Opini  

OPINI :   Di Antara Ketegangan AS-Iran:  Membangun Benteng Resiliensi UKM melalui Ergonomi 5.0

OPINI :   Di Antara Ketegangan AS-Iran:  Membangun Benteng Resiliensi UKM melalui Ergonomi 5.0
mediasumatera.id – Dr. Heri Setiawan, S.T., M.T., IPM.
Dosen Ergonomi dan Rekayasa Sistem Kerja &
Direktur Laboratorium Innovation System Center (Lab. ISC)
Program Studi Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Musi Charitas
│ e-Mail: heri_setiawan@ukmc.ac.id
“Di tengah ancaman domino konflik AS-Iran, Ergonomi 5.0 bukan lagi sekedar standar kesehatan kerja, melainkan instrumen mitigasi strategis untuk memperkuat resiliensi UKM nasional melalui harmonisasi teknologi cerdas dan sentralitas kesejahteraan manusia.”
Gema perang di Teluk mungkin terasa jauh, namun dampaknya kini sedang mengetuk pintu-pintu meja produksi UKM kita, memaksa kita untuk menyadari bahwa di tengah badai krisis energi global, variabel paling berharga yang harus kita selamatkan adalah efisiensi ‘mesin biologis’ manusia.
Gema Perang di Teluk dan Meja Kerja UKM Kita
Dunia hari ini sedang menahan napas. Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah bukan lagi sekadar berita di kolom luar negeri, melainkan ancaman nyata di depan pintu rumah kita. Geopolitik global yang memanas ini membawa dampak domino yang tidak terelakkan: fluktuasi harga energi, gangguan rantai pasok global (global supplychain), hingga ketidakpastian pasar modal.
Bagi Indonesia, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah pada sektor Usaha Kecil Menengah (UKM). Saat harga bahan baku melonjak akibat biaya logistik dunia yang membengkak, UKM dipaksa untuk bekerja “lebih keras” dengan sumber daya yang semakin terbatas. Namun, di tengah tekanan eksternal ini, ada satu fondasi internal yang seringkali luput dari perhatian para pengambil kebijakan: kondisi fisik dan kesejahteraan para pekerja kita. Di sinilah Ergonomi 5.0 hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai instrumen mitigasi krisis nasional.
Krisis Energi dan Urgensi Efisiensi Manusia
Ketegangan di Selat Hormuz seringkali berujung pada lonjakan harga BBM. Bagi industri besar, ini adalah soal pemangkasan profit. Namun bagi UKM, ini adalah soal hidup dan mati. Ketika biaya energi tidak bisa dikendalikan, maka satu-satunya variabel yang bisa kita optimalkan adalah efisiensi sistem kerja.
Sayangnya, banyak UKM kita yang masih terjebak dalam pola kerja tradisional yang boros energi manusia. Pekerja yang cepat lelah akibat desain stasiun kerja yang buruk, pencahayaan yang menguras energi mata, hingga metode angkat-angkut yang manual dan berisiko cedera, adalah bentuk pemborosan ekonomi yang nyata. Dalam kacamata Ergonomi Industri, kelelahan pekerja adalah “biaya tersembunyi” (hidden cost). Pekerja yang lelah akan menghasilkan lebih banyak produk cacat (defect), bekerja lebih lambat, dan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Di tengah ancaman krisis global akibat konflik AS-Iran, Indonesia tidak boleh membiarkan pemborosan ini terus terjadi.
Industri 5.0: Mitigasi Melalui Sentralitas Manusia
Kita sering mendengar istilah Industri 4.0 yang mendewakan otomatisasi. Namun, krisis geopolitik mengajarkan kita bahwa teknologi yang kaku akan runtuh saat rantai pasok terputus. Industri 5.0 menawarkan paradigma berbeda: Resiliensi melalui manusia.
Ledakan (boom) Industri 5.0 menekankan bahwa manusia adalah komponen yang paling adaptif dalam menghadapi krisis. Saat mesin cerdas gagal karena keterbatasan komponen impor, kreativitas dan ketangguhan manusia adalah penyelamatnya. Tugas kita melalui desain sistem kerja adalah memastikan “mesin biologis” iniyaitu para pekerja UKMberada dalam kondisi prima.
