OPINI Oleh : Vinencia Ika Indralin., S.Pd.Gr
SD Negeri 112 Palembang
mediasumatera.id – Peningkatan literasi murid merupakan salah satu tantangan penting dalam dunia pendidikan saat ini. Literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup keterampilan berpikir kritis, memahami informasi, dan menggunakannya secara tepat dalam berbagai konteks kehidupan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dituntut menghadirkan pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, serta relevan dengan kebutuhan zaman. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah mengintegrasikan berpikir komputasional dalam kegiatan literasi.
Berpikir komputasional sendiri mencakup empat keterampilan utama, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, algoritma, dan evaluasi. Keempat keterampilan ini dapat membantu murid menguraikan permasalahan, menemukan keteraturan, menyusun langkah penyelesaian, sekaligus menilai efektivitas solusi yang dipilih. Dalam praktiknya, pendekatan ini mampu melatih murid untuk tidak hanya memahami bacaan secara tekstual, tetapi juga menganalisis dan menghubungkannya dengan konteks nyata.
Sebagai implementasi, kegiatan ini memanfaatkan media permainan edukatif yang diberinama ULTAKO (Ular Tangga Koding). Media ini berbentuk papan ular tangga dengan kotak bernomor 1–30, dilengkapi jalur ular dan tangga yang menambah unsure hiburan sekaligus tantangan. Setiap kotak pada papan tidak hanya berfungsi sebagai langkah permainan, tetapi juga mengandung instruksi yang terhubung dengan kartu tantangan. Kartu tantangan berisi pertanyaan atau aktivitas yang dirancang berdasarkan cerita film MARS dengan tokoh utama Sekar Palupi. Film ini dipilih karena sarat dengan nilai perjuangan, ketekunan, dan pentingnya pendidikan, sehingga relevan untuk meningkatkan motivasi dan literasi murid.

Melalui permainan ULTAKO, murid tidak hanya diminta menjawab pertanyaan seputar alur cerita, tokoh, konflik, maupun pesan moral dari film, tetapi juga diajak menghubungkannya dengan konsep berpikir komputasional. Misalnya, saat menjawab soal dekomposisi, mereka belajar memecah konflik besar dalam cerita menjadi bagian-bagian kecil.
Saat menemukan pola, mereka berlatih mengenali kesamaan sikap tokoh dalam menghadapi tantangan. Pada bagian algoritma, murid diminta menyusun langkah-langkah solusi dari masalah yang dihadapi tokoh secara logis. Sedangkan evaluasi dilakukan dengan cara menilai kembali keputusan tokoh serta membandingkannya dengan alternatif lain yang lebih tepat.
Kegiatan ini menggabungkan aspek literasi dengan pengalaman belajar yang menyenangkan dan menantang. Dengan memanfaatkan media papan permainan dan kartu tantangan, pembelajaran tidak terasa kaku, tetapi justru mendorong partisipasi aktif seluruh murid. Mereka belajar sambil bermain, berdiskusi, dan berkompetisi sehat. Pada saat yang sama, guru dapat menilai keterampilan kognitif, afektif, maupun psikomotor secara komprehensif. Dikarenakan pada kurikulum yang berlaku mata pelajaran KKA (Koding Kecerdasan Artifisial) sudah menjadi mata pealajaran wajib pada jenjang Sekolah Dasar meskipun sifatnya adalah Un-plugged (tanpa menggunakan perangkat computer).
Namun kemampuan koding ini baik diterapkan untuk melatih berpikir kritis murid.
Hasil dari kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan daya analisis murid, sekaligus menumbuhkan kecakapan berpikir komputasional. Lebih jauh, kegiatan ini menumbuhkan kerjasama, kreativitas, penalaran kritis, serta kemampuan berkomunikasi. Dengan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning), murid tidak sekadar menghafal isi cerita, melainkan benar-benar memahami makna dan mampu mengaitkannya dengan konteks kehidupan nyata.
Dengan demikian, inovasi literasi melalui media ULTAKO dan kartu tantangan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran dapat dirancang secara kreatif dan menyenangkan tanpa meninggalkan substansi. Pendekatan berbasis komputasional tidak hanya relevan untuk mata pelajaran informatika, tetapi juga dapat diintegrasikan dalam literasi bahasa dan pendidikan karakter. Harapannya, kegiatan ini mampu melahirkan generasi pembelajar yang literat, kritis, kreatif, serta siap menghadapi tantangan abad ke-21.







