Renungan hari ini: Nama Adalah Identitas Diri

Renungan hari ini: Nama Adalah Identitas Diri

mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Setiap kita, pasti memiliki nama yang diberikan oleh Tuhan melalui orang tua kita. Namun yang perlu disadari bahwa nama kita adalah identitas jati diri kita. Jadi, tidak hanya sekedar nama, tetapi memiliki makna, dan lebih dari itu adalah simbol identitas diri kita. Itulah juga yang terjadi pada nama Yohanes Pembaptis yang kita rayakan hari kelahirannya pada hari ini.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 1: 57 – 66. 80, yakni kelahiran Yohanes Pembaptis. Para saudaraku,
di rumah sederhana di Yudea, Elisabet melahirkan seorang anak di usia senja. Saat hari kedelapan tiba, keluarga ingin menamainya Zakharia, sesuai tradisi. Namun Zakharia menuliskan: “Namanya Yohanes.” Keputusan ini mengejutkan semua orang, sebab nama itu bukan warisan keluarga, melainkan perintah Tuhan melalui malaikat.Nama Yohanes berarti “Anugerah Tuhan.” Nama bukan sekadar huruf, melainkan doa, harapan, dan identitas. Orang bijak berkata: nomen est omen nama adalah pertanda. Identitas sejati bukan ditentukan oleh tradisi, jabatan, profesi, atau status sosial, melainkan diberikan Tuhan melalui orang tua kita. Zakharia baru dapat berbicara kembali ketika ia taat pada kehendak Allah. Dari sini kita belajar: mukjizat terjadi saat kita berani menerima identitas yang Tuhan tetapkan, bukan yang dunia paksa. Nama kita adalah panggilan Ilahi, bukan label dunia.Petrus berarti “batu karang” dan dipanggil menjadi dasar Gereja. Matius berarti “pemberian Tuhan” dan dipanggil menulis Injil Atau Donatus yang berarti yang dikaruniakan bagi orang lain. Demikian pula dengan nama Yohanes berarti “anugerah Tuhan” dan dipanggil mempersiapkan jalan bagi Kristus. Pun juga dengan nama kita masing-masing mengandung: doa yang hidup, dan identitas misi.

Baca Juga :  Yesus Mengecam Orang Yang Munafik

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, suatu hari, ketika nama kita dipanggil dari kitab kehidupan, Tuhan tidak akan menanyakan jabatan atau status kita. Ia akan bertanya: “Sudahkah engkau hidup sesuai dengan nama yang Kuberikan?” Hiduplah seturut nama itu. Biarlah setiap kali orang menyebut nama kita, mereka tidak hanya mengingat siapa diri kita, tetapi juga mengingat KASIH, KESETIAAN, dan KEMURAHAN Tuhan yang memberi nama itu. Karena pada akhirnya, nama adalah identitas, dan identitas sejati kita adalah milik-Nya.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya sungguh mengenal makna nama saya sebagai doa dan anugerah Tuhan, bukan sekadar panggilan sehari-hari?
2. Apakah saya lebih sering mendefinisikan diri berdasarkan jabatan, profesi, atau status sosial daripada identitas sejati yang Tuhan berikan?
3. Bagaimana saya dapat hidup seturut nama yang Tuhan sematkan, sehingga setiap kali nama saya disebut orang lain, mereka melihat kasih dan kemurahan-Nya?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang Mahapengasih,
Engkau telah memberi kami nama sebagai anugerah dan identitas sejati. Jauhkanlah kami dari godaan dunia yang ingin menentukan siapa kami. Ajarlah kami untuk hidup sesuai dengan nama yang Kautetapkan, agar setiap kali nama kami disebut, orang melihat KASIH dan kesetiaan-Mu.
Sebab nomen est omen nama adalah pertanda,
dan pertanda itu adalah Engkau sendiri yang menyertai hidup kami.
Amin.