SIAPA YANG DIUNTUNGKAN OLEH PERANG IRAN VERSUS ISRAEL + USA – What Next Untuk Indonesia?

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN OLEH PERANG IRAN VERSUS ISRAEL + USA - What Next Untuk Indonesia?

mediasumatera.id – Di sebuah pom bensin di pinggir kota Jakarta, seorang kelas menengah urban dengan mobil SUVnya memandangi angka meteran bensin Pertamax Turbo yang terus bergerak naik.

Namanya Arif. Usianya empat puluh dua tahun.

Ia tidak pernah membaca laporan Reuters. Ia tidak tahu apa itu Selat Hormuz. Ia bahkan tidak terlalu peduli siapa menyerang siapa di Timur Tengah.

Tetapi pagi itu ia merasakan sesuatu yang aneh. Harga bensin naik lagi.

Ia menghitung uang di sakunya pelan-pelan. Hari itu ia mulai menghitung ulang cicilan rumah, biaya sekolah anak, dan pengeluaran bulan itu.

Di layar televisi kecil di warung dekat SPBU, berita perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat terus berulang. Rudal melintas di langit. Asap hitam membumbung di pelabuhan minyak. Para analis berbicara soal geopolitik global.

Namun bagi Arif, perang itu terasa jauh sekaligus sangat dekat.

Karena setiap ledakan di Timur Tengah perlahan masuk ke hidupnya: melalui harga BBM,
harga pangan, ongkos logistik,
dan biaya hidup yang naik diam-diam.

Dan saat melihat wajah lelah Arif pagi itu, saya sadar: Dalam dunia modern, perang tidak lagi berhenti di medan tempur.

Perang kini ikut masuk ke dapur rakyat banyak.

-000-

Reuters pada Mei 2026 melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar dunia menjadi salah satu pihak yang memperoleh keuntungan besar dari volatilitas perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat.

Salah satunya adalah BP.

Reuters menjelaskan bahwa profit BP melonjak karena trading minyak dan volatilitas energi global selama konflik berlangsung.

Dalam kuartal pertama 2026 saja, profit divisi trading BP melonjak dari 103 juta dolar AS menjadi 2,5 miliar dolar AS, atau sekitar Rp41 triliun rupiah. Sebagian lahir dari ketakutan dunia terhadap perang.

Bagaimana cara menghitungnya?
Sederhana sekaligus tragis.

Ketika perang membuat pasar takut pasokan minyak terganggu, harga minyak dunia melonjak. Volatilitas meningkat. Perusahaan seperti BP, Shell, dan TotalEnergies bukan hanya menjual minyak mentah.

Mereka juga memiliki divisi trading energi global yang sangat besar. Mereka memperoleh keuntungan dari:

* lonjakan harga,
* arbitrase pengiriman,
* selisih harga regional,
* kontrak derivatif,
* dan panic buying energi.

Dalam dunia energi modern, rasa takut telah berubah menjadi komoditas ekonomi.

Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, perang bukan hanya menciptakan kehancuran.

Perang juga menciptakan windfall profit bagi sebagian korporasi global.

-000-

ExxonMobil dan Chevron, dua raksasa minyak Amerika Serikat, juga ikut diuntungkan. Harga minyak yang tinggi menaikkan nilai produksi mereka secara signifikan.

Amerika Serikat hari ini berbeda dengan Amerika tahun 1970-an.

Dulu, Amerika sangat takut harga minyak tinggi karena bergantung pada impor minyak Timur Tengah.
Tetapi shale revolution mengubah sejarah.

Melalui fracking dan eksplorasi shale oil, Amerika berubah menjadi salah satu produsen energi terbesar dunia.

Baca Juga :  Pangdam XIII/Merdeka Sertijab Sembilan Pejabat Utama Kodam

Akibatnya, ketika harga minyak melonjak akibat perang Iran, sebagian perusahaan energi Amerika justru menikmati keuntungan besar.

Tetapi ironi segera muncul.

Apa yang menjadi keuntungan bagi ExxonMobil dan Chevron belum tentu menjadi keuntungan bagi rakyat Amerika.

Karena ketika harga minyak naik, harga bensin di Amerika ikut melonjak. Di beberapa negara bagian, harga bensin sempat naik lebih dari 30 persen dibanding periode sebelum perang.

Rakyat mulai marah.

Demo muncul di berbagai kota. Media sosial dipenuhi keluhan sopir truk, pekerja harian, dan keluarga kelas menengah yang mulai kesulitan menghadapi biaya hidup.

Ketika saya mengunjungi Los Angeles, sepulang dari konferensi minyak International CERAWeek, Maret 2026, saya ikut menyaksikan gelombang demo Anti- Donald Trump. Total rakyat yang ikut demo di seluruh Amerika Serikat sebanyak tujuh juta orang.

