mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuha. Apakah Anda termasuk pribadi yang tidak tahu berterima kasih dan serakah atau orang yang tahu berterima kasih pada orang yang berbuat baik kepada Anda dan selalu rendah hati serta selalu ada kata cukup?
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 21: 33 – 43. 45 – 46, yakni perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Para saudaraku, ytk. ada pepatah: “Sudah diberi HATI, minta JANTUNG.” Pepatah ini tepat menggambarkan para penggarap kebun anggur dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Mereka diberi kepercayaan penuh oleh tuan kebun: fasilitas lengkap, pekerjaan, bahkan kesempatan menikmati hasil. Namun ketika tuan menagih bagian yang menjadi haknya, mereka justru menolak, menganiaya, bahkan membunuh para utusan, hingga akhirnya mereka membunuh sang anak.
Betapa besar keserakahan mereka! Mereka lupa bahwa semua yang mereka nikmati hanyalah titipan. Namun, mereka ingin menjadi pemilik, padahal mereka hanyalah penggarap. Para saudara, bukankah kisah ini juga berbicara tentang kita? Hidup, kesehatan, keluarga, pekerjaan, jabatan, posisi , gelar, talenta, semua adalah kebun anggur Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Kita hanyalah pengelola, karyawan, hamba, dan bukan pemilik. Namun sering kali kita merasa semua itu hasil jerih payah kita sendiri. Ketika Tuhan meminta “hasil”, berupa: waktu untuk berdoa, beribadah, berekaristi, HATI untuk melayani, TANGAN untuk berbagi, kita terkadang sering menolak dengan seribu alasan. Kita ingin menguasai, menikmati, semuanya untuk diri sendiri. Ingatlah: suatu saat Tuhan akan datang menagih pertanggung jawaban kita. Apakah kita akan ditemukan sebagai penggarap yang serakah, sombong, angkuh, atau sebagai hamba yang setia, rendah hati dan tahu diri?
Pesan Untuk Kita
Marilah kita belajar menjadi penggarap, pengelola, pekerja, yang tahu berterima kasih. Hidup dengan rasa syukur, rendah HATI, dan SETIA mengembalikan hasil kepada Pemilik sejati. Sebab upah KESERAKAHAN adalah KEBINASAAN, tetapi upah KESETIAAN dan KERENDAHAN HATI adalah sukacita kekal bersama Tuhan. Kiranya ketika saat itu tiba, kita layak mendengar suara-Nya: “Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia… masuklah dalam kebahagiaan tuanmu.” Semoga demikian!!!
Pertanyaan refleksi
1. Apakah saya sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang saya miliki hanyalah titipan Tuhan, bukan milik saya sendiri?
2. Bagaimana saya merespons ketika Tuhan “meminta hasil” dari kebun anggur hidup saya, melalui waktu, talenta, atau BERKAT yang harus dipersembahkan kembali kepada-Nya?
3. Apakah hidup saya sudah menghasilkan buah syukur, kerendahan HATI, dan kesetiaan, atau justru lebih sering dipenuhi kesombongan dan keinginan untuk menguasai semuanya?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan yang baik, kami bersyukur atas hidup, keluarga, pekerjaan, dan segala BERKAT yang Engkau percayakan kepada kami. Ampuni kami bila sering lupa bahwa semua hanyalah titipan-Mu. Ajar kami untuk setia, rendah HATI, dan menghasilkan buah yang memuliakan nama-Mu. Jadikan kami penggarap yang baik, yang tahu berterima kasih dan siap memberi kembali kepada-Mu. Amin.





