Saat Semua Jalan Seakan Tertutup, Tuhan Membuka Jalan: Jangan Menyerah, Pertolongan-Nya Belum Berakhir

Saat Semua Jalan Seakan Tertutup, Tuhan Membuka Jalan: Jangan Menyerah, Pertolongan-Nya Belum Berakhir

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana Ibadah Minggu XV Setelah Trinitatis di GKPI Jemaat Khusus Imanuel Pematangsiantar, Minggu, 13 September 2026, berlangsung penuh sukacita, pengharapan, dan perenungan yang mendalam. Sejak ibadah Minggu siang dimulai, jemaat datang dengan kerinduan yang tulus untuk bersekutu, menaikkan pujian, mendengarkan Firman Tuhan, serta menguatkan kembali iman di tengah berbagai pergumulan kehidupan.
Ibadah pagi dipimpin oleh Inang C. br Lubis sebagai liturgis. Persekutuan dibuka melalui nyanyian Buku Ende dipimpin oleh Inang M br Nainggolan Inang M br Siahaan sebagai Song Leader, dengan iringan organ oleh Inang S. br Siregar. Banyak hati tersentuh, seakan setiap lagu menjadi doa yang naik ke hadirat Tuhan.
Suasana ibadah berlangsung khidmat dan hangat. Di tengah kesibukan, persoalan keluarga, pekerjaan, dan berbagai tantangan kehidupan, ibadah Minggu siang kembali menjadi ruang bagi jemaat untuk datang kepada Tuhan, menenangkan hati, serta memperoleh kekuatan melalui Firman-Nya.

Saat Semua Jalan Seakan Tertutup, Tuhan Membuka Jalan: Jangan Menyerah, Pertolongan-Nya Belum Berakhir

Pesan pengharapan dalam penyampaian Firman Tuhan oleh Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th., dalam renungan firman Tuhan yang diambil dari Keluaran 14:19–31, dengan tema “Tuhan Melakukan Perbuatan Besar bagi Umat-Nya.”

Bagian firman Tuhan ini menceritakan perjalanan bangsa Israel ketika mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Di hadapan mereka terbentang Laut Teberau, sedangkan dari belakang pasukan Firaun terus mengejar. Secara manusia, bangsa Israel seolah-olah tidak memiliki jalan untuk menyelamatkan diri, ungkap Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th.
Dengan tegas Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th. mengatakan, namun, ketika manusia melihat jalan buntu, Tuhan justru menunjukkan kuasa-Nya. Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya menghadapi ketakutan seorang diri. Ia hadir, melindungi, membuka jalan, dan membawa mereka keluar dari ancaman.

Tuhan Berjalan di Depan dan Melindungi dari Belakang
Dalam Keluaran 14:19–20 dijelaskan bahwa Malaikat Allah dan tiang awan yang sebelumnya berjalan di depan bangsa Israel berpindah ke belakang mereka. Tiang awan itu berdiri di antara pasukan Mesir dan bangsa Israel.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memimpin perjalanan umat-Nya dari depan, tetapi juga melindungi mereka dari ancaman yang datang dari belakang.
Bangsa Israel mungkin tidak mengetahui bagaimana mereka dapat keluar dari keadaan tersebut. Mereka hanya melihat laut di depan dan pasukan Firaun di belakang. Namun, Tuhan telah berdiri sebagai pelindung di antara umat-Nya dan musuh yang mengejar mereka.

Demikian juga dalam kehidupan orang percaya. Ada saatnya seseorang merasa terjepit oleh berbagai persoalan. Masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, pekerjaan, pendidikan anak-anak, dan ketidakpastian masa depan dapat membuat hati menjadi takut.
Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan tetap berada di tengah-tengah umat-Nya. Ia berjalan di depan untuk menunjukkan arah dan berdiri di belakang untuk memberikan perlindungan, ungkapnya Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th.

Tuhan Membuka Jalan di Tengah Kemustahilan
Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th. kembali menyampaikan bahwa Tuhan memerintahkan Musa mengulurkan tangannya ke atas laut. Kemudian Tuhan menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras sepanjang malam. Air laut itu terbelah dan tanah di tengahnya menjadi kering.
Bangsa Israel kemudian berjalan melalui tengah laut di tempat yang kering, sementara air menjadi seperti tembok di sebelah kanan dan kiri mereka.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Tuhan sanggup melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Laut yang sebelumnya menjadi penghalang justru diubah Tuhan menjadi jalan keselamatan.
Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan umat Tuhan saat ini. Ada persoalan yang menurut manusia tidak mungkin diselesaikan. Ada penyakit yang melemahkan, utang yang membebani, hubungan keluarga yang retak, pekerjaan yang belum diperoleh, dan berbagai pergumulan yang seolah tidak memiliki jalan keluar.
Namun, kuasa Tuhan tidak dibatasi oleh perhitungan manusia. Tuhan sanggup membuka jalan di tempat yang tidak memiliki jalan. Ia dapat memakai keadaan yang dianggap sebagai penghalang untuk menjadi bagian dari pertolongan dan kesaksian hidup.
Tugas umat Tuhan adalah tetap percaya, taat, dan berjalan mengikuti perintah-Nya, ungkap Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th.

