PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Suasana ibadah Minggu Sexagesima di GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar pada Minggu, 08 Februari 2026 berlangsung penuh sukacita, pengharapan, dan perenungan yang mendalam. Walaupun proses renovasi rumah Tuhan masih terus berjalan, jemaat tetap hadir dengan hati yang rindu bersekutu. Di tengah debu dan batu bangunan yang belum selesai, terasa seolah Allah sendiri sedang menanam benih iman yang baru, memperbarui hati setiap umatNya.
Ibadah dimulai dengan pujian dari Kidung Jemaat yang diiringi lembut oleh Amang J.P Sinaga. Alunan musik yang tenang membawa jemaat masuk dalam suasana teduh dan khidmat, menuntun hati untuk semakin dekat ke hadirat Tuhan. Liturgi dipimpin oleh Inang Pnt. N. br Marbun dengan penuh ketenangan, dilanjutkan dengan pembacaan epistel dari Efesus 1:3-10.
Firman Tuhan disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran MT Simamora, M.Th, dengan tema: “Diberkati untuk menjadi Berkat” berdasarkan Kejadian 12-1-5. Dalam khotbahnya, beliau menyampaikan kepada jemaat, memasuki Minggu Sexagesima, sekitar enam puluh hari menjelang Paskah, gereja kembali mengajak umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan hidup dan menatap ke dalam hati. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, firman Tuhan dari Kejadian 12:1–5 tentang panggilan Abram terdengar begitu lembut, namun kuat: kita diberkati bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Tema “Diberkati untuk Menjadi Berkat” menjadi pengingat bahwa hidup orang percaya bukanlah kebetulan. Tidak ada langkah yang terjadi tanpa seizin Tuhan. Tempat kita tinggal, pekerjaan yang kita jalani, keluarga dan persekutuan yang kita miliki, semuanya adalah ruang yang Tuhan percayakan agar kita membawa kebaikan.
Dalam refleksi Minggu Sexagesima, jemaat diajak memahami makna panggilan hidup. Dalam bahasa Latin, panggilan disebut vocation, Allah memanggil, mempercayai, dan menempatkan seseorang pada suatu tempat. Artinya, setiap orang ditempatkan Tuhan dengan maksud yang jelas: menjadi saluran berkat. Gereja sebagai ekklesia adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang, bukan karena kehebatan mereka, tetapi karena kasih Tuhan yang memanggil dan mempersatukan.
Pertanyaan penting pun muncul: bukan lagi “apakah kita sudah diberkati?”, melainkan “apakah kita sudah menjadi berkat?”. Firman Tuhan mengingatkan bahwa berkat bukan sekadar sesuatu yang diterima, tetapi sesuatu yang dibagikan. Dalam bahasa Ibrani, kata tov berarti baik. Tuhan memanggil umat-Nya untuk menjadi orang baik, sederhana, tulus, dan membawa kebaikan di mana pun berada.
Kisah tentang komponis besar Beethoven menjadi ilustrasi yang menyentuh. Setelah konser besar, banyak orang memujinya dengan berkata, “Beethoven adalah segalanya.” Namun ia menjawab dengan rendah hati, “Saya bukan siapa-siapa. Engkau bukan siapa-siapa. Kristus adalah segalanya.” Kerendahan hati inilah yang menjadi sikap orang yang dipanggil Tuhan. Tanpa Tuhan, manusia hanyalah debu. Tetapi ketika Tuhan memanggil, hidup menjadi bermakna.
Firman Tuhan juga menegaskan bahwa panggilan Allah tidak didasarkan pada kebaikan manusia, melainkan pada kasih-Nya. Berkat dalam bahasa Ibrani disebut berakah, pemberian Tuhan yang lahir dari kasih-Nya. Yohanes 3:16 mengingatkan bahwa kasih Tuhan begitu besar dan meluap tanpa batas. Ia memanggil bukan karena manusia sempurna, tetapi karena Ia mengasihi.
Di tengah zaman yang sering menuntut pengakuan dan pujian, umat diingatkan bahwa kebaikan tidak perlu dipertontonkan. Kebaikan perlu dikerjakan. Yang penting bukan terlihat hebat, tetapi sungguh menjadi berkat. Banyak orang mungkin merasa tidak memiliki kemampuan besar. Namun seperti bambu sederhana di padang gurun yang menjadi saluran air, Tuhan dapat memakai siapa saja yang bersedia.
Minggu Sexagesima menjadi momentum untuk kembali mendengar panggilan Tuhan yang sering kali hadir dalam keheningan. Panggilan itu tidak selalu keras, tetapi setia. Tuhan mempercayakan hidup kepada setiap orang agar menjadi saluran kebaikan bagi keluarga, lingkungan, dan gereja.
Di tengah perjalanan menuju Paskah, pesan ini terasa semakin dalam: hidup bukan sekadar tentang menerima berkat, tetapi tentang menjadi berkat. Ketika seseorang memilih untuk hidup dalam kebaikan, kerendahan hati, dan kasih, di sanalah berkat Tuhan mengalir.
Minggu Sexagesima mengingatkan bahwa Tuhan tidak memanggil manusia untuk kesia-siaan. Ia memanggil agar hidup memiliki makna. Ia memanggil agar setiap orang menjadi terang bagi sesama. Dan ketika umat bersedia menjawab panggilan itu, mereka akan melihat bahwa Tuhan yang memanggil juga adalah Tuhan yang memberkati.
Menutup khotbahnya, amang Pdt. Tubiran MT Simamora, M.Th menyampaikan “Di manapun ditempatkan, panggilan itu tetap sama: Jadilah Berkat”
Pelayanan Ibadah:
- Warta Jemaat & Doa Syafaat:Inang C.Pnt. P.C br Simbolon
- Song leader/ Pujian:Grace dan Aprida
- Organis:Amang J.P Sinaga
- Persembahan:Amang C.Pnt. H Pasaribu & Inang C.Pnt. D br Sidabutar.
- Penerimaan Tamu:Inang Pnt. D br Gultom & Inang Pnt. R br Tobing.
Renovasi gedung gereja masih berlangsung, namun Tuhan sedang melakukan renovasi yang jauh lebih indah, merenovasi hati umat-Nya, menegakkan kembali tembok iman, dan menyalakan terang pengharapan.
Di akhir ibadah, banyak jemaat terdiam, beberapa meneteskan air mata, bukan karena kesedihan, tetapi karena kasih Allah yang menyentuh dan memulihkan.

Bagi jemaat dan donatur yang tergerak untuk memberikan bantuan bagi renovasi GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, dapat menyalurkan donasi melalui:
Rekening Donasi:
🏦 Bank: Bank SUMUT
💳 Nomor Rekening: 22002040465521
📌 Atas Nama: PANPEM GKPI JK Immanuel
Setiap dukungan yang diberikan, baik besar maupun kecil, akan sangat berarti bagi pembangunan rumah Tuhan. Tuhan memberkati setiap tangan yang memberi dengan sukacita.
“Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kita lebih besar dari segala allah. Tetapi siapakah yang mampu mendirikan rumah bagi-Nya, karena langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku mampu mendirikan rumah bagi-Nya, kecuali hanya untuk membakar korban di hadapan-Nya?”
(2 Tawarikh 2:5-6)
Soli Deo Gloria.
(VIP)







