Saat Yesus Tak Mundur di Getsemani, Kita Ditegur: Masihkah Kita Setia?

Saat Yesus Tak Mundur di Getsemani, Kita Ditegur: Masihkah Kita Setia?

RENUNGAN IBADAH KAMIS PUTIH

Kamis, 02 April 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana ibadah Kamis Putih di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar pada hari Kamis 02 April 2026 yang dilaksanakan pada jam 18:00, berlangsung penuh khikmat, pengharapan, dan perenungan yang mendalam. Ibadah dimulai dengan alunan pujian dari Buku Ende dengan penuh khikmat dan damai.

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th. Dalam khotbah yang menggugah hati, ia mengajak jemaat GKPI JK Immanuel merenungkan makna kesetiaan melalui pembacaan dari Injil Markus 14:32–42.

Mengangkat kisah Doa Yesus di Taman Getsemani, khotbah tersebut menyoroti momen paling sunyi sekaligus paling menentukan dalam kehidupan Yesus Kristus. sebuah titik yang digambarkan sebagai Point of No Return, saat di mana tidak ada lagi jalan untuk mundur.

“Di Getsemani, Yesus tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu penderitaan, bahkan kematian, sudah di depan mata. Namun Ia tidak lari. Ia memilih taat,” tegas beliau dalam penyampaiannya.

Pesan ini langsung menyentuh realitas kehidupan jemaat. Dalam ilustrasi yang sederhana namun kuat, dijelaskan bahwa seperti pesawat yang telah melewati titik kembali, hidup manusia juga sering tiba pada fase di mana pilihan hanya dua: maju dalam iman atau mundur dalam ketakutan.

Namun, menurutnya, justru di situlah letak ujian sejati.
Kesetiaan bukan sekadar ucapan, tetapi keputusan yang harus dibayar dengan keberanian dan pengorbanan.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kesetiaan sering kali tidak nyaman. Orang yang setia harus siap menghadapi risiko, tekanan, bahkan penderitaan. Tetapi dari situlah terlihat kualitas iman seseorang.

“Banyak orang berkata setia, tetapi saat diperhadapkan dengan penderitaan, mereka memilih mundur. Padahal Yesus memberi teladan, setia sampai akhir,” ungkapnya dengan nada yang dalam.

Baca Juga :  Anggur Baru Dalam Kantong Yang Baru

Dalam perikop tersebut, Yesus bergumul dengan sangat manusiawi. Ia berdoa agar “cawan” penderitaan itu berlalu, namun akhirnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Di situlah puncak ketaatan dinyatakan, ketaatan yang tidak mudah, tetapi menyelamatkan.

Khotbah ini juga menyoroti bahwa kesetiaan tidak bisa diukur dengan materi, jabatan, atau kondisi hidup. Kesetiaan adalah komitmen hati yang tetap berdiri teguh, bahkan ketika tidak ada jaminan kenyamanan.

Suasana ibadah pun terasa semakin khidmat. Banyak jemaat larut dalam perenungan, menyadari bahwa dalam perjalanan hidup, mereka pun sering berada di “Getsemani” masing-masing—di titik pergumulan antara bertahan atau menyerah.

Melalui Firman Tuhan ini, jemaat diajak untuk tidak lari dari panggilan iman. Sebab, seperti yang diteladankan Yesus, kesetiaan yang dijalani dengan air mata sekalipun, pada akhirnya akan membawa kehidupan.

Di akhir khotbah, disampaikan sebuah pesan yang menggetarkan:
“Kesetiaan Yesus memang membawa-Nya pada penderitaan, tetapi dari kesetiaan itulah lahir keselamatan bagi kita semua. Pertanyaannya, apakah kita masih mau setia, ketika jalan menjadi sulit?”

Saat Yesus Tak Mundur di Getsemani, Kita Ditegur: Masihkah Kita Setia?

Renungan ini menjadi pengingat kuat bagi setiap orang percaya:
bahwa di tengah dunia yang penuh kompromi, kesetiaan adalah jalan sempit yang membawa pada kehidupan sejati.

Saat Yesus Tak Mundur di Getsemani, Kita Ditegur: Masihkah Kita Setia?

Usai ibadah, kebersamaan jemaat begitu terasa hangat. Dengan penuh kepedulian, sesama jemaat saling mengingatkan untuk kembali hadir dalam rangkaian ibadah berikutnya, yaitu Jumat Agung yang akan dilaksanakan pada:
🗓 Jumat, 03 April 2026
⏰ Pukul 09.00 WIB
📍 Gereja JK Immanuel
Dengan tema yang menyentuh iman:
“Sungguh, Yesus adalah Anak Allah.”

Saat Yesus Tak Mundur di Getsemani, Kita Ditegur: Masihkah Kita Setia?

Ajakan ini bukan sekadar pengumuman, tetapi menjadi panggilan iman bagi setiap jemaat untuk terus mengikuti perjalanan penderitaan Kristus hingga puncaknya di kayu salib.
Rangkaian ibadah ini diharapkan membawa setiap hati semakin dekat kepada Tuhan, memahami makna pengorbanan Kristus, serta meneguhkan komitmen untuk hidup dalam kesetiaan.
Dari Getsemani hingga Golgota, kasih itu tidak pernah mundur. Kini, panggilan itu kembali terdengar: akankah kita tetap setia?
Amin.

Baca Juga :  Renungan hari ini: Berjumpa Dengan Sumber Air Hidup

(VIP)