Saat Semua Jalan Seakan Tertutup, Tuhan Membuka Jalan: Jangan Menyerah, Pertolongan-Nya Belum Berakhir

Jangan Takut, Tuhan Turut Berperang
Pasukan Mesir tetap mengejar bangsa Israel hingga masuk ke tengah laut. Akan tetapi, Tuhan mengacaukan pasukan mereka dan membuat roda kereta mereka berjalan dengan berat.
Pada saat itu, pasukan Mesir menyadari bahwa Tuhanlah yang berperang untuk bangsa Israel.
“Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.”
Keluaran 14:25, Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan bangsa Israel bukan diperoleh karena kekuatan mereka sendiri. Bangsa Israel tidak memiliki pasukan yang lebih hebat daripada Mesir. Mereka juga tidak memiliki senjata dan kereta perang yang lebih kuat.
Kemenangan terjadi karena Tuhan turun tangan dan berperang bagi umat-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terlalu mengandalkan kekuatan, kemampuan, pengetahuan, jabatan, kekayaan, dan relasi. Semua itu memang dapat digunakan dengan bijaksana, tetapi tidak boleh menggantikan ketergantungan kepada Tuhan.
Ada peperangan kehidupan yang tidak dapat dimenangkan hanya dengan kemampuan manusia. Dalam keadaan seperti itu, umat Tuhan diajak untuk menyerahkan pergumulannya kepada Tuhan dan tetap melakukan bagian yang benar.
Tuhan tidak mengajarkan umat-Nya untuk bermalas-malasan atau pasif. Bangsa Israel tetap harus melangkah melewati laut. Musa tetap harus taat mengulurkan tangannya. Namun, di balik ketaatan manusia, Tuhanlah yang melakukan pekerjaan besar.

Kuasa Tuhan Mengalahkan Kekuatan Musuh
Ketika bangsa Israel telah sampai di seberang, Tuhan memerintahkan Musa kembali mengulurkan tangannya ke atas laut. Air laut kembali ke tempatnya dan menutupi kereta serta pasukan Firaun yang mengejar bangsa Israel.
Bangsa Israel melihat sendiri bagaimana Tuhan menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir. Kekuatan besar yang sebelumnya mereka takuti tidak berdaya ketika berhadapan dengan kuasa Tuhan.
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat mengalahkan kehendak Tuhan. Apa pun yang menjadi sumber ketakutan manusia tetap berada di bawah kekuasaan-Nya.
Persoalan boleh besar, tetapi Tuhan lebih besar daripada persoalan. Ancaman boleh terlihat kuat, tetapi kuasa Tuhan jauh lebih kuat. Jalan boleh terlihat tertutup, tetapi Tuhan sanggup membukanya.
Karena itu, orang percaya tidak boleh membiarkan ketakutan menguasai hati. Ketakutan membuat manusia hanya melihat besarnya masalah, sedangkan iman menolong manusia melihat besarnya kuasa Tuhan.

Perbuatan Besar Tuhan Menumbuhkan Iman
Keluaran 14:31 mencatat bahwa bangsa Israel melihat perbuatan besar yang dilakukan Tuhan terhadap orang Mesir. Setelah melihat semuanya itu, bangsa Israel menjadi takut kepada Tuhan serta percaya kepada Tuhan dan kepada Musa, hamba-Nya.
“Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan Tuhan terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada Tuhan dan mereka percaya kepada Tuhan dan kepada Musa, hamba-Nya itu.”
Keluaran 14:31
Tujuan perbuatan besar Tuhan bukan hanya untuk melepaskan manusia dari masalah. Melalui pertolongan-Nya, Tuhan ingin membawa umat semakin mengenal, menghormati, dan memercayai-Nya.
Sering kali manusia bersukacita ketika menerima pertolongan, tetapi kemudian melupakan Tuhan setelah persoalan berlalu. Bangsa Israel diingatkan agar peristiwa keselamatan tersebut menjadi dasar untuk terus hidup dalam iman dan ketaatan.
Demikian juga setiap pertolongan yang diterima dalam kehidupan seharusnya menjadi kesaksian tentang kebaikan Tuhan. Ketika Tuhan menyembuhkan, membuka pekerjaan, memulihkan keluarga, menolong pendidikan anak, mencukupkan kebutuhan, atau memberikan jalan keluar, jangan melupakan sumber pertolongan tersebut.
Ucapan syukur tidak cukup hanya dinyatakan melalui kata-kata. Rasa syukur harus terlihat melalui kehidupan yang semakin taat, rendah hati, mengasihi sesama, dan setia melayani Tuhan.