Intervensi Ergonomi 5.0 yang ditawarkan adalah penggunaan teknologi cerdas berbiaya rendah (frugal innovation). Misalnya, meja kerja yang terintegrasi dengan sensor IoT sederhana untuk memantau beban kerja fisik dan mental. Saat ketegangan global memaksa UKM untuk meningkatkan output dengan personil terbatas, sistem cerdas ini akan menjaga agar pekerja tidak melampaui batas kemampuan fisiologisnya. Ini adalah bentuk mitigasi tingkat mikro: menjaga produktivitas dengan menjaga manusianya.
Interdisipliner: Menghubungkan Teknologi dan Ketahanan Sosial
Mitigasi dampak konflik global memerlukan kolaborasi interdisipliner. Inovasi teknologi dalam sistem kerja harus bersinggungan dengan ketahanan sosial. UKM yang menerapkan standar ergonomi tinggi akan memiliki pekerja yang lebih sehat dan tangguh secara mental (resilient).
Konflik AS-Iran berpotensi memicu inflasi yang menekan daya beli masyarakat, yang pada gilirannya menekan mentalitas pekerja. Di sinilah Ergonomi Kognitif berperan. Kita harus mendesain sistem kerja yang mengurangi beban mental pekerja melalui antarmuka mesin yang sederhana dan lingkungan kerja yang nyaman. UKM yang mampu menjaga wellness pekerjanya di masa krisis adalah UKM yang akan selamat dari guncangan ekonomi global. Kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di Washington atau Teheran, tapi kita bisa mengontrol bagaimana sistem kerja di Palembang, Jakarta, atau Surabaya didesain untuk bertahan.
Menatap Agustus 2026 dan Kedaulatan Industri
Menyongsong forum internasional seperti UKMC International Conference pada Agustus 2026 mendatang, posisi Indonesia harus jelas: Kita sedang membangun kedaulatan industri yang berbasis pada manusia.
Ketegangan AS-Iran harus menjadi pengingat pahit bahwa ketergantungan pada variabel eksternal sangatlah berisiko. Mitigasi terbaik adalah dengan memperkuat fondasi internal industri kitayaitu manusia. Melalui harmonisasi antara sistem cerdas dan faktor manusia, kita menciptakan sebuah industri yang tidak hanya cerdas (intelligent), tapi juga manusiawi (human-centric) dan berkelanjutan(sustainable).
Di sinilah relevansi keilmuan Teknik Industri menemukan momentum emasnya. Sebagai disiplin ilmu yang berfokus pada integrasi sistem, Teknik Industri menawarkan solusi konkret melalui core Desain Sistem Kerja dan Ergonomi (DSKE), dikaji dan dianalisis berimbang antara knowledge dengan implementation di Innovation System Center Lab (Lab. ISC)Prodi Teknik Industri UKMC. Disiplin ini membuktikan bahwa di tengah badai krisis, jawaban bagi UKM bukanlah investasi teknologi mahal yang kaku, melainkan rekayasa efisiensi pada interaksi manusia dan sistemnya.
Teknik Industri hadir untuk memecahkan masalah (problem solving) UKM di saat kritis dengan mengubah keterbatasan menjadi keunggulan kompetitif; memangkas biaya melalui pengurangan kelelahan (fatigue), dan meningkatkan output melalui desain lingkungan kerja yang adaptif. Melalui harmonisasi antara sistem cerdas dan faktor manusia, kita menciptakan sebuah industri yang tidak hanya cerdas (intelligent), tapi juga manusiawi (human-centric) dan berkelanjutan (sustainable).
Investasi pada desain sistem kerja ergonomis bukan lagi sekadar urusan kesehatan dan keselamatan kerja (K3), melainkan strategi geopolitik untuk memastikan bahwa saat dunia sedang berguncang, industri rakyat kita tetap berdiri tegak, produktif, dan berdaya saing. Sudah saatnya kita sadar: teknologi akan terus berganti, konflik akan terus datang dan pergi, namun manusia yang sehat dan sistem kerja yang efisienyang dirancang dengan presisi ilmu Teknik Industriadalah modal utama kedaulatan sebuah bangsa.
Baca Juga :  In Memoriam SARWONO KUSUMAATMADJA DAN AKTIVIS KORIDOR TENGAH