Presiden Amerika mungkin tidak dikalahkan oleh rudal Iran.

Tetapi banyak pemimpin politik Amerika dalam sejarah justru terguncang oleh satu hal yang lebih sederhana: naiknya harga bensin.

Dalam politik Amerika, kenaikan bensin sering lebih berbahaya daripada pidato musuh.

Karena rakyat tidak setiap hari melihat perang di Timur Tengah. Tetapi mereka melihat harga pompa bensin setiap pagi.

Dan dari sana saya memahami satu hal: Dalam dunia modern, energi bukan sekadar soal minyak.

Energi adalah soal emosi publik.

-000-

Tetapi apa yang terjadi di Amerika belum seberat yang dirasakan negara net importer energi seperti Indonesia. Indonesia justru berada di posisi yang lebih rentan.

Mengapa?

Karena Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan BBM dalam jumlah sangat besar.

Nilai impor migas Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran:
30 sampai 35 miliar dolar Amerika Serikat per tahun.

Jika dikonversi dengan kurs Rp16.000 per dolar, nilainya mencapai sekitar Rp480 hingga Rp560 triliun rupiah per tahun.

Angka itu terjadi ketika harga minyak berada di kisaran:
70 sampai 80 dolar per barel.

Masalahnya, perang membuat harga minyak bergerak jauh lebih tinggi. Dan di situlah luka ekonomi Indonesia mulai terasa.

Setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 dolar per barel diperkirakan dapat menambah beban impor energi Indonesia sekitar: 3 hingga 3,5 miliar dolar Amerika Serikat per tahun.

Jika dikonversi ke rupiah:
sekitar Rp50 hingga Rp60 triliun rupiah tambahan per tahun.

Lima puluh triliun rupiah.

Hanya karena satu kenaikan harga minyak global. Dan itu belum menghitung:

* subsidi,
* inflasi,
* pelemahan rupiah,
* dan multiplier effect ekonomi lainnya.

Ironinya sangat besar. Pertamina Hulu Energi, tempat saya bekerja menjadi Komisaris Utama, sebagai perusahaan upstream memang bisa menikmati kenaikan harga minyak.

Revenue naik.
Dolar menguat.
Nilai produksi meningkat.

Tetapi di sisi lain, Pertamina sebagai grup secara keseluruhan tetap menghadapi tekanan besar:

Baca Juga :  Soft Launching Perhimpunan Minahasa Raya dan Pakatuan Dihadiri Tokoh-Tokoh Sulawesi Utara

* impor BBM,
* subsidi,
* stabilitas harga domestik,
* dan tekanan fiskal nasional.

Apa yang diperoleh satu sisi, sering hilang di sisi lain. Dan itu menunjukkan satu kenyataan pahit:

Indonesia belum sepenuhnya merdeka energi.

-000-

Dua buku penting membantu kita memahami hubungan antara perang, geopolitik, dan keuntungan perusahaan minyak.

Pertama, buku berjudul:
The Prize: The Epic Quest for Oil, Money & Power karya Daniel Yergin, tahun 1991.

Buku ini dianggap salah satu karya terbesar dalam sejarah energi modern. Daniel Yergin menunjukkan bahwa minyak sejak awal bukan sekadar komoditas ekonomi.

Minyak adalah sumber kekuasaan geopolitik.

Buku ini memperlihatkan bagaimana perang dunia, kudeta, konflik Timur Tengah, hingga diplomasi global selama abad ke-20 hampir selalu terkait dengan perebutan energi.

Yang paling relevan dengan perang Iran hari ini adalah kesadaran bahwa ketakutan terhadap gangguan pasokan minyak selalu menciptakan lonjakan harga dan redistribusi kekayaan global.

Negara produsen diuntungkan.
Trader energi diuntungkan.
Perusahaan minyak besar memperoleh windfall profit.

Tetapi negara importir menanggung inflasi, subsidi, dan tekanan ekonomi.

Yergin juga menunjukkan bahwa perusahaan minyak besar sering berada di posisi unik: mereka hidup di tengah perang, tetapi sekaligus memperoleh keuntungan dari ketidakstabilan itu.

Dan dari sana lahir satu ironi besar:
peradaban modern membutuhkan minyak untuk hidup, tetapi minyak sering membuat dunia tidak pernah benar-benar damai.

Apa yang ditulis Yergin pada 1991 terulang persis hari ini. Selat Hormuz, ketakutan pasar, dan lonjakan harga BP membuktikan: sejarah minyak adalah sejarah ketakutan yang dimonetisasi.

-000-

Kedua, buku: Private Empire: ExxonMobil and American Power karya Steve Coll, 2012.

