mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kita pun bisa menjadi anggota keluarga Yesus, walau tidak memiliki hubungan darah, tetapi melalui hubungan spiritual atau rohani. Kuncinya adalah melakukan kehendak Allah, lewat kata dan tindakan yang nyata: berbuat baik, mengampuni tanpa syarat, mengasihi dengan tulus dan melayani tanpa pamrih, seperti yang Tuhan Yesus sendiri lakukan.
Renungan hari ini diilhami dari Injil Markus 3: 31 – 35, yakni Yesus dan sanak saudara-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menyingkapkan sebuah kebenaran yang mengubah cara pandang kita tentang keluarga. Ketika ibu dan saudara-saudara-Nya datang mencari Dia, Yesus memandang orang-orang di sekeliling-Nya dan berkata: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku, saudari-Ku, dan ibu-Ku.” Dengan kata-kata ini, Yesus tidak menolak keluarga jasmani-Nya, melainkan memperluas makna keluarga ke dalam ikatan spiritual atau rohani. Hubungan darah memang penting, tetapi yang terutama adalah hubungan spiritual yang lahir dari ketaatan kepada Allah. Yesus sendiri telah lebih dahulu memberikan teladan melalui ketaatan-Nya yang penuh kepada kehendak Bapa. Demikian pula dengan Maria, Ibu-Nya, menjadi teladan sempurna melalui fiat-nya: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38). Jadi, dengan kerendahan HATI, ia membuka jalan bagi rencana keselamatan Allah. Juga, Yusuf, suami Maria, telah menunjukkan ketaatannya melalui kesediaannya menerima titah Tuhan, meski penuh misteri dan tantangan. Dari mereka kita belajar bahwa kunci untuk melakukan kehendak Allah adalah sikap lemah lembut dan rendah HATI. Maka, menjadi anggota keluarga Yesus bukanlah soal silsilah atau tradisi, melainkan kesediaan untuk mendengar dan melakukan kehendak Allah, menghadirkan KASIH-Nya dalam kata dan perbuatan nyata. Setiap orang yang hidup dalam ketaatan, yang membiarkan firman Allah berbuah dalam kehidupannya, diakui Yesus sebagai saudara, saudari, bahkan ibu bagi-Nya. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pengikut, tetapi sungguh anggota keluarga Allah yang sejati, terhubung dalam ikatan spiritual atau rohani yang melampaui dunia.
Pertanyaan refleksi
1. Bagaimana saya selama ini berusaha melakukan kehendak Allah dalam kata dan perbuatan sehari-hari?
2. Apa sikap lemah lembut dan rendah HATI yang perlu saya latih agar semakin layak menjadi anggota keluarga Yesus?
3. Dalam hal apa saya bisa meneladani ketaatan Yesus, Maria, dan Yusuf untuk semakin dekat dengan Allah?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus,
Terima kasih karena Engkau mengundang kami menjadi keluarga-Mu. Ajarlah kami taat dan rendah HATI, seperti Engkau, Maria, dan Yusuf, agar hidup kami selalu menghadirkan kasih-Mu. Amin.







