Opini  

KETIKA ILMU PENGETAHUAN DILEMBAGAKAN DAN LAHIRNYA TRADISI WISUDA

KETIKA ILMU PENGETAHUAN DILEMBAGAKAN DAN LAHIRNYA TRADISI WISUDA

Catatan dari London (8)

– Menghadiri Wisuda Dua Anakku

Oleh Denny JA

mediasumatera.id – Seorang ibu dan ayah berdiri di antara ribuan orang yang bertepuk tangan. Di hadapannya, anak yang dahulu pernah ia gandeng menyeberang jalan kini melangkah mengenakan jubah hitam dan topi akademik.

Tepuk tangan itu terdengar biasa bagi orang lain. Namun bagi seorang ibu dan ayah, bunyinya seperti perjalanan puluhan tahun yang akhirnya mencapai muara.

Pada saat itulah saya menyadari, wisuda bukan sekadar akhir pendidikan. Ia adalah perayaan tentang waktu, pengorbanan, dan harapan yang berhasil bertahan.

-000-

Kami menghadiri wisuda S2 dua anak kami di dua universitas berbeda, dalam minggu yang berlainan, di London. Aula dipenuhi keluarga dari berbagai bangsa.

Ada yang membawa bunga, ada yang memeluk anaknya sambil menangis. Ada pula yang diam memandang panggung seakan sedang memutar kembali seluruh kenangan masa kecil putra-putrinya.

Di tengah prosesi itu saya justru bertanya pada diri sendiri, sejak kapan manusia merasa perlu merayakan kelulusan dengan begitu khidmat?

Pertanyaan itu membawa saya menelusuri sejarah hampir sembilan abad ke belakang.

Tradisi wisuda lahir di Eropa sekitar abad ke-12 ketika Universitas Bologna di Itali yang berdiri sekitar tahun 1088, bersama Universitas Paris pada pertengahan abad ke-12. Mereka mulai membangun sesuatu yang belum pernah dikenal dunia sebelumnya.

Mereka bukan hanya mengumpulkan orang-orang pandai. Mereka menciptakan sebuah lembaga yang memiliki kurikulum, ujian, standar, dan hak memberikan gelar akademik.

Inilah revolusi yang sesungguhnya.
Di Yunani kuno, seseorang belajar langsung kepada Plato di Akademia atau Aristoteles di Lyceum. Pengetahuan melekat pada sosok guru.

Setelah selesai belajar, murid pulang tanpa ijazah, tanpa gelar, tanpa upacara. Hubungan itu bersifat personal.

Di Eropa abad pertengahan, pengetahuan berubah menjadi institusi. Lahir sebuah komunitas ilmiah yang disebut universitas, berasal dari kata Latin universitas magistrorum et scholarium, yaitu persekutuan para guru dan pelajar.

Di sana, ilmu tidak lagi bergantung pada seorang tokoh, tetapi dijaga oleh sebuah komunitas yang memiliki aturan bersama.

Gelar akademik yang diberikan bukan sekadar penghargaan. Ia adalah licentia docendi, lisensi resmi untuk mengajar. Dengan lisensi itu, seorang sarjana Bologna dapat mengajar di Paris, Oxford, atau Salamanca.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ilmu pengetahuan memperoleh paspor yang melampaui batas kerajaan dan bahasa.

-000-

Prosesi wisuda lahir sebagai pengakuan publik atas perubahan status itu. Mengapa para lulusan mengenakan toga hitam?

Jubah panjang yang kini tampak anggun itu mula-mula hanyalah pakaian sehari-hari para rohaniwan dan cendekiawan abad pertengahan.

Saat itu gedung kuliah belum memiliki pemanas. Jubah tebal membantu melindungi tubuh dari musim dingin. Lama-kelamaan pakaian itu berubah menjadi simbol bahwa ilmu menuntut disiplin, kerendahan hati, dan kehidupan intelektual.

Topi akademik berkembang dari penutup kepala para sarjana abad pertengahan. Sementara hood, pada mulanya benar-benar merupakan tudung untuk menghangatkan kepala.

