Opini  

“Raising Parents”: Apresiasi dan Persuasi bagi “Sang Fondasi”

“Raising Parents”: Apresiasi dan Persuasi bagi “Sang Fondasi”

Ongko Handoko
Dosen Prodi Psikologi, Universitas Katolik Musi Charitas

 

Kealpaan dan kehadiran

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (KEMENPPPA) merilis  1.381 kasus penelantaran anak di Indonesia, di sepanjang tahun 2024. Jumlah ini tidak termasuk beberapa kasus kekerasan lainnya, seperti kekerasan fisik, psikis, seksual, eksploitasi, dan perdagangan orang (human trafficking). Jika ditotal semua kasus kekerasan pada anak di sepanjang tahun 2024, bisa mencapai puluhan ribu kasus. Tentu jumlah yang terjadi di tengah masyarakat bisa lebih banyak dari pada yang disajikan oleh KEMENPPPA. Data penelantaran anak, secara spesifik disebutkan karena langsung berkaitan dengan kehadiran orang tua. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengasuhan anak menjadi tanggung jawab utama orang tua.

Kesadaran akan pentingnya peran orang tua dalam pengasuhan anak menjadikan banyak pihak bergerak memberikan sumbangsih sesuai dengan ranah dan kompetensi masing-masing. Berbagai penelitian, artikel, seminar atau pun webinar, dan pendampingan dari berbagai sudut pandang diupayakan untuk membekali orang tua dalam pengasuhan anak. Meski terkadang, berbagai upaya tersebut terkesan ‘menyudutkan’ orang tua, namun selalu ada peminat yang dengan tekun mengikuti, belajar, dan berproses menjadi orang tua yang lebih baik. Antusias orang tua yang selalu ada hati bertekun untuk hadir dan berbenah merupakan bentuk kesadaran diri sebagai fondasi bagi anak-anaknya yang perlu diapresiasi.

 

Global Day of Parents

Peran penting orang tua semakin disadari dan diapresiasi oleh masyarakat internasional. Sejak tahun 1980-an, PBB memusatkan perhatian pada isu-isu yang berkaitan dengan keluarga. Kebijakan-kebijakan yang dibuat bagi Masyarakat diharapkan mempertimbangkan tentang persoalan dan kebutuhan keluarga. Berangkat dari perhatian ini, maka ditetapkanlah Hari Keluarga International, setiap tanggal 15 Mei sejak tahun ditetapkan pada tahun 1994.

Baca Juga :  Syafrudin Budiman: Harapkan Bahlil Meniru Jokowi Saat Diserang, Tidak Perlu Lapor Polisi

Keseriusan PBB memperhatikan peran penting orang tua dalam pengasuhan anak berlanjut pada penetapan Hari Orang Tua Sedunia (Global Day of Parents). Ketetapan ini diumumkan pada tahun 2012 dan diperingati setiap tanggal 1 Juni. Hari yang Istimewa ini menjadi kesempatan untuk menghargai semua orang tua atas komitmen dan pengorbanan untuk membersamai anak-anak mereka. Selain sebagai bentuk apresiasi, momen ini kiranya dapat membangun ingatan, menguatkan kesadaran, dan juga memantapkan keterlibatan (involvement) orang tua dalam pengasuhan anak.

Hari Orang Tua Sedunia menunjukkan sebuah pengakuan akan tanggung jawab utama orang tua dalam perkembangan dan kesejahteraan anak. Kehadiran (attendance) orang tua menawarkan identitas, cinta, perlindungan, penghargaan, keamanan, pendidikan, bahkan permainan. PBB mengungkapkan momen ini juga sejalan dengan upaya pemenuhan hak dasar anak (Konvensi Hak Anak) yang menjadi bagian penting dalam kebijakan dan investasi sosial demi kesejahteraan orang tua dan anak.

 

Raising Parents

Raising Parents, itulah tema Hari Orang Tua Sedunia tahun 2025 yang ditetapkan oleh PBB. Melalui tema ini, dunia sekali lagi ingin memberi perhatian dan dukungan pada orang tua dalam pengasuhan anak. Dunia internasional secara terprogram hendak bergerak ‘membesarkan’ dan ‘mengangkat’ identitas dan peran para orang tua dengan berbagai media promosi tentang pengasuhan.

