“RENUNGAN HARIAN GKPI “TERANG HIDUP”
Senin, 03 Maret 2026
PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Shalom… salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Kiranya damai, sukacita, dan pengharapan dari-Nya menyertai langkah hidup kita hari ini. Kita percaya: kita tidak pernah berjalan sendiri. Tuhan menyertai, menuntun, dan bekerja dalam setiap musim kehidupan kita. Bahkan ketika jalan terasa gelap, Tuhan sedang menyiapkan terang. Ketika kita lemah, Tuhan sedang menguatkan. Kita adalah orang-orang yang sangat dikasihi dan diingat oleh Tuhan.
Bagaimana kabar Saudara/i hari ini? Kiranya Saudara/i berada dalam kesehatan jasmani dan rohani, hati yang damai, serta sukacita yang melimpah. Renungan ini disampaikan oleh Amang Pdt. Tubiran M.T. Simamora, M.Th., sebagai penguatan iman bagi kita semua.
“Dan aku berdoa agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik diantara kita untuk Kristus.” (Filemon 1:6)
Dalam surat Paulus kepada Filemon, Paulus menyinggung mengenai “persekutuan” yang berpotensi mengubahkan kehidupan sosial. Persekutuan itu terjadi dalam relasi antara Filemon dan Onesimus. Paulus tidak menyangkali status Onesimus sebagai budak, tetapi Paulus ingin menegaskan kepada Filemon bahwa relasi mereka sekarang tidak lagi sebagai tuan dan hamba, melainkan saudara satu dengan yang lain.
Persekutuan yang terjalin di dalam Umat Allah terjadi semata-mata karena karya Roh Kudus yang mengubah hidup dan mempersatukan umat. Persekutuan (koinonia) memiliki potensi mengubah kehidupan sosial menggantikan hierarki yang lazim di zaman Perjanjian Baru. Oleh karena itu, persekutuan Kristiani adalah persekutuan yang mampu meruntuhkan sekat-sekat pemisah. Hubungan antara Filemon dan Onesimus yang semula adalah tuan dan hamba dapat diubah ke dalam persekutuan iman yang mengerjakan hal yang baik dalam Kristus. Persekutuan dalam iman ini memberikan ruang bagi sesama yang berbeda dan dianggap tidak layak dikasihi serta menerima mereka dalam ikatan persekutuan yang baru berdasarkan kasih Kristus.
Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimanakah kehidupan pergaulan atau sosial kita? Apakah kita masih cenderung mengabaikan orang lain? Terlebih jika orang tersebut sangat berbeda dengan kita.
Apakah kita juga cenderung meremehkan pendapat orang lain yang kita rasa tidak lebih pandai dari kita? Perilaku seperti ini akan merusak hubungan atau relasi kehidupan sosial kita.
Ayat kita hari ini mendorong kita untuk menghilangkan hambatan tersebut. Perbedaan status sosial, perbedaan suku, warna kulit, tingkat pendidikan seharusnya tidak menjadi hambatan yang menimbulkan sekat pemisah dalam persekutuan, tetapi menjadi sebuah kekayaaan yang saling melengkapi dan menguatkan di dalam Kristus.
Sebab Kristus telah menebus kita semua tanpa memandang apapun juga. Kristus menebus dan memikul beban kita agar kita juga dapat memikul beban orang lain. Kasih-Nya bersifat universal tanpa membeda-bedakan agar kita juga dapat mengasihi tanpa membeda-bedakan. Di dalam Kristus kita adalah saudara, di mana sebagai saudara seharusnya saling mengasihi, mendukung, menolong dan melengkapi. Kiranya perbedaan dalam persekutuan menjadi warna yang indah bukan menjadi sekat pemisah.
Renungan:
Apakah aku sudah melihat perbedaan dalam persekutuan sebagai kesempatan untuk belajar mengasihi dan bertumbuh, atau justru sebagai alasan untuk menjauh dan menghakimi?
Lagu:
KJ No. 249:1,2
“Serikat persaudaraan”
Doa:
Ya Tuhan, teguhkanlah hatiku agar tetap setia dalam persekutuan dengan-Mu dan dengan saudara seiman. Satukanlah kami dalam damai-Mu agar perbedaan kami tidak menjadi jurang pemisah tetapi menjadi jembatan persekutuan. Amin.
Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.
(VIP)