Kini hood menjadi kain berwarna yang dikenakan di belakang bahu. Warna dan bentuknya menunjukkan jenjang akademik serta bidang ilmu yang ditekuni. Sebuah benda sederhana berubah menjadi bahasa simbol yang dipahami komunitas akademik di seluruh dunia.

Begitulah tradisi bertahan. Fungsi praktis boleh hilang, tetapi makna tetap hidup.

-000-

Yang membedakan universitas Eropa dari sekolah filsafat Yunani bukanlah kecintaan kepada ilmu. Plato maupun Aristoteles sama-sama mencintai pengetahuan dengan sepenuh hati. Perbedaannya terletak pada cara ilmu diwariskan.

Di Yunani, ilmu berkembang melalui percakapan antara guru dan murid. Di Eropa, ilmu dibangun melalui institusi yang mampu melampaui usia siapa pun.

Plato wafat, Akademianya berubah. Aristoteles meninggal, Lyceumnya ikut meredup. Namun Universitas Bologna tetap hidup lebih dari sembilan abad kemudian karena yang dipertahankan bukan seorang guru, melainkan sistem.

Di sinilah salah satu penemuan terbesar peradaban manusia. Peradaban menjadi panjang umur bukan semata karena melahirkan orang-orang jenius, tetapi karena berhasil menciptakan lembaga yang menjaga pengetahuan melampaui generasi.

Ilmu akhirnya mempunyai rumah. Rumah itulah universitas. Dan wisuda merupakan cara rumah itu menyambut anggota baru yang kelak akan meneruskan estafet pengetahuan.

-000-

Di tengah prosesi wisuda kedua anak saya, perhatian saya beberapa kali justru berpindah kepada para orang tua.

Seorang ibu berkali-kali mengusap air mata sebelum anaknya naik ke panggung. Seorang ayah berdiri sambil menggenggam erat kamera yang tak lagi dipakai memotret. Ia lebih sibuk memandang anaknya sendiri daripada melihat layar.

Saya memahami perasaan itu. Tidak ada orang tua yang benar-benar melihat seorang lulusan. Yang mereka lihat adalah bayi yang dahulu belajar berjalan, anak kecil yang pernah demam semalaman, remaja yang gagal dalam ujian pertama, lalu bangkit kembali.

Seketika ingatan saya melompat puluhan tahun ke belakang. Saya melihat kembali kedua anak saya ketika masih balita, menggenggam jari saya atau tangan ibunya saat belajar melangkah, lalu berlari ke sekolah dengan tas yang hampir sebesar tubuh mereka.

Kini mereka berjalan ke panggung wisuda dengan gagah. Saya tersenyum bangga, tetapi di dalam hati tetap melihat dua anak kecil yang tidak pernah benar-benar pergi dari pelukan ayah dan ibunya.

Di balik satu ijazah, sesungguhnya terdapat ribuan pagi ketika seorang ibu membangunkan anaknya ke sekolah. Ada ribuan perjalanan mengantar les. Ribuan percakapan yang memberi semangat ketika nilai tidak memuaskan, dan ribuan doa yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Saya tidak merasa sedang menghadiri akhir pendidikan.Saya merasa sedang menyaksikan kemenangan ketekunan.

Ketika kedua anak saya berdiri mengenakan toga, saya sadar bahwa menjadi orang tua ternyata tidak pernah mengenal kata lulus. Wisuda hanyalah kelulusan anak. Bagi orang tua, tugas itu berlangsung seumur hidup.

Mungkin itulah sebabnya tepuk tangan hari itu terdengar begitu berbeda.Ia bukan tepuk tangan untuk gelar. Ia adalah penghormatan bagi perjalanan.

-000-

Dua buku membantu memperluas cara saya memahami makna universitas dan wisuda.

The Universities of Europe in the Middle Ages, karya Hastings Rashdall, pertama kali terbit pada 1895, tetap dianggap karya klasik tentang sejarah universitas Eropa.

Rashdall menunjukkan bahwa universitas bukan lahir karena keinginan mencetak pegawai, melainkan karena kebutuhan membangun komunitas pencari kebenaran yang bebas berdialog.

