mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sering melempari batu kepada Yesus, lewat batu-batu yang tidak melihat berupa: kata-kata kotor, jorok, makian, ujaran kebencian, fitnah, gosip miring atau dengan menjelek-jelekkan sesama? Itulah batu-batu yang terkadang kita gunakan untuk melempari Yesus melalui sesama.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 10: 31 – 42, yakni Yesus ditolak oleh orang Yahudi. Dalam bacaan Injil hari ini, di Bait Suci, orang-orang Yahudi mengangkat batu, siap melempari Yesus. Mereka sudah mendengar firman-Nya, sudah melihat mujizat-Nya, tetapi HATI mereka tertutup. Bukan karena kurang bukti atau informasi, melainkan karena sudah memilih untuk menolak. Yesus tidak membalas dengan kebencian. Ia hanya berkata: “Jika Aku tidak melakukan pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku. Tetapi jika Aku melakukannya, percayalah.” Lalu Ia pergi, sebab waktunya belum tiba. Selama ini barangkali, kita pun sering mengangkat “batu” yang tak kasat mata untuk melempari Yesus lewat sesama kita, berupa: Pertama
batu emosional, kata-kata kasar saat marah,. Kedua
batu makian dan ujaran kebencian di media sosial. Ketiga batu fitnah, gosip miring, dan tuduhan tanpa bukti. Keempat batu cibiran, yang melukai lebih dalam daripada pukulan. Setiap kali kita melakukannya, kita berdiri di posisi yang sama dengan mereka yang dulu mengangkat batu di Bait Suci untuk melempari Yesus. Padahal Yesus hadir dalam diri sesama, terutama mereka yang lemah dan kurang beruntung. Dan daripada kita melempari “batu” itu, lebih baik kita melempari dengan DOA, KASIH dan PENGAMPUNAN.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, Yesus tidak menuntut dari kita kesempurnaan, Ia hanya meminta HATI yang percaya. Bila HATI terbuka, batu di tangan kita akan berubah menjadi ALTAR penyembahan. Tetapi bila HATI tertutup, bahkan kebenaran pun akan kita anggap penghujatan. Maka, mari kita lepaskan batu-batu itu dan buka HATI. Sebab Yesus tidak datang untuk dilempari, melainkan untuk menyelamatkan. Dan ketika HATI percaya, dunia yang penuh batu bisa berubah menjadi tempat penuh KASIH.
Pertanyaan refleksi
1. Batu apa yang paling sering saya lemparkan kepada sesama, apakah lewat kata-kata, sikap, atau tindakan?
2. Apakah HATI saya terbuka untuk melihat Yesus hadir dalam diri orang lain, terutama mereka yang lemah dan kurang beruntung?
3. Bagaimana saya bisa mengubah “batu” di tangan saya menjadi sarana KASIH dan penyembahan kepada Tuhan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, sering kali tangan kami menggenggam “batu” berupa kata-kata kasar, kotor, makian, fitnah, dan ujaran kebencian yang melukai sesama. Ampunilah kami, sebab dengan itu kami juga melukai-Mu. Bukalah HATI kami agar tidak tertutup, melainkan siap percaya dan mengasihi. Ubah batu di tangan kami menjadi tanda penyembahan, dan jadikan hidup kami saluran KASIH-Mu bagi mereka yang lemah dan terlupakan. Amin.




