mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Barangkali kita termasuk orang yang rajin berdoa, beribadat dan berekaristi, tetapi apakah hati kita dekat dengan Tuhan? Atau fisik kita tampaknya dekat dengan Tuhan, namun hati kita ternyata jauh dari-Nya. Ketika kita tampaknya rajin berdoa, beribadat dan berekaristi, namun hati kita jauh dari-Nya, maka kita tidak akan bisa melakukan kehendak Tuhan. Dengan demikian, tidak mungkin kita akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 7: 21 – 29. Para saudaraku, Yesus menegaskan: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku.”Doa, ibadat, dan ekaristi memang penting, tetapi bukan sekadar rutinitas. Semua itu harus BERBUAH dalam kehidupan nyata: dalam PELAYANAN, KASIH, PENGAMPUNAN, dan KETAATAN. Orang yang bijaksana adalah dia yang mendengar Sabda dan melakukannya, ia ibarat membangun rumah di atas batu karang. Hujan, banjir, dan angin tidak merobohkannya, sebab fondasinya adalah KETAATAN. Sebaliknya, orang yang hanya berseru “Tuhan, Tuhan” tanpa BUAH nyata, ibarat membangun di atas pasir. Doanya panjang, ibadah dan ekaristinya rajin, pelayanannya sibuk, tetapi hatinya jauh dari Tuhan. Itulah orang bodoh, dan rumah hidupnya akan rubuh. Rajin berdoa, beribadat, dan berekaristi harus TAMPAK dalam PELAYANAN sehari-hari: di keluarga, komunitas, dan di tempat kerja. Itulah tanda orang bijaksana yang sungguh mengenal Tuhan.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, suara lantang: “Tuhan, Tuhan!” tidak menjamin surga. Yang menentukan adalah HATI yang taat dan hidup yang BERBUAH. Allah tidak menilai volume doa kita, tetapi kesetiaan kita melakukan kehendak-Nya. Dan hanya mereka yang hidup dalam KASIH dan KETAATAN akan mendengar suara indah di akhir zaman: “Baik sekali, hamba-Ku yang setia, masuklah ke dalam sukacita Tuhanmu.”
Pertanyaan Refleksi
1. Apakah doa, ibadat, dan ekaristi saya, sungguh berbuah dalam KASIH dan pelayanan nyata, atau hanya berhenti sebagai rutinitas rohani?
2. Apakah saya membangun hidup di atas batu ketaatan pada kehendak Tuhan, atau di atas pasir kebiasaan tanpa perubahan?
3. Bagaimana saya mewujudkan iman dalam keluarga, komunitas, dan tempat kerja, sehingga orang lain melihat buah nyata dari relasi saya dengan Tuhan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan, ajarlah kami bukan hanya berseru,
tetapi taat melakukan kehendak-Mu. Biarlah doa, ibadat, dan ekaristi kami berbuah nyata dalam KASIH dan PELAYANAN
di keluarga, komunitas, dan di tempat kerja.
Jadikan kami bijaksana, membangun hidup di atas batu, agar layak mendengar sabda indah-Mu: “Baik sekali, hamba-Ku yang setia.”
Amin.







