mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Sehebat apapun kita, tanpa Tuhan kita bukan siapa-siapa. Kita bercermin dari Simon Petrus seorang nelayan profesional, namun gagal menangkap ikan semalam suntuk. Lalu, saat Tuhan hadir di saat fajar, menyuruh Simon Petrus menebarkan jala di sebelah kanan dan Simon Petrus taat, baru lah mendapatkan ikan dalam jumlah yang banyak.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 21: 1 – 14, yakni Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan malam yang hampa di Danau Tiberias berubah menjadi fajar penuh BERKAT ketika Simon Petrus, dan teman-temannya menuruti perintah Yesus: “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan.” Dari kegagalan total, mereka beroleh kelimpahan. Saat itulah mereka sadar: Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Perintah Yesus sederhana, namun sarat makna. Dulu Ia berkata: “Bertolaklah ke tempat yang dalam.” Kini Ia hanya meminta: “Tebarkan di sebelah kanan.” Kadang Tuhan mengajak kita melangkah jauh, kadang hanya mengubah arah sedikit. Namun kuncinya tetap sama: KETAATAN yang lahir dari kerendahan HATI. Bisa dibayangkan, jika Simon Petrus tidak TAAT dan rendah HATI terhadap perintah Tuhan, pasti dia gagal lagi. Namun, karena dia TAAT dan rendah HATI, maka hasilnya luar biasa. Malam yang hampa menjadi fajar yang berkelimpahan, karena kehadiran Tuhan di tepi danau, & tepi kehidupan para rasul Yesus.
Pesan bagi kita sebagai murid Yesus dewasa ini
Pertama Rendah hati: Sehebat apa pun pengalaman dan keahlian kita, tanpa Tuhan kita bukan siapa-siapa. Kedua Taat: Ketaatan kecil membuka jalan bagi BERKAT besar. Petrus tidak lagi berdebat, ia hanya TAAT, dan hasilnya ia mendapatkan ikan dalam jumlah yang banyak 153 ekor. Ketiga Menyadari kehadiran-Nya: Yesus selalu hadir di tepi rutinitas kita, dalam doa, ibadat , ekaristi, dan pekerjaan, pelayanan, bahkan kegagalan. Ia menanti kita untuk melihat, mendengar, dan percaya. Murid sejati adalah mereka yang rela menundukkan diri, mendengar suara-Nya, dan TAAT meski arah itu tampak sederhana. Sebab di tepi kehidupan, Yesus sudah menyiapkan meja penuh KASIH.
Pertanyaan refleksi
1. Dalam rutinitas atau kegagalan yang saya alami, apakah saya cukup peka untuk menyadari kehadiran Yesus yang menanti di “tepi” hidup saya?
2. Seberapa sering saya menunda atau berdebat dengan perintah Tuhan, dibandingkan belajar TAAT dengan rendah HATI seperti Petrus?
3. Apakah saya sungguh menyadari bahwa sehebat apa pun usaha dan kemampuan saya, tanpa campur tangan Tuhan, saya bukan siapa-siapa?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk selalu rendah HATI dan TAAT pada suara-Mu. Ingatkan kami bahwa sehebat apa pun usaha kami, tanpa Engkau kami bukan siapa-siapa. Bukalah mata HATI kami agar senantiasa menyadari kehadiran-Mu di tengah rutinitas dan kegagalan kami. Teguhkan langkah kami untuk setia mengikuti perintah-Mu, sebab bersama-Mu, hidup yang hampa akan berubah menjadi penuh BERKAT. Amin.