Ia menjelaskan bagaimana Bologna, Paris, dan Oxford menciptakan standar akademik, gelar, serta tradisi yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Membaca buku ini membuat saya memahami bahwa wisuda bukanlah pesta seremonial, melainkan simbol keberhasilan sebuah peradaban menciptakan mekanisme pewarisan ilmu yang bertahan berabad-abad.

Buku kedua adalah The Idea of a University, karya John Henry Newman, diterbitkan pada 1852. Newman berpendapat bahwa universitas tidak boleh sekadar menghasilkan tenaga kerja.

Tugas utamanya adalah membentuk manusia yang mampu berpikir luas, menghubungkan berbagai cabang ilmu, dan mengembangkan kebijaksanaan.

Pendidikan tinggi, menurut Newman, bukan hanya soal keterampilan, melainkan pembentukan karakter intelektual. Ketika menyaksikan ribuan lulusan di London, saya merasa gagasan Newman masih sangat hidup. Gelar bukan akhir pencarian ilmu. Gelar hanyalah izin moral untuk terus belajar sepanjang hayat.

-000-

Tentu tidak semua orang memandang wisuda dengan kekaguman. Ada yang berpendapat bahwa wisuda hanyalah ritual mahal, penuh formalitas, bahkan menjadi simbol elitisme pendidikan.

Di era digital ketika pengetahuan dapat diakses dari mana saja, sebagian orang bertanya apakah toga dan prosesi panjang masih memiliki arti.

Pertanyaan itu layak dihargai. Namun justru karena ilmu kini dapat diperoleh di mana-mana, masyarakat semakin memerlukan institusi yang menjaga mutu, integritas, dan etika keilmuan.

Internet dapat menyebarkan informasi. Universitas bertugas membangun penilaian kritis terhadap informasi itu. Wisuda bukan penyembahan terhadap ijazah. Ia adalah pengingat bahwa kebebasan berpikir selalu disertai tanggung jawab intelektual.

-000-

Namun, tantangan terbesar universitas hari ini bukan lagi mempertahankan tradisi sembilan abad, melainkan memastikan bahwa kompas etika keilmuan tetap mampu menuntun manusia di tengah gempuran kecerdasan buatan.

Ketika acara selesai, para lulusan melempar topi ke udara. Orang-orang bersorak. Kamera menangkap ribuan senyum. Saya memilih berdiri beberapa langkah di belakang.

Saya membiarkan kedua anak saya menikmati momen mereka sendiri.
Di dalam hati saya hanya berbisik, beginilah rupanya waktu bekerja. Ia mengubah gendongan menjadi toga, mengubah ruang belajar menjadi panggung, dan mengubah doa-doa yang tak pernah terdengar menjadi tepuk tangan yang memenuhi aula.

Mungkin itulah sebabnya tradisi wisuda bertahan hampir sembilan abad. Ia mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya lahir dari kecerdasan, melainkan dari kesediaan setiap generasi untuk mewariskan cahaya.

Peradaban tidak menjadi abadi karena melahirkan manusia-manusia jenius. Peradaban menjadi abadi karena berhasil melembagakan ilmu, lalu menitipkannya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Ketika tepuk tangan kembali bergema memenuhi aula, saya menyadari bunyinya telah berubah.

Ia bukan lagi sekadar sambutan bagi para lulusan, melainkan gema panjang cinta orang tua, ketekunan anak, dan kemenangan sebuah peradaban yang berhasil mewariskan ilmu dari satu generasi kepada zaman selanjutnya.

Di sanalah saya mengerti, setiap wisuda sesungguhnya adalah perayaan harapan manusia yang tidak pernah berhenti dilahirkan kembali.*

London, 30 Juli 2026

Referensi

1. Hastings Rashdall. The Universities of Europe in the Middle Ages. Oxford University Press. 1895.
2. John Henry Newman. The Idea of a University. Longmans, Green & Co. 1852.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/19Poy6LQPe/?mibextid=wwXIfr