mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita cenderung fokus hanya mengejar atau ingin mengumpulkan atau menyimpan harta duniawi yang sifatnya sementara. Dan jarang kita memikirkan harta surgawi. Karena kita selalu berpikir untuk harta surgawi nanti saja, kita lebih prioritas mengumpulkan harta duniawi dahulu. Padahal hidup kita di dunia ini juga sementara, tetapi kita justru mati-matian bekerja keras bahkan dengan cara yang tidak jujur pun untuk mengumpulkan bisa dilakukan. Oleh karena itu akan bijaksana kalau seimbangkan antara mengumpulkan harta duniawi dan surgawi. Bahkan harta duniawi bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengumpulkan harta surgawi.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 12: 13 – 21, yakni orang kaya yang bodoh. Para saudaraku, di tengah perselisihan tentang warisan, Yesus mengingatkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada pembagian harta: “Hati-hatilah terhadap segala ketamakan, karena hidup seseorang tidak bergantung pada kekayaannya.” Lalu Ia menceritakan tentang seorang kaya yang panennya melimpah. Ia sibuk memperbesar lumbungnya agar dapat menyimpan lebih banyak hasil. Namun dalam semua rencananya, tidak ada tempat bagi Allah dan tidak ada perhatian kepada sesama. Ia merasa masa depannya aman karena hartanya banyak. Tetapi malam itu juga nyawanya diambil, dan semua yang dikumpulkannya tidak lagi berarti baginya. Perumpamaan ini tidak mengajarkan bahwa harta itu jahat atau bahwa orang beriman tidak boleh menabung, berinvestasi, atau merencanakan masa depan. Yang dikritik Yesus adalah HATI yang menggantungkan seluruh rasa aman pada kekayaan dan menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Harta memang penting, tetapi harta tidak pernah dapat menyelamatkan jiwa. Uang dapat membeli kenyamanan, tetapi tidak dapat membeli hidup kekal. Lumbung dapat menyimpan gandum, tetapi tidak dapat menyimpan nyawa. Pesan ini terasa sangat relevan bagi manusia modern. Kita hidup dalam budaya yang mendorong kita terus mengejar lebih banyak: penghasilan lebih besar, aset lebih banyak, investasi lebih tinggi, dan gaya hidup yang semakin mewah. Tanpa disadari, sebagian besar tenaga, waktu, dan pikiran kita habis untuk mengumpulkan harta duniawi, sementara perhatian terhadap harta surgawi semakin berkurang. Kita rajin memperbesar rekening, tetapi sering lupa memperbesar kepedulian. Kita cemas kehilangan kekayaan, tetapi kurang cemas kehilangan kesempatan untuk berbuat KASIH. Padahal, harta duniawi yang kita kumpulkan sesungguhnya dapat menjadi sarana untuk mengumpulkan harta surgawi. Ketika diperoleh dengan jujur, dikelola dengan bijaksana, dan digunakan untuk menolong sesama, harta menjadi alat KASIH yang mendatangkan BERKAT. Tuhan mempercayakan harta kepada kita bukan hanya untuk dinikmati, melainkan juga untuk dibagikan. Dengan membantu yang berkekurangan, meringankan beban sesama, dan bermurah HATI kepada yang membutuhkan bantuan, kita sedang menabung di lumbung yang tidak akan pernah rusak oleh waktu. Orang yang kaya di hadapan Allah bukanlah orang yang memiliki paling banyak, melainkan orang yang mampu menjadikan miliknya sebagai BERKAT bagi banyak orang. Sebab pada akhirnya yang akan menyertai kita bukanlah apa yang berhasil kita simpan, melainkan KASIH yang telah kita lakukan.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, suatu hari kita akan meninggalkan semua yang kita miliki. Rekening, rumah, tanah, kendaraan, dan berbagai pencapaian akan tetap tinggal di dunia. Yang akan berbicara di hadapan Tuhan bukanlah besarnya kekayaan kita, melainkan besarnya KASIH yang telah kita bagikan.
Maka sebelum hari ini berakhir, tanyakanlah kepada diri sendiri: Apakah hartaku hanya tersimpan di lumbung dunia, atau sudah berubah menjadi BERKAT bagi sesama? Apakah aku sibuk mengumpulkan harta yang akan tertinggal, atau sedang menabung harta yang akan menuntunku kepada kekekalan?
Simpanlah harta dengan bijaksana, tetapi jangan pernah menyimpan hatimu di dalam harta. Kejarlah rezeki dengan tekun, tetapi kejarlah juga kekayaan kasih yang tidak akan pernah lenyap. Sebab pada akhirnya, bukan harta yang kita miliki yang menyelamatkan jiwa, melainkan kasih yang kita wujudkan melalui harta yang Tuhan percayakan kepada kita. Itulah harta surgawi yang tidak akan pernah hilang dan akan berbuah sampai kepada hidup yang kekal. Amin
Pertanyaan Refleksi
Pertanyaan Refleksi
1. Apa yang sedang lebih banyak kuperbesar saat ini: rekeningku atau hatiku?
2. Apakah harta yang Tuhan percayakan kepadaku sudah menjadi BERKAT bagi sesama yang membutuhkan?
3. Jika Tuhan memanggilku hari ini, harta apa yang akan kubawa: tumpukan kekayaan duniawi atau buah KASIH yang telah kubagikan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan yang Mahabaik,
Engkau telah mengingatkan kami bahwa hidup tidak bergantung pada banyaknya harta yang kami miliki. Ajarlah kami untuk bekerja dengan jujur, mengelola berkat-Mu dengan bijaksana, dan menggunakan apa yang kami miliki untuk berbagi dengan sesama. Jangan biarkan HATI kami melekat pada harta duniawi, tetapi arahkanlah kami untuk mengumpulkan harta surgawi melalui kasih dan kebaikan. Semoga kami semakin kaya di hadapan-Mu dan setia berjalan menuju hidup yang kekal. Amin.






