Renungan hari ini: Jangan Keraskan Hatimu

Renungan hari ini: Jangan Keraskan Hatimu

mediasumatera.id – Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Hati manusia adalah kompas moral bagi pikiran yang liar, demikian kata filsuf Perancis Gabriel Marsel. Itu artinya jika hati manusia keras, maka akan berpengaruh pada mindset. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Kornelius, Paus dan Martir; Santo Siprianus, Uskup dan Martir

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 7: 31 – 35, yakni Yesus dan Yohanes Pembaptis. Para saudaraku, Yesus menggambarkan orang zaman-Nya seperti anak-anak di pasar: ada yang meniup seruling, tetapi tak seorang pun menari; ada yang meratap, tetapi tak seorang pun menangis. Gambaran ini bukan sekadar tentang anak-anak, melainkan tentang HATI manusia yang menolak mendengar. Yohanes datang dengan seruan keras, dituduh kerasukan. Yesus datang dengan KASIH, dituduh pelahap. Masalahnya bukan pada cara Tuhan menyapa, melainkan pada HATI yang sudah tertutup. HATI yang keras bukan karena tidak ada cahaya atau suara, melainkan karena menolak melihat dan mendengar. Dunia modern pun demikian: sibuk berbicara, tetapi enggan mendengar; cepat mengkritik, tetapi lambat memahami. Egoisme dan narsisme membuat kita merasa paling benar, paling tahu, paling berhak. Firman dibaca, tetapi tidak lagi mengubah. Nasihat didengar, tetapi segera dibantah. HATI yang keras sering berbisik, “Aku sudah tahu,” dan justru di situlah bahayanya. Namun Yesus menutup dengan harapan: “Hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” Kebenaran Allah tidak pernah gagal. Ia hanya menunggu HATI yang lunak, HATI yang mau mendengar sebelum menghakimi, HATI yang memberi ruang bagi Tuhan dan sesama.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, hari ini, jangan keraskan hatimu. Dunia boleh egois, narsistik, dan kaku, tetapi Tuhan mencari HATI yang terbuka. HATI yang lembut adalah tanah subur bagi firman, tempat hikmat Allah berakar dan berbuah nyata. Jangan tunggu sampai hidup memaksa kita berlutut. Pilihlah sekarang: tetap merasa paling benar dan berjalan sendiri, atau membuka HATI dan berjalan bersama Tuhan. Karena di HATI yang lunak, Tuhan menemukan ruang untuk berkarya. Dan di HATI yang terbuka, hidup kita sendiri akan menjadi bukti bahwa hikmat-Nya benar.

Pertanyaan Refleksi

1. Apakah dalam hidup sehari-hari saya lebih sering mendengar untuk memahami, atau hanya mendengar untuk membantah?
2. Bagaimana sikap egois dan rasa “paling benar” membuat saya sulit berubah dan menutup ruang bagi suara Tuhan maupun sesama?
3. Langkah konkret apa yang bisa saya lakukan hari ini agar HATI saya lebih terbuka, mau mendengar, dan memberi ruang bagi Tuhan untuk berkarya?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang penuh KASIH, lunakkanlah HATI kami yang sering tertutup oleh ego dan kesombongan. Ajarlah kami untuk mau mendengar sebelum menghakimi, untuk memberi ruang bagi suara-Mu dan sesama. Jauhkanlah kami dari sikap merasa paling benar,
dan bentuklah HATI yang lembut, agar hidup kami BERBUAH nyata dalam KASIH dan kebenaran-Mu. Amin.