mediasumatera.id – SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah tangan Anda selalu terulur untuk berbuat baik, atau untuk berbuat jahat: memukul, menampar, membunuh, kekerasan, kriminal, mencuri? Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santa Agnes, Perawan dan Martir.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 3: 1 – 6, yakni Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat. Di sana ada seorang pria dengan tangan yang mati sebelah. Orang-orang Farisi mengamatinya dengan tajam, menunggu apakah Ia akan menyembuhkan pada hari Sabat, supaya mereka dapat menuduh-Nya. Namun Yesus, digerakkan oleh belas kasih, memanggil pria itu ke tengah. Ia tidak peduli pada sekat aturan yang kaku, sebab Ia adalah Tuhan atas hari Sabat. Yesus bertanya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membunuh?” Pertanyaan itu menggema, menyingkapkan HATI yang degil, terkepal oleh kebencian, HATI yang sibuk mencatat kesalahan, HATI yang merencanakan kejahatan dalam diam.
Sementara itu, pria dengan tangan mati sebelah hanya bisa pasrah. Ia terpinggirkan, tak berdaya, tak mampu mengulurkan tangan untuk berbuat baik. Tetapi Yesus tidak menyuruhnya menyembuhkan dirinya sendiri. Ia hanya berkata: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ketika ia taat, tangan yang mati itu dipulihkan. Mujizat terjadi bukan karena kekuatan pria itu, melainkan karena kuasa Tuhan yang bekerja melalui ketaatan sederhana. Dan di antara tangan yang terkepal penuh kebencian dan tangan yang mati sebelah karena ketidakberdayaan, ada tangan Yesus, tangan yang aktif, tangan yang menyembuhkan, tangan yang penuh belas kasih. Tangan Yesus menantang kita: apakah kita akan menggunakan tangan kita untuk mengangkat yang jatuh, atau justru menjatuhkan orang lain? Untuk memberkati sesama atau untuk mengutuk sesama? Untuk menyembuhkan sesama, atau untuk melukai sesama? Yang perlu kita renungkan bahwa seringkali kita mengutuk tangan orang Farisi yang terkepal, kaku, berat, tetapi lupa bahwa tangan kita sendiri bisa saja “mati sebelah”, untuk berbuat baik. Atau mungkin terkepal, kaku terulur, oleh rasa takut, oleh kesibukan, oleh prasangka buruk, atau oleh kepentingan diri. Atau kita tahu harus menolong, tetapi tangan kita terasa berat untuk terulur. Yesus mengingatkan kita bahwa Sabat bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Tuhan tidak pernah berhenti bekerja untuk kebaikan. Belas kasih-Nya menembus batas ruang dan waktu. Dan mujizat selalu dimulai ketika kita berani mengulurkan apa yang terasa mati dalam hidup kita. Oleh karena itu, hari ini pertanyaan Yesus masih bergema: “Manakah yang diperbolehkan: berbuat baik atau berbuat jahat?” Jawaban itu tidak hanya ada di bibir kita, tetapi nyata dalam arah uluran tangan kita.
Pertanyaan refleksi
1. Apakah tangan saya selama ini lebih sering “terkepal” untuk meng kesalahan orang lain, ataukah terbuka untuk menolong dan memberkati?
2. Dalam hal apa saja saya merasa “mati sebelah” untuk berbuat baik, kaku oleh rasa takut, kesibukan, atau kepentingan diri?
3. Bagaimana saya dapat belajar dari tangan Yesus yang selalu terulur untuk menyembuhkan, sehingga uluran tangan saya pun menjadi saluran kasih bagi sesama?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus,
pulihkanlah tangan dan HATI kami yang sering kaku untuk berbuat baik. Jadikanlah kami taat seperti pria yang Engkau sembuhkan,
agar tangan kami selalu terulur untuk menolong, memberkati, dan menyembuhkan. Amin.




