PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Dalam suasana yang penuh penghayatan dan kerinduan akan Kasih Allah, jemaat GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar melaksanakan ibadah Jumat Agung pada hari Jumat tanggal 18 April 2025 jam 9:00 pagi di halaman gereja. Ibadah ini berlangsung di luar ruangan karena saat ini gereja sedang dalam proses renovasi untuk meningkatkan kenyamanan dalam beribadah dan mempererat kebersamaan di antara jemaat. Sekitar 500 orang jemaat memadati tempat ibadah sejak pagi hari, mengikuti rangkaian ibadah Jumat Agung.
Kendati kondisi gedung belum sepenuhnya rampung, umat tetap datang dengan penuh semangat, menunjukkan betapa pentingnya makna Jumat Agung dalam kehidupan iman mereka. Perjamuan Kudus yang dilaksanakan menjadi simbol nyata dari pengorbanan Kristus, kasih yang tak terbatas, Kasih yang Maharahim dan Mahasuci.
Perayaan Jumat Agung dalam sejarah gereja telah dilaksanakan sejak tahun 34 M. Sebagai suatu warisan iman yang mengingatkan bahwa peristiwa kematian (penyaliban) Yesus benar-benar terjadi dalam sejarah dunia. Peristiwa kematian Yesus Kristus bukan sebuah cerita legenda (dongeng) tentang sebuah model kebaikan.
Peristiwa kematian (penyaliban) Yesus benar-benar dicatat dalam dokumen kekaisaran Romawi. Seorang penulis sejarah Yahudi yang bernama Josephus Flavius juga mencatatnya dalam bukunya tentang penyaliban Yesus.
Jumat Agung bermakna tentang pemberian Cinta Kasih Allah yang Maharahim. Mahasuci dan agung. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pemberian Kasih Allah dalam kematian dan kebangkitan Kristus Yesus.

Ibadah dipimpin oleh Pendeta TMT Simamora dengan tema “Yesus Menyerahkan NyawaNya,” yang diambil dari Markus 15:33 – 41. Dalam kotbahnya, Pdt. TMT Simamora, MTh mengingatkan semua orang percaya bahwa salib bukan saja peristiwa bermakna kematian. Tapi juga tentang penolakan yang menimbulkan perasaan tersisih (punjung dalam bahasa Batak). Dunia menolak Yesus bahkan langit atau surga pun menolaknya karena Yesus yang tidak berdosa menanggung dosa.
Tergantung di salib sebagai tanda ditolak dunia dan tidak diterima langit. Yesus merasa ditinggalkan. Ditinggalkan oleh manusia yang dikasihi-Nya dan Bapa yang mengutus-Nya. Yesus berseru: Eli, Eli lama Sabakhtani [Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku]. Martin Luther seorang bapa gereja Protestan bertanya makna seruan Yesus itu. Apakah mungkin Allah meninggal Allah? Ya.. KeAllahan Yesus meninggalkan kemanusiaan-Nya. KeAllahan Yesus meninggalkan kemanusiaan-Nya menjadikan penderitaan-Nya sungguh nyata. KeAllahan Yesus meninggalkan kemanusiaan-Nya menimbulkan rasa tersingkirkan dan tersisihkan. Semua itu menjadikan penebusan Kristus Yesus untuk dosa manusia menjadi begitu berharga dan nyata.
Penyaliban dan seruan Yesus di kayu salib membuktikan bahwa cinta Allah itu begitu agung dan suci. Tidak Kasih yang seperti itu.
Jumat Agung mengingatkan kita agar semua orang percaya kepada Kasih Allah dan mau hidup dalam Cinta Allah. Kasih dan Cinta Allah yang membuat kita hidup. Bukan hanya mencintai Allah tapi hiduplah dalam Cinta Allah.
Ibadah berlangsung dengan penuh penghayatan dan disertai Perjamuan Kudus, sebagai lambang Kasih Allah yang tak terhingga bagi umat-Nya. Dalam suasana yang sederhana namun syahdu, jemaat merayakan momen sakral ini sebagai peringatan akan kematian dan kebangkitan Kristus, yang menjadi inti dari iman Kristen.
Meski dalam keterbatasan fisik bangunan, suasana batin umat justru diliputi kelimpahan Kasih dan sukacita. Ibadah Jumat Agung ini membuktikan bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan hati yang mau menyembah dan hidup dalam Kasih Allah.
Kehadiran ratusan jemaat yang rela berdesak-desakan menjadi gambaran nyata betapa umat rindu dan haus akan firman Tuhan serta penguatan rohani dalam mengenang karya keselamatan di kayu salib.
Di akhir ibadah, suasana haru menyelimuti tempat ibadah ketika jemaat menerima Perjamuan Kudus dalam hening, diiringi nyanyian lembut yang meneguhkan iman dan membawa banyak yang menitikkan air mata.

✝️ Ibadah Kedua Pukul 14.00: Mengenang Kematian Tuhan Yesus
Rangkaian ibadah dilanjutkan pada pukul 14.00 WIB, dengan kebaktian siang mengenang kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Dalam suasana yang tenang dan reflektif, jemaat diajak merenungkan penderitaan Yesus Kristus yang ditolak oleh dunia, ditinggalkan oleh manusia yang dikasihi-Nya, bahkan mengalami kesunyian dari Bapa yang mengutus-Nya.
Kesadaran iman jemaat akan agungnya Cinta Allah. Bahwa di tengah penderitaan dan penolakan, Kasih itu tetap memberi. Dari kayu salib, mengalir pengampunan. Dari luka, lahir keselamatan.
Ibadah Jumat Agung ini berlangsung dengan penuh berkat, ditutup dengan nyanyian pujian dan doa syafaat. Jemaat pulang dengan hati yang dikuatkan dan diberkati, siap untuk terus menyatakan cahaya kemuliaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi jemaat dan donatur yang tergerak untuk memberikan bantuan bagi renovasi GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, dapat menyalurkan donasi melalui:
Rekening Donasi:
🏦 Bank: Bank SUMUT
💳 Nomor Rekening: 22002040465521
📌 Atas Nama: PANPEM GKPI JK Immanuel
Setiap dukungan yang diberikan, baik besar maupun kecil, akan sangat berarti bagi pembangunan rumah Tuhan. Tuhan memberkati setiap tangan yang memberi dengan sukacita.
“Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kita lebih besar dari segala allah. Tetapi siapakah yang mampu mendirikan rumah bagi-Nya, karena langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku mampu mendirikan rumah bagi-Nya, kecuali hanya untuk membakar korban di hadapan-Nya?”
(2 Tawarikh 2:5-6)
Soli Deo Gloria.
(VIP)







