Renungan hari ini: Tinggal dalam kasih-Nya

Renungan hari ini: Tinggal dalam kasih-Nya
Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Tinggal dalam kasih Tuhan, bukan sekedar perasaan, tetapi harus nyata dalam tindakan. Kita tidak hanya mampir atau singgah, tetapi tinggal, yang berarti hidup bersatu dan bersekutu dengan Dia.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 15: 9 – 11, yakni perintah supaya saling mengasihi. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata: “Tinggallah di dalam kasih-Ku.” Tinggal berarti menetap, berakar, menyatu, bukan sekadar mampir atau singgah, melainkan seperti ranting yang hidup dari pokok anggur, kita pun hanya bisa hidup, bertumbuh bila terhubung dengan Kristus. Perlu disadari bahwa Kasih bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan realitas yang nyata, melalui: doa yang tetap dipanjatkan meski lelah, ibadat yang diikuti meski HATI kering, serta ekaristi yang dirayakan sebagai sumber hidup. Dari sanalah KASIH mengalir. Namun KASIH harus tampak dalam keseharian lewat
ketulusan, pengampunan tanpa batas dan syarat, pelayanan yang setia walau tak diperhatikan, juga sikap pengorbanan yang rela mati atas ego demi hidup orang lain. Ingat, Kasih sejati harus berbuah nyata, sebagaimana yang ditegaskan oleh Paulus kepada Jemaat di Korintus yakni: sabar, murah hati, rendah hati, tidak pemarah, mengampuni, membela kebenaran, percaya, dan berharap (1 Kor. 13: 4 – 8). Buah KASIH juga hadir dalam tindakan sederhana: memberi makan yang lapar, menolong yang lemah, mengorbankan waktu demi sesama. Jadi,
janji Yesus jelas: “Supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.” Sukacita ini bukan tawa palsu, melainkan damai yang dalam, kekuatan yang tenang, kegembiraan yang tidak tergantung situasi, karena kita tahu, kita sungguh dikasihi.

Pesan Untuk Kita

Baca Juga :  Renungan hari ini: Angkatan Yang Jahat

Para saudaraku, tinggal dalam kasih-Nya berarti hidup yang berakar pada Kristus dan berbuah bagi sesama. Jangan hanya datang dan pergi—tetaplah tinggal. Biarlah dari hidup kita, orang lain melihat wajah Kasih itu sendiri, dan sukacita sejati mengalir tanpa henti.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah saya sungguh menetap dalam kasih Kristus, atau hanya sekadar “berkunjung” saat doa dan ibadat?
2. Bagaimana kasih itu sudah tampak nyata dalam sikap, perkataan, dan tindakan saya sehari-hari?
3. Buah kasih apa yang paling perlu saya tumbuhkan saat ini agar hidup saya membawa sukacita sejati bagi sesama?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk sungguh tinggal dalam kasih-Mu, bukan hanya sesaat tetapi menetap dan berakar di dalam Engkau. Biarlah kasih-Mu nyata dalam doa, ibadat, ekaristi dan terutama dalam sikap serta perbuatan kami setiap hari. Jadikan hidup kami ranting yang berbuah: sabar, murah hati, mengampuni, dan melayani dengan tulus.
Isi hati kami dengan sukacita-Mu yang penuh, agar dunia melihat wajah kasih-Mu melalui hidup kami.
Amin.