Pada peringatan tahun ini, UNICEF secara khusus akan meluncurkan Bulan Pengasuhan (Parenting Month) 2025 sebagai dedikasi bagi para orang tua dan pengasuh. UNICEF memberi dukungan yang besar dan sorotan pada pembekalan dengan pengetahuan dan media yang dibutuhkan oleh orang tua. Aksi sebulan ini akan menyajikan berbagai kiat dan sumber daya pengasuhan yang praktis. Bentuk dukungan juga tampak dari upaya untuk menghadirkan kisah-kisah tentang suka duka orang tua. Aksi ini menjadi kesempatan berbagi cerita dan cinta dalam dinamika pengasuhan.

Baca Juga :  Giat Rutin Jum'at Curhat Polresta Deli Serdang

PBB merefleksikan pengasuhan anak sebagai sebuah perjalanan. Di dalamnya ada proses pembelajaran tanpa henti yang diwarnai berbagai tantangan, kebersamaan, cinta, dan lika-likunya. Pengasuhan bukan produk sekali jadi, melainkan keterampilan yang perlu senantisa dipelajari, bahkan seumur hidup. Keterampilan itu terbentuk dari perjumpaan, cinta, dan kepedulian. Oleh sebab itu, orang tua membutuhkan waktu, tenaga, sumber daya, dan dukungan untuk hadir dan membersamai anak-anak dalam lingkungan yang kondusif bagi kesejahteraan anak. Membesarkan dan menyejahterakan anak adalah tugas berharga bagi setiap orang tua. Mereka jangan dibiarkan melakukannya sendiri. Perlu banyak pihak yang turut hadir menyegarkan dan menemani.

 

“Sang Fondasi”

Baik dalam tulisan maupun seruan mengenai tumbuh kembang anak, orang tua kerap dimaklumkan sebagai fondasi bagi anak. Ada kehidupan, pendidikan, kesehatan, karakter, nilai moral, dan banyak hal lainnya perihal anak yang mereka topang di atas kemanusiaan mereka. Berbagai permakluman ini ingin menegaskan keistimewaan identitas dan peran orang tua. Di sisi lain, pernyataan tersebut juga sarat apresiasi akan ketangguhan orang tua, sekaligus bentuk persuasi untuk konsisten hadir menjadi dasar pijakan.

Di tengah kecanggihan teknologi dan komunikasi pada era ini, kiranya menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi orang tua dalam mengekspresikan kehadirannya. Berbagai media yang ada bisa saja merebut porsi atau menggantikan kehadiran orang tua dari anak-anak. Namun, ada pula peluang untuk bisa semakin hadir, bahkan tak tersekat oleh ruang. Anak butuh kehadiran dan didengarkan orang tua (Daniel Siegel & Tina Payne, 2020).

Kehadiran ‘Sang fondasi’ adalah sebuah keniscayaan bagi anak. Kehadiran yang tak melupakan masa kini, demi membentuk masa depan anak (Simone Davies & Junnifa Uzodike, 2024). Orang tua yang tetap punya waktu untuk hadir di sela kerja dan karir. Tentunya, tidak hanya kehadiran ibu, tetapi juga ayah. Ayah bukan pelengkap atau pun opsional dalam pengasuhan anak (Angga Setiawan, 2022). Ayah merupakan kesatuan utuh bersama ibu sebagai fondasi bagi anak. ‘Sang fondasi’ sangat dibutuhkan agar ‘bangunan’ anak dapat kokoh berdiri. Terima kasih bagi setiap orang tua di seluruh dunia. Terima kasih karena selalu punya hati yang tidak perlu menunggu sempurna untuk hadir menjadi ‘fondasi’ yang membersamai tumbuh kembang si buah hati. Tetaplah bertekun dan berkembang dalam diri dan pengasuhan, karena selalu ada hati, pikiran, tulisan, maupun lisan yang mengapresiasi dan bersedia menyertai.

Baca Juga :  Gus Muhaimin Roadshow Politik Kesejahteraan Bersama Tokoh Masyarakat Sumsel yang Difasilitasi DPW PKB Sumsel