Tetaplah Melangkah dalam Iman
Renungan ini mengajak jemaat untuk tidak berhenti ketika berhadapan dengan kesulitan. Bangsa Israel dapat sampai ke seberang karena mereka berani melangkah memasuki jalan yang telah dibuka Tuhan.
Mereka tidak hanya berdiri di tepi laut sambil menyaksikan air terbelah. Mereka harus berjalan di tengah laut sampai tiba di tempat yang aman.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan orang percaya. Setelah berdoa, seseorang tetap harus mengambil langkah dalam iman. Ketika Tuhan membuka kesempatan, kita harus berani menjalaninya. Ketika Tuhan memerintahkan untuk berdamai, kita harus merendahkan hati. Ketika Tuhan mengingatkan untuk hidup benar, kita harus meninggalkan kebiasaan yang salah.
Iman bukan hanya percaya bahwa Tuhan mampu melakukan sesuatu. Iman juga berarti berani menaati Tuhan, sekalipun seluruh jawaban belum terlihat dengan jelas.

Tuhan yang Menolong Israel Tetap Berkuasa
Tuhan yang membuka Laut Teberau adalah Tuhan yang sama yang menyertai umat-Nya pada masa kini. Kuasa-Nya tidak pernah berkurang dan kasih-Nya tidak pernah berubah.
Mungkin hari ini ada jemaat yang sedang berdiri di hadapan “laut” kehidupannya. Di depan terlihat kemustahilan, sementara dari belakang berbagai persoalan terus mengejar. Hati menjadi lelah dan pikiran mulai dipenuhi kecemasan.
Firman Tuhan hari ini menyampaikan pesan yang kuat: jangan menyerah dan jangan kehilangan iman. Tuhan belum selesai bekerja.
Tuhan dapat memakai jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Ia dapat memberikan pertolongan melalui orang lain, kesempatan baru, kekuatan untuk bertahan, perubahan keadaan, dan berbagai cara yang hanya diketahui oleh-Nya.
Tetaplah berdoa. Tetaplah setia. Tetaplah berjalan dalam kebenaran. Jangan kembali kepada kehidupan lama hanya karena perjalanan iman terasa berat.

Menutup kotbahnya Amang Andre Fernando Marpaung, S.Th menyampaikan pesan ke jemaat bahwa Ketika di depan kita terbentang laut dan di belakang kita ada ancaman yang mengejar, janganlah takut. Tuhan berada di tengah-tengah umat-Nya. Dia sanggup membuka jalan, memberikan pertolongan, dan mengubah ketakutan menjadi kesaksian.
Tuhan yang telah melakukan perbuatan besar pada masa lalu tetap sanggup melakukan perbuatan besar dalam kehidupan kita hari ini. Percayalah, melangkahlah, dan saksikanlah pertolongan-Nya. Amin.

Pelayanan Ibadah:
– Warta Jemaat & Doa Syafaat: Amang Pnt P.H Turnip
– Song leader/ Pujian: Inang M br Nainggolan dan Inang M br Siahaan
– Organis: Inang S br Siregar
– Persembahan: Amang Pnt. U Marpaung & Inang C.Pnt. I br Siregar
– Penerimaan Tamu: C.Pnt Victor Asido Elyakim P & Inang Pnt. U br Tobing
– Petugas Prosesi : Inang C.Pnt. D br Sidabutar

Kehadiran jemaat pada ibadah Minggu Siang XV Setelah Trinitatis tersebut juga menunjukkan antusiasme yang sangat besar. Jemaat yang hadir mengikuti ibadah Minggu dengan penuh khidmat. Ibadah pun berakhir dalam suasana penuh sukacita. Jemaat pulang dengan hati yang bersukacita, saling bersalaman satu sama lain, berbagi senyum dan sapaan yang tulus. Kebersamaan sederhana itu terasa begitu berharga, seolah mengingatkan kembali bahwa gereja bukan sekadar bangunan, melainkan persekutuan umat yang saling menguatkan dalam kasih Kristus.
(VIP)