Opini  

KETIKA BAYI-BAYI TANPA SUARA MENGUBAH KEBIJAKAN NEGARA

KETIKA BAYI-BAYI TANPA SUARA MENGUBAH KEBIJAKAN NEGARA

– Inspirasi dari Film The Girl with the Needle, 2024

 

Oleh Denny JA

 

mediasumatera.id – Pada Agustus 1920, Karoline Aagesen menyerahkan bayi perempuannya yang baru berusia dua bulan kepada Dagmar Overby. Namun naluri seorang ibu kadang mendengar sesuatu yang gagal didengar dunia.

 

Hatinya berubah. Ia kembali meminta anak itu pulang. Tetapi sebuah pintu telah tertutup, dan di baliknya, maut sedang menyembunyikan jejaknya.

 

Dagmar mengelak. Karoline mendesak. Polisi akhirnya datang. Di dalam tungku ditemukan abu dan serpihan tulang, seperti sisa terakhir kehidupan yang gagal diselamatkan.

 

Seorang ibu memang datang terlambat bagi anaknya sendiri. Tetapi kegelisahannya menjadi lonceng yang membangunkan sebuah negeri dan menyelamatkan bayi-bayi berikutnya.

 

Kelak Denmark mengetahui kengerian yang lebih besar. Dagmar dihukum atas pembunuhan sembilan bayi yang dipercayakan kepadanya sepanjang 1913 sampai 1920. Dalam pemeriksaan, ia bahkan mengaku membunuh lebih banyak lagi.

 

Namun sejarah tidak berhenti di ruang pengadilan. Darah yang telah mengering ternyata masih mempunyai perjalanan panjang, menuju kesadaran publik dan meja pembuat undang-undang.

 

Muncullah pertanyaan yang lebih besar: bolehkah negara hanya menghukum pembunuh, kemudian mencuci tangan dari keadaan sosial yang membuat begitu banyak bayi mudah menjadi korban?

 

Pertanyaan itulah yang membuat kisah Dagmar melampaui kriminalitas. Kematian bayi-bayi tanpa suara itu perlahan berubah menjadi suara yang tidak dapat diabaikan negara.

 

Kisah mereka akhirnya sampai ke gedung parlemen. Tiga tahun kemudian, hukum Denmark berubah. Dari sebuah tungku kematian, lahirlah sebagian arsitektur perlindungan kehidupan.

 

-000-

 

The Girl with the Needle terasa seperti mimpi buruk yang menemukan kamera. Magnus von Horn menyutradarainya dan menulis skenario bersama Line Langebek Knudsen.

 

Film produksi Denmark, Polandia, dan Swedia tahun 2024 ini dibintangi Vic Carmen Sonne sebagai Karoline, Trine Dyrholm sebagai Dagmar, dan Besir Zeciri sebagai Peter.

 

Film berdurasi 123 menit itu berkompetisi memperebutkan Palme d’Or di Cannes. Denmark kemudian mengirimkannya ke ajang Oscar, dan film ini masuk nominasi Best International Feature Film pada Academy Awards 2025.

 

Prestasi visualnya bahkan lebih istimewa. Sinematografer Michał Dymek memenangkan Golden Frog di Camerimage, salah satu penghargaan paling bergengsi dunia untuk sinematografi film panjang.

 

Hitam-putih di sini bukan sekadar ketiadaan warna. Ia menjadi bahasa penderitaan, seolah kehidupan telah terlalu lama menangis hingga dunia kehilangan seluruh warnanya.

 

Copenhagen tampak seperti kota yang dinding-dindingnya perlahan bergerak mendekati manusia. Lorong menjadi perangkap, kamar menjadi kurungan, dan jalanan seperti kehilangan cakrawala.

 

Wajah, asap, bayangan, dan ruang sempit membuat kemiskinan hampir mempunyai bau. Kita seperti dapat merasakan dingin yang menempel pada kulit Karoline.

 

Saya jarang menemukan film yang keindahan visualnya justru membuat penderitaan semakin mengganggu. Gambarnya indah, tetapi keindahan itu seperti bunga yang tumbuh di kuburan.

 

Kritikus di Cannes menyebut film ini dongeng yang puitis dan gelap. Von Horn sendiri mengatakan ia ingin menjelajahi kemungkinan menjadi manusia baik ketika hidup menyerupai neraka.

 

-000-

 

Film ini cukup mencekam. Sepanjang film, saya seolah ikut hidup dalam denyut sehari-hari para tokohnya.

 

Perlu dicatat, Karoline dalam film adalah tokoh rekaan. Namanya sama dengan ibu sungguhan yang membongkar kejahatan Dagmar, tetapi kisah hidupnya diciptakan untuk layar.

 

Saya seperti memasuki Copenhagen sesudah Perang Dunia Pertama. Karoline bekerja sebagai penjahit di sebuah pabrik. Suaminya, Peter, menghilang dalam perang, tetapi belum secara resmi dinyatakan meninggal.

