mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dunia mengajarkan kita untuk balas dendam, tetapi Yesus mengajarkan sebaliknya, untuk tidak boleh balas dendam. Dia mengajarkan untuk mengasihi musuh-musuh kita.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 12: 14 – 21, yakni Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat dan Yesus hamba Tuhan. Para saudaraku, manusia modern hidup dalam budaya balas dendam. Kata-kata pedas di media sosial, sindiran halus, pamer kebahagiaan palsu, semua menjadi senjata untuk melukai balik. Kita sering menyamarkan dendam dengan istilah “menuntut keadilan” atau “membalas setimpal.” Namun Injil hari ini menyingkapkan jalan yang berbeda. Orang Farisi bersekongkol untuk membunuh Yesus. Ia tahu maksud mereka, tetapi tidak melawan dengan kekerasan. Ia memilih menyingkir, bukan karena takut, melainkan karena KASIH lebih kuat daripada BALAS dendam. Inilah revolusi Yesus: martabat kita tidak ditentukan oleh perlakuan orang lain, melainkan oleh identitas kita sebagai anak-anak Allah. Di kayu salib, ketika dunia menuntut balasan, Yesus justru berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Nabi Yesaya menubuatkan: “Ia tidak akan mematahkan buluh yang terkulai, dan Ia tidak akan memadamkan sumbu yang pudar.” Energi yang bisa dipakai untuk membalas, Ia pakai untuk memulihkan. Itulah kekuatan KASIH.
Pesan untuk Kita
Para saudaraku, dendam adalah RACUN yang kita minum dengan harapan orang lain mati, padahal yang mati adalah kedamaian kita sendiri. Tidak membalas bukan berarti lemah, melainkan membebaskan diri dari penjara kebencian. Berdoa bagi musuh bukan karena mereka layak, tetapi karena kita layak menerima damai. Budaya modern berkata: “Balaslah!” Tetapi Yesus berkata: “Serahkan kepada-Ku.” Diam bukan kekalahan, melainkan kemenangan yang lebih agung: tetap MENGASIHI ketika dibenci, tetap memberkati ketika dikutuk, tetap memulihkan ketika dunia merusak. Jadi, kemenangan sejati bukanlah saat musuh jatuh, melainkan saat HATI kita bebas dari dendam. Karena hanya KASIH yang mampu menyembuhkan luka, baik luka kita maupun luka orang yang melukai kita.
Pertanyaan Refleksi
1. Bagaimana aku merespons ketika diperlakukan tidak adil, apakah dengan dendam atau dengan doa?
2. Apakah media sosial menjadi panggung balas dendamku, atau justru sarana untuk menyebarkan KASIH?
3. Siapa yang perlu aku doakan hari ini agar hatiku bebas dari RACUN kebencian?
4. Apakah aku hari ini memilih untuk membalas dendam, atau memilih untuk memulihkan?
Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan
Doa Singkat
Tuhan Yesus,
Engkau tidak membalas kejahatan dengan dendam, tetapi dengan KASIH.
Ajari aku untuk menyingkir dari racun kebencian, membebaskan HATI dari bara dendam,
dan memilih jalan doa serta pengampunan. Bila aku disakiti, kuatkan aku untuk tetap MENGASIHI.
Bila aku dilukai, pulihkan aku dengan damai-Mu. Jadikan hidupku SAKSI bahwa kemenangan sejati
ada dalam KASIH yang memulihkan, bukan balas dendam. Amin.