Buku ini sangat penting karena menjelaskan bagaimana perusahaan minyak raksasa seperti ExxonMobil memiliki pengaruh geopolitik yang kadang mendekati negara besar.

Steve Coll menunjukkan bahwa perusahaan minyak global tidak sekadar menjual energi.

Mereka:

* bernegosiasi dengan presiden,
* masuk ke wilayah perang,
* mempengaruhi diplomasi,
* dan menentukan arah investasi energi global.

Yang paling menarik dari buku ini adalah bagaimana ExxonMobil tetap mampu bertahan bahkan di tengah krisis geopolitik besar: Irak, Rusia,
Afrika, dan Timur Tengah.

Buku ini memperlihatkan dalam dunia energi modern, perusahaan minyak besar sering memiliki kemampuan:

* membaca geopolitik,
* mengelola risiko,
* dan memanfaatkan volatilitas global
lebih cepat dibanding banyak negara.

Private Empire juga memperlihatkan satu kenyataan yang sering tidak nyaman: kadang perusahaan energi global memiliki daya tahan dan fleksibilitas lebih besar daripada negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.

Dan mungkin itulah sebabnya perang modern selalu menghasilkan dua cerita berbeda: sebagian pihak kehilangan stabilitas, sementara sebagian lain justru memperoleh kekuatan baru.

Pelajaran Coll bagi Indonesia jelas. PHE dan Pertamina harus belajar membaca geopolitik secepat ExxonMobil — bukan untuk meniru imperiumnya, tetapi untuk melindungi kedaulatan energi bangsa sendiri.

Baca Juga :  Ikut Berpartisipasi, 3 Karyawati PT MEP Terima Penghargaan Apresiasi

-000-

Lalu apa yang harus dilakukan Indonesia? Jawabannya tidak cukup sekadar membeli minyak lebih murah.

Indonesia harus mempercepat:
kemandirian energi nasional.

Pertama: Pertamina dan PHE harus memperluas M&A ke berbagai kawasan dunia agar tidak terlalu bergantung pada satu titik geopolitik.

Afrika.
Asia Tengah.
Amerika Latin.
Asia Tenggara.
Dan frontier offshore baru.

PHE sudah mulai bergerak. Pemetaan ladang minyak area yang sudah ada jejak kaki sebelumnya, di Irak, Algeria dan Malaysia, kini dikaji serius. Kemandirian energi tidak lahir dari pidato, tetapi dari peta dan keberanian.

Kedua: Indonesia harus mempercepat produksi domestik.

Offshore.
Deepwater.
Idle wells.
Natural gas.
Geothermal.
Dan reservoir lama yang kini bisa dibaca ulang dengan AI.

Ketiga:
Indonesia harus membangun ketahanan energi nasional:

* refinery,
* storage,
* strategic reserve,
* biofuel,
* SAF,
* dan transisi energi realistis.

Karena perang Iran memberi satu pelajaran besar: Dunia belum selesai dengan minyak.

Satu konflik di Selat Hormuz masih mampu mengguncang ekonomi global.

-000-

Saya teringat Arif di pom bensin pagi itu. Ia mungkin tidak pernah membaca buku geopolitik energi.

Tetapi ia memahami sesuatu yang lebih sederhana dan lebih nyata: Bahwa ketika dunia terbakar jauh di sana, hidup rakyat banyak ikut bergetar di sini.

Dan mungkin itulah sebabnya kemandirian energi bukan sekadar proyek ekonomi.

Ia adalah soal martabat bangsa.

Karena bangsa yang bergantung penuh pada energi asing akan selalu ikut gemetar setiap kali dunia terbakar.

Dan mungkin sejarah abad ke-21 akan mengingat satu hal:

Pada akhirnya, kedaulatan energi bukan sekadar angka di neraca perdagangan atau ekspansi ladang minyak. Ia adalah perisai terakhir yang menjaga agar dapur rakyat banyak tetap mengepul saat badai dunia menerjang.

Negara yang bertahan bukan hanya negara yang memiliki minyak paling banyak, tetapi negara yang paling cepat mengubah krisis menjadi kedaulatan.*

Jakarta, 13 Mei 2026

(Perluasan Orasi Denny JA selaku Komisaris Utama PHE dalam acara jumpa sesama komisaris utama anak perusahaan di seluruh wilayah, 12 Mei 2026)

-000-

REFERENSI

1. The Prize: The Epic Quest for Oil, Money & Power
Daniel Yergin
Simon & Schuster, 1991

2. Private Empire: ExxonMobil and American Power
Steve Coll
Penguin Press, 2012

3. Reuters:?Big Oil to Reap Billions From Iran War Windfall After a Month of Soaring Energy Prices — Reuters, 27 Maret 2026

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/18dHHJFgxk/?mibextid=wwXIfr