 

Tanpa kepastian kematian Peter, Karoline tak memperoleh kompensasi janda. Ia miskin, kehilangan tempat tinggal, lalu menjalin hubungan dengan Jørgen, pemilik pabrik tempatnya bekerja.

 

Karoline hamil. Ia membayangkan perkawinan akan menjadi jembatan menuju keselamatan. Tetapi ibu Jørgen menolak, dan jembatan itu runtuh sebelum sempat diseberangi.

 

Kemudian Peter pulang dengan wajah rusak akibat perang. Lelaki yang dianggap hilang itu kembali, tetapi kepulangannya justru membuat dunia Karoline semakin kehilangan bentuk.

 

Putus asa, Karoline mencoba menggugurkan kandungannya dengan jarum di pemandian umum. Di sanalah Dagmar datang, menolongnya, kemudian menawarkan jalan keluar yang tampak manusiawi.

 

Dagmar menjalankan jasa rahasia untuk mencarikan keluarga asuh bagi bayi-bayi tak dikehendaki. Karoline melahirkan, menyerahkan bayinya, lalu karena tak mampu membayar, bekerja sebagai ibu susu bagi Dagmar.

 

Perlahan neraka memperlihatkan wajahnya. Karoline mengikuti Dagmar dan menyaksikannya mencekik seorang bayi. Dagmar kemudian mengaku telah membunuh semua bayi yang diterimanya, termasuk anak Karoline.

 

Yang lebih gelap, Karoline sendiri ikut terseret. Dalam sebuah pergulatan dengan Dagmar, seorang bayi mati terbekap di antara mereka. Tangan yang ingin menyelamatkan pun akhirnya tersentuh kematian.

 

Dagmar akhirnya tertangkap. Karoline kembali kepada Peter, lelaki berwajah rusak yang ternyata masih menyimpan kelembutan, lalu mengadopsi Erena, anak yang hidup bersama Dagmar.

 

Ending itu tidak menawarkan kebahagiaan sempurna. Film hanya memberikan sesuatu yang lebih jujur: manusia tidak dapat menghidupkan korban, tetapi masih dapat menghentikan korban berikutnya.

 

-000-

 

Keistimewaan pertama film ini terletak pada keberaniannya mempertanyakan siapa sebenarnya monster. Jawaban yang mula-mula terlihat sederhana perlahan berubah menjadi teka-teki moral yang mengganggu.

 

Peter mempunyai wajah menakutkan karena perang, tetapi masih mampu mencintai. Dagmar berwajah biasa, bahkan keibuan, tetapi tangannya mengantarkan bayi-bayi menuju kematian.

 

Lalu muncul monster ketiga, tanpa wajah dan tanpa nama. Ia adalah lingkungan sosial yang membiarkan perempuan miskin, ibu tunggal, dan bayi rentan jatuh tanpa jaring.

 

Namun satu hal harus ditegaskan. Struktur sosial yang buruk dapat menjelaskan konteks sebuah kejahatan, tetapi tidak pernah menghapus tanggung jawab pribadi seorang pembunuh.

 

Justru kekuatan film terletak pada pembedaan itu. Kita dapat menghukum Dagmar sepenuhnya, sambil bertanya mengapa begitu banyak bayi begitu mudah diserahkan kepadanya.

 

Keistimewaan kedua adalah penggambarannya tentang kemiskinan sebagai penyempitan pilihan. Karoline memang mengambil keputusan buruk, bahkan ikut terseret dalam sebuah kematian, tetapi hampir setiap jalan di hadapannya telah dipersempit keadaan.

 

Kemiskinan dalam film ini bukan sekadar dompet kosong. Ia seperti ruangan yang udaranya menipis setiap hari, sampai pilihan pun ikut habis.

 

Akhirnya manusia tidak lagi memilih antara baik dan buruk. Ia memilih antara dua luka, dua kehilangan, dua jalan yang sama-sama meminta sesuatu dikorbankan.

 

Antara kelaparan dan kehilangan anak. Antara kehormatan dan keselamatan. Pada titik tertentu, kebebasan hanyalah sebuah pintu yang dilukis indah pada tembok.

 

Di sini saya merasa film tersebut meninggalkan Denmark tahun 1920. Ia memasuki zaman kita, mempertanyakan kebebasan yang sering dibicarakan tanpa menghitung kesempatan nyata manusia.

 

Keistimewaan ketiga adalah tubuh perempuan sebagai arena kekuasaan sosial. Kehamilan Karoline menentukan pekerjaan, perkawinan, kelas sosial, reputasi, bahkan kemungkinan dirinya mempunyai masa depan.

 

Karena itu, jarum dalam judul film bukan sekadar benda tajam. Ia menjadi metafora tentang manusia yang dipaksa mencari jalan keluar melalui tubuhnya sendiri.

