“Sudah Baik Tapi Disakiti?” Tangisan Diam Jemaat Terjawab dalam Ibadah Pasion

“Sudah Baik Tapi Disakiti?” Tangisan Diam Jemaat Terjawab dalam Ibadah Pasion

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana haru, hening, dan penuh perenungan menyelimuti Ibadah Pasion ke-2 di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar yang dilaksanakan pada Selasa (31/03/2026) pukul 19.00 WIB.

Dalam rangkaian Masa Pasion yang mengingatkan umat akan sengsara Yesus Kristus, jemaat tidak hanya mengikuti ibadah secara liturgis, tetapi juga diajak masuk dalam perenungan iman yang lebih dalam, menyentuh sisi batin dan kehidupan nyata setiap orang percaya.

Ibadah berlangsung dengan penuh kekhusyukan, menghadirkan suasana sukacita yang tenang, sekaligus pengharapan yang menguatkan di tengah pergumulan hidup jemaat.

Dalam pemberitaan Firman Tuhan, Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th menyampaikan pesan yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, khususnya ketika seseorang telah berbuat baik namun justru mengalami perlakuan yang menyakitkan.

Mengacu pada 1 Petrus 2:22–23, disampaikan bahwa Yesus Kristus, yang tidak berbuat dosa dan tidak menipu, tetap memilih untuk tidak membalas ketika dicaci dan tidak mengancam ketika menderita. Sebaliknya, Ia menyerahkan segala sesuatu kepada Allah yang menghakimi dengan adil.

“Tuhan Yesus tidak berbuat dosa… ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas… ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam…”

Tuhan Yesus menunjukkan sesuatu yang bertolak belakang dengan naluri manusia.
Saat disakiti, manusia ingin membalas.
Saat dilukai, manusia ingin membalas lebih keras.

Tapi Yesus memilih diam.
Yesus memilih menyerahkan semuanya kepada Allah.

Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th menyampaikan suatu Kenyataan yang Sering Terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Di kehidupan nyata, banyak orang berkata:
“Aku orang baik… tapi jangan ganggu aku.”

Kalimat ini terdengar biasa, tetapi sebenarnya menyimpan satu kebenaran:
kebaikan kita seringkali masih bersyarat.

Selama tidak disakiti → kita baik.
Begitu disakiti → kita berubah.

Baca Juga :  Renungan hari ini: Ibu Yang Tak Menyerah Demi Sang Buah Hati

Empat Jenis Manusia (dan Kita Sering Ada di Sini)
Renungan ini mengungkap empat sikap manusia:
1. Membalas kejahatan dengan kejahatan → itu biasa (dan berbahaya)
2. Membalas kebaikan dengan kejahatan → itu menyakitkan
3. Membalas kebaikan dengan kebaikan → itu wajar
4. Membalas kejahatan dengan kebaikan → ini yang jarang, tapi paling mulia
Dan jujur saja…, kita sering ada di kelompok pertama.

Penderitaan yang Tidak Terlihat
Ada satu penderitaan yang jarang dibicarakan: menahan diri untuk tidak membalas.

Saat:
– difitnah
– dilupakan
– disakiti oleh orang yang pernah kita tolong
Itu sakit. Dan lebih sakit lagi saat kita memilih diam.

Tapi justru di situlah,
kita sedang berjalan di jalan Kristus.“Sudah Baik Tapi Disakiti?” Tangisan Diam Jemaat Terjawab dalam Ibadah Pasion

Pasion: Bukan Sekadar Ibadah, Tapi Perjalanan Hati
Dalam renungan yang disampaikan, jemaat diajak memahami bahwa:
mengikut Kristus bukanlah jalan yang mudah.

Ada saat di mana:
– kita harus menahan diri untuk tidak membalas
– kita harus tetap baik saat disakiti
– kita harus tetap mengasihi saat dilupakan

Dan di situlah letak makna Pasion yang sebenarnya:
ikut merasakan penderitaan Kristus dalam kehidupan sehari-hari

Refleksi yang Membekas di Hati Jemaat
Suasana ibadah malam itu terasa begitu dalam.
Setiap firman yang disampaikan seolah berbicara langsung ke dalam hati.

Jemaat pulang bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi dengan perenungan:
1. Sudahkah kita hidup seperti Kristus?
2. Masihkah kita membalas kejahatan dengan kejahatan?
3. Ataukah kita mulai belajar membalas dengan kasih?“Sudah Baik Tapi Disakiti?” Tangisan Diam Jemaat Terjawab dalam Ibadah Pasion

Suasana ibadah semakin terasa menyentuh ketika jemaat diajak merefleksikan pengalaman pribadi, tentang luka, pengkhianatan, dan kebaikan yang tidak dihargai. Namun di tengah semua itu, Firman Tuhan menegaskan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia di hadapan-Nya.

Baca Juga :  Kemenangan Tak Selalu Berarti Diberkati: Kembalilah ke Jalan Tuhan Hari Ini, Agar Anak Cucumu Diberkati oleh Tuhan Allah

Ibadah Pasion ke-2 ini menjadi momen penting bagi jemaat untuk kembali menyadari bahwa jalan penderitaan Kristus adalah bagian dari perjalanan iman yang harus dihayati, bukan dihindari. Sebab melalui penderitaan itulah, Tuhan membentuk karakter, kesabaran, dan kasih yang sejati.

Mengakhiri ibadah, jemaat pulang dengan hati yang lebih tenang dan dikuatkan, membawa satu pesan penting: bahwa dalam setiap luka yang tidak terbalas, Tuhan tetap bekerja, dan pada waktunya, Ia akan menyatakan keadilan serta kasih-Nya bagi setiap umat yang setia.

Amin.
(VIP)