mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita jangan merasa diri paling hebat. Karena sejatinya, sehebat apapun kita, entah jabatan, status, gelar atau titel, namun di hadapan Tuhan, semuanya itu tidak ada artinya, sebab kita memiliki keterbatasan.
Renungan hari terinspirasi dari Injil Markus 11: 27 – 33, yakni pertanyaan mengenai kuasa Yesus.
Para saudaraku, para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua datang bukan untuk belajar, melainkan menjebak Yesus. Pertanyaan mereka tampak sahih: “Dengan kuasa apakah Engkau melakukan hal-hal itu?”. Namun Yesus membalik keadaan dengan pertanyaan sederhana: “Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?”. Sekejap, mereka terjebak dalam jebakan sendiri. Jika menjawab “dari surga,” mereka dituduh tidak percaya. Jika “dari manusia,” mereka takut pada orang banyak. Akhirnya keluar jawaban paling jujur sekaligus memalukan: “Kami tidak tahu.” Sesungguhnya, “tidak tahu” bukanlah kelemahan. Kelemahan mereka justru ketidakmauan mengakui keterbatasan. Jabatan, gelar, atau status setinggi apa pun tidak menghapus fakta bahwa kita tetap makhluk terbatas di hadapan Sang Khalik. Kesombongan membuat mereka pura-pura tahu, menutup HATI, dan kehilangan kesempatan bertemu Tuhan. Kita pun sering ingin Tuhan masuk ke dalam kotak logika kita: menuntut jawaban atas sakit, rezeki, atau doa yang tertunda. Padahal, panggilan iman adalah merendahkan diri, bukan menuntut.Belajarlah dari filosofi tanaman padi, semakin berisi, semakin merunduk. Atau juga belajarlah dari pohon bambu, semakin tinggi, semakin menunduk ditiup angin. Oleh karena itu, kita pun semakin tinggi jabatan, semakin banyak gelar, titel, semakin besar kuasa, justru semakin perlu rendah HATI.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, Tuhan tidak menolak keterbatasan kita, Ia menolak kesombongan yang berpura-pura tak terbatas. Maka beranilah berkata: “Aku tidak tahu, Tuhan. Ajarilah aku.” Sebab hanya HATI yang rendah dan merunduk seperti padi dan bambu yang cukup lapang untuk menerima jawaban dari surga. Akhirnya, jangan menguji Tuhan dengan kepintaranmu. Tetapi sembahlah Dia dengan kerendahan hatimu.
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah saya berani mengakui keterbatasan diri di hadapan Tuhan, atau justru sering berpura-pura tahu?
2. Bagaimana sikap hati saya ketika diberi jabatan, gelar, atau kedudukan—apakah semakin tinggi justru semakin rendah hati?
3. Apakah doa dan pergumulan saya sering menuntut Tuhan masuk dalam logika saya, atau membuka ruang bagi karya-Nya yang tak terbatas?
Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan, ajarilah aku untuk rendah HATI di hadapan-Mu. Seperti padi yang berisi dan merunduk, seperti bambu yang tinggi namun menunduk,
biarlah aku tidak sombong dengan jabatan, gelar, atau kuasa. Aku mengakui keterbatasanku, dan hanya kepada-Mu aku berserah. Bimbinglah aku agar selalu lapang menerima karya-Mu yang tak terbatas. Amin.