 

Adegan itu sulit dilupakan, bukan terutama karena darahnya, melainkan karena kesepiannya. Tak ada institusi yang hadir ketika seorang perempuan merasa hanya jarum yang tersedia.

 

Film akhirnya mengajukan pertanyaan yang jauh melampaui aborsi. Apa jadinya ketika moralitas menuntut seseorang bertanggung jawab, tetapi masyarakat meninggalkannya sendirian menanggung seluruh konsekuensinya?

 

-000-

 

Benarkah kisah nyata di balik film itu ikut memengaruhi kebijakan negara?

 

Di sinilah sejarah nyata menjadi lebih mencengangkan daripada film. Denmark sebenarnya telah mengenal pengawasan anak asuh sebelum perkara Dagmar. Aturan dan perdebatan tentang anak asuh sudah berjalan sejak akhir abad ke-19.

 

Karena itu, tidak tepat mengatakan perlindungan anak Denmark sepenuhnya bermula dari Dagmar. Reformasi telah mempunyai sejarah, perdebatan, dan proses kelembagaan sebelum kejahatannya terbongkar.

 

Gagasan pembaruan perlindungan anak pun sudah dibahas di lingkungan pemerintahan sebelum perkara itu meledak. Sejarah hampir tidak pernah mempunyai satu ibu kandung.

 

Namun kasus Dagmar menjadi katalisator luar biasa. Undang-undang tentang pengawasan anak tahun 1923, yang berlaku sejak 1924, lahir sebagai buah dari kasus tersebut bersama perdebatan publik yang mengikutinya.

 

Perubahan terpenting menyentuh kelompok yang sangat rentan. Semua anak yang lahir di luar perkawinan masuk cakupan pengawasan, sebuah sistem yang kemudian bertahan sampai 1965.

 

Inilah perubahan paradigma. Negara tidak lagi cukup menunggu kejahatan terjadi. Negara mulai memasuki wilayah pencegahan, menjaga anak sebelum tragedi berubah menjadi perkara pidana.

 

Perdebatan publik juga menyoroti kebutuhan mendesak akan rumah bagi para ibu serta perlunya tanggung jawab sosial yang lebih besar terhadap ibu tunggal dan anak-anak mereka.

 

Namun kebijakan itu mempunyai sisi problematis. Memasukkan seluruh anak di luar perkawinan dalam pengawasan berpotensi menjadikan semua ibu tunggal sebagai kelompok yang dicurigai.

 

Di sinilah keseimbangan diperlukan. Perlindungan anak jangan berubah menjadi penghukuman ibu. Negara harus mengawasi risiko tanpa merampas martabat keluarga yang sedang berada dalam kesulitan.

 

Pelajaran kebijakannya kuat. Hukum terbaik bukan hanya hukum yang datang membawa borgol setelah kematian, tetapi perlindungan yang tiba sebelum seseorang berubah menjadi korban.

 

Ada sesuatu yang sangat menyentuh di sini. Bayi-bayi yang tak pernah belajar berbicara akhirnya mempunyai suara melalui perubahan sebuah institusi bernama negara.

 

-000-

 

Refleksi ini melampaui batas sejarah Denmark. Stigma, kemiskinan ekstrem, dan ketiadaan jaring pengaman sosial bagi kelompok rentan tetap menjadi ancaman nyata yang terus membayangi .

 

Dua buku berikut dapat membantu kita memahami isu ini lebih mendalam. Keduanya memang tidak membahas Denmark, tetapi memotret dunia sosial yang serupa: kota Eropa, perempuan miskin, stigma, dan bayi-bayi yang dianggap beban.

 

Buku pertama: Joshua G. Stuart-Bennett, Motherhood, Respectability and Baby-Farming in Victorian and Edwardian London, Routledge, 2023.

 

Ia memberi kunci intelektual untuk memahami dunia sosial yang memungkinkan sosok seperti Dagmar muncul.

 

Buku ini menunjukkan baby-farming sebagai pasar tersembunyi yang tumbuh bersama stigma kehamilan di luar perkawinan dan obsesi masyarakat Victoria terhadap kehormatan perempuan.

 

Seorang bayi dapat mengancam reputasi, pekerjaan, perkawinan, bahkan penerimaan sosial ibunya. Maka muncullah perantara berbayar yang menawarkan pengasuhan atau pelepasan anak secara tersembunyi.

 

Stuart-Bennett menolak penjelasan sederhana. Baby-farming bukan semata cerita beberapa perempuan kejam, melainkan sisi gelap sistem sosial yang secara diam-diam menghasilkan permintaannya sendiri.

 

Di situlah buku ini bertemu dengan film. Kejahatan memang mempunyai pelaku, tetapi beberapa kejahatan juga mempunyai pasar, pelanggan, insentif, stigma, dan ekosistem sosial.

 

Monster kadang lahir sebagai individu. Tetapi kadang masyarakat menyediakan kamar gelap tempat monster tumbuh, sementara orang-orang terhormat memilih tidak menyalakