PALEMBANG, mediasumatera.id — Semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan pembentukan karakter anak kembali terpancar nyata dari kegiatan kaum muda Katolik di Kota Palembang. Bertepatan dengan momentum penutupan Bulan Rosario serta perayaan Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-100, Sekolah Minggu / Bina Iman Anak (BIA) Paroki Santo Yoseph Palembang mengadakan kegiatan ziarah rohani dan bakti sosial pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Rangkaian kegiatan penuh makna ini diawali sejak pagi pukul 09.00 WIB di Gua Maria Rumah Retret Giri Nugraha, Palembang. Puluhan anak-anak Sekolah Minggu bersama para orang tua dan pendamping dengan khusyuk melantunkan doa Rosario bersama di hadapan arca Bunda Maria. Kehadiran para keluarga ini turut didampingi dan disaksikan langsung oleh Ketua Bidang Pewartaan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Yoseph Palembang, Fransiskus Untung Supriyanto.
Usai melambungkan doa dan permohonan di tempat ziarah yang tenang dan asri tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan kasih menuju Panti Werdha Dharma Bhakti yang berlokasi di kawasan Kilometer 7, Palembang. Kunjungan lintas generasi ini dirancang untuk menghadirkan sukacita sekaligus menanamkan nilai-nilai pengamalan iman secara langsung kepada para lansia penghuni panti.
Ziarah Rohani sebagai Sarana Katekese Mendalam Sejak Dini
Veronika Vivi Silviyanti, salah satu pendamping anak-anak Sekolah Minggu, menjelaskan bahwa ziarah rohani ke Gua Maria bukan sekadar kegiatan jalan-jalan atau wisata keagamaan biasa. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan sarana pembentukan iman (katekese) yang mendalam sejak dini agar tertanam benih-benih rohani yang bermakna (meaningful), menyenangkan (joyful), dan menyentuh hati (mindful).

Pengalaman religius yang impresif ini diharapkan menjadi fondasi batin yang kokoh bagi anak-anak. Melalui bimbingan Bunda Maria, mereka dibimbing untuk tumbuh menjadi pribadi yang berbelas kasih, taat pada nilai-nilai kebaikan, serta memiliki relasi yang intim dengan Kristus.
Lebih lanjut, ziarah rohani ini memiliki esensi dan tujuan strategis dalam tumbuh kembang anak, yang mencakup:
• Mengenal Maria sebagai Teladan Iman: Menempatkan Bunda Maria sebagai sosok ibu rohani yang penuh kasih, lembut, dan selalu mendengarkan, serta mengarahkan anak-anak kepada pesan utama Kristus: “Perbuatlah apa yang dikatakan-Nya kepadamu” (Yohanes 2:5).
• Menghayati Perjalanan Iman (Pilgrimage): Mengajarkan bahwa kehidupan kristiani adalah sebuah perjalanan menuju Tuhan, di mana usaha fisik dalam perjalanan menyadarkan anak bahwa mendekati Sang Pencipta membutuhkan komitmen dan kemurnian niat hati.

• Membangun Suasana Kontemplatif: Memberikan ruang bagi anak untuk lepas sejenak dari rutinitas harian di tengah suasana Gua Maria yang tenang, sejuk, dan sakral untuk merasakan kesucian tempat berdoa.
• Menumbuhkan Keakraban Berdoa: Membiasakan anak-anak untuk tekun berdoa Rosario, menyampaikan intensi doa pribadi, serta menyalakan lilin doa sebagai simbol pengharapan.
• Pendidikan Karakter & Moral berbasis 6C dan Deep Learning: Melatih rasa hormat, ketenangan, serta kesopanan (reverence) di tempat suci (aspek Empathy & Character), sekaligus membangun rasa persaudaraan yang erat sesama anak Katolik (aspek Community).
Menggemakan Semangat Misioner: Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian
Setibanya di Panti Werdha Dharma Bhakti, suasana langsung berubah menjadi meriah dan hangat. Kehadiran anak-anak Sekolah Minggu yang ceria berhasil menghibur para lansia yang akrab disapa para “Oma” dan “Opa” sehingga senyum kebahagiaan tampak jelas di wajah para penghuni panti.
Dalam sambutannya, Ketua Seksi Bina Iman Anak (BIA) Santo Yoseph Palembang, Maria Jelita Tinambunan (MJ), menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan wujud nyata dari perpaduan antara devosi rohani dan aksi nyata di tengah masyarakat.
“Kita berkumpul di sini dalam suasana bulan Rosario, berdoa bersama di Gua Maria, lalu melanjutkan kunjungan kasih ke Oma dan Opa dalam rangka Hari Minggu Misi Sedunia Keseratus. Melalui momen ini, mari kita ingat kembali esensi dari dua D dan dua K, yaitu: Doa, Derma, Kurban, dan Kesaksian,” ujar Maria Jelita di hadapan para peserta.

Ia menambahkan bahwa umat beriman, khususnya generasi muda, dipanggil untuk tidak sekadar berdoa secara ritual, melainkan harus mewujudkannya melalui tindakan berderma, rela berkorban bagi sesama, dan menjadi saksi-saksi Kristus di dunia nyata. Kehadiran mereka di panti jompo tersebut adalah bentuk nyata kepedulian untuk menghibur para lansia, meskipun bingkisan yang dibawa sederhana namun sarat akan cinta kasih.
Apresiasi dari Pihak Panti Werdha dan Harapan Masa Depan
Kegiatan bakti sosial ini disambut dengan penuh sukacita oleh pihak pengelola panti. Mewakili pengurus Panti Werdha Dharma Bhakti, Sr. Tekla, FCh menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam atas perhatian dan curahan kasih sayang yang diberikan oleh para orang tua serta anak-anak Sekolah Minggu Santo Yoseph Palembang.
Ia menyebutkan bahwa saat ini terdapat 52 orang lansia yang tinggal dan dirawat di panti tersebut. Bagi para dermawan yang tergerak hatinya untuk memberikan bantuan lanjutan, Sr. Tekla mempersilakan untuk menghubungi Sr. Paulin selaku pengurus panti.

“Saya mendoakan semoga anak-anak Sekolah Minggu ini senantiasa tumbuh menjadi anak-anak yang berbudi pekerti luhur, dikaruniai kebahagiaan yang melimpah, serta kelak menjadi anak-anak Allah yang membawa terang bagi sesama,” tutur Sr. Tekla penuh haru.
Menutup rangkaian acara, Maria Jelita selaku Ketua Seksi BIA menyerahkan secara simbolis berbagai bingkisan tanda kasih yang dikumpulkan dari partisipasi anak-anak dan orang tua Sekolah Minggu. Melalui kegiatan terpadu ini, Paroki Santo Yoseph Palembang berharap dapat terus mencetak generasi muda yang memiliki kecerdasan spiritual, kepekaan sosial tinggi, serta karakter yang matang dalam menyebarkan kasih Kristus di tengah masyarakat luas.(daris)







