Mencintai Yesus Harus Menjadi Nomor Satu

Mencintai Yesus Harus Menjadi Nomor Satu

SALVE, mediasumatera.id – bagimu, para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Sudahkah Anda memberikan senyum, sapa dan salam kepada sesfama di sekitar kita? Jangan lupa pula untuk selalu bersyukur kepada Tuhan Sang sumber hidup.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius, 10: 34 – 11: 1, yakni Yesus membawa pemisahan; Bagaimana mengikut Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus bersabda, bahwa Ia tidak datang membawa kedamaian semata, melainkan membawa pedang. Pernyataan ini seolah bertentangan dengan citra lembut dan penuh kasih yang sering kita bayangkan. Namun, di sinilah tantangan sejati menjadi murid-Nya: berani hidup atau tampil beda, bahkan jika itu berarti terpisah dari zona kenyamanan, keluarga, atau kepentingan pribadi. Jadi, dalam bacaan Injil ini, Yesus menegaskan bahwa kelayakan sebagai murid-Nya bukan diukur dari seberapa religius kita tampil, tetapi dari keberanian kita untuk mengutamakan Dia di atas segalanya, yakni
di atas ikatan keluarga: “Barangsiapa mengasihi bapak atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Juga di atas keinginan pribadi: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Akhirnya, menjadi murid Yesus berarti berani kehilangan demi memperoleh yang kekal. Ia menutup dengan pengajaran dan pengutusan para murid, lalu melangkah ke kota-kota lain untuk melanjutkan karya-Nya. Teladan ini harus menjadi pengingat kita bahwa murid sejati tidak hanya mendengar, tetapi juga diutus dan melangkah.

Refleksikan:
1. Apakah aku sudah menempatkan Kristus sebagai pusat segalanya?
2. Apakah aku rela kehilangan demi menaati-Nya? Sebab kelayakan sebagai murid, bukanlah soal prestasi, melainkan penyerahan total dan kesediaan untuk memikul salib bersama-Nya.
Selamat berefleksi🙏🙏