Menjadi Ragi Yang Baik

Menjadi Ragi Yang Baik

SEMANGAT PAGI, mediasumatera.id – para saudaraku ytk. Apa kabar para saudaraku di hari ini? Saya berharap para saudaraku dalam keadaan sehat dan bahagia. Jangan lupa untuk selalu mengawali hari dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 8: 14 – 21, yakni tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Hal ini memiliki makna simbolis yang merujuk pada pengaruh buruk dan ajaran yang menyesatkan dari kedua kelompok tersebut, yakni kelompok orang Farisi dan kelompok orang Herodes. Oleh karena itu, dengan memperingatkan para murid-Nya terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes, Yesus mau mengingatkan mereka untuk waspada terhadap ajaran dan pengaruh yang dapat merusak iman dan pengabdian sejati mereka kepada Tuhan. Tetapi, para murid-Nya salah menafsir dengan apa yang disampaikan oleh Yesus. Mereka mengira ragi yang disampaikan oleh Yesus adalah ragi yang ditambahkan pada adonan roti, sehingga mereka mengaitkan dengan sebuah roti yang mereka bawa sebagai bekal. Oleh karena itulah, Yesus mengatakan kepada mereka: telah degilkah hatimu? Mengapa Yesus mengatakan demikian kepada mereka? Karena mereka tidak menangkap dan memahami apa yang Yesus sampaikan. Mereka degil hati karena mereka masih kurang percaya kepada Yesus. Mereka degil hati karena mereka tidak mampu melihat dengan mata indrawi, mata hati dan mata iman akan mukjizat penggandaan roti yang dilakukan oleh Yesus untuk dimakan oleh lima dan empat ribu orang, hanya dengan lima dan tujuh roti saja. Mereka degil hati karena tidak mampu melihat ke-Allah-an dalam diri Yesus.

Bagaimana dengan kita? Adakah hati kita juga telah degil? Dalam konteks hidup kita dewasa ini adalah jangan sampai kita menjadi ragi Farisi dan ragi Herodes bagi sesama. Dalam hal ini adalah ragi kemalasan, ragi ketidakdisiplinan, ragi ketidaktaatan, ragi keapatisan atau ragi kecuekan, ragi ketidakpedulian, ragi kesombongan dan ragi kemunafikan. Jika ragi-ragi ini mendarah daging dalam diri kita, alias tidak berubah, maka bisa mempengaruhi hidup orang lain. Yang perlu digarisbawahi adalah ragi orang Farisi dan ragi Herodes yang kuat adalah ragi kemunafikan dan ragi mengikuti kesenangan diri atau duniawi. Maka, mari kita menjadi “ragi” yang baik, yang memberikan cita rasa yang lezat, nikmat, dan memberikan aroma yang wangi, sedap di keluarga, di komunitas, dan di tempat kerja kita masing-masing serta di masyarakat. Jadilah ragi yang menginspirasi, ragi yang dapat memengaruhi hal-hal yang baik lewat teladan hidup kita. Dan sebaliknya, jangan sampai kita menjadi ragi yang kurang baik, ragi yang merusak atau membusuk serta menjadi degil hati. Semoga demikian 🙏🙏

Baca Juga :  Minta Dimaafkan