuhan.
Bagi banyak jemaat, ibadah Jumat Agung kali ini bukan sekadar peringatan tahunan. Ia menjadi momen perjumpaan iman, saat hati disentuh, air mata jatuh, dan kehidupan dipanggil untuk berubah.
Di saat dunia pernah menjadi gelap, salib justru memancarkan terang.
Di saat manusia merasa ditinggalkan, kasih Kristus membuktikan bahwa Ia tidak pernah pergi.
Dan di saat kematian tampak menang, justru di sanalah kehidupan dimenangkan.
Sungguh, dari salib itu dunia belajar satu hal yang tidak akan pernah berubah:
Yesus bukan sekadar manusia, Yesus adalah Anak Allah yang mengasihi sampai akhir.
Amin.




