JAKARTA, mediasumatera.id – Sebagai kader Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) bidang Hubungan Masyarakat, Pertahanan dan Keamanan, Stanley Dale, berharap kedua negara dapat menurunkan ego dan duduk bersama dalam semangat perdamaian. Hal ini disampaikan dalam realesenya kepada media ini pada Senin,(23/6/2025). Bahwa perang tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan harapan, memisahkan keluarga, serta merampas rasa aman dari banyak orang. Perdamaian tidak lahir dari senjata, tetapi dari hati yang mampu mengampuni, memahami, dan mencintai.
Terlebih lebih dari sepekan terakhir, konflik bersenjata antara Israel dan Iran telah menelan korban lebih dari 4.000 jiwa, baik yang terluka maupun meninggal dunia. Serangan udara Israel ke wilayah Iran pada 13 Juni 2025 lalu mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur, fasilitas kesehatan, serta berbagai sarana publik lainnya.
Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti No. 261 menegaskan, “Setiap perang meninggalkan dunia dalam kondisi lebih buruk dari sebelumnya. Perang adalah kegagalan politik dan kemanusiaan yang besar, sebuah kekalahan yang memalukan, kekalahan melawan kekuatan jahat.” Konflik antara Iran dan Israel menjadi pengingat keras bahwa tugas kita sebagai pengikut Kristus belum selesai—untuk menjadi garam dan terang di tengah dunia yang haus akan keadilan dan kasih.
Dalam situasi ini, para cendekiawan Katolik – Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) yang merupakan bagian dari MIIC/ICMICA (International Catholic Movement for Intellectual and Cultural Affairs) sayap professional sarjana Katolik dalam Pax Romana global terpanggil tidak hanya untuk membalut luka dan mendoakan perdamaian, tetapi juga menjadi bagian dari solusi melalui solidaritas nyata dan suara moral yang tegas terhadap segala bentuk kekerasan. Dunia membutuhkan lebih banyak jembatan, bukan tembok. Kita semua bertanggung jawab memperjuangkan damai—di langit yang sama, untuk umat manusia yang sama.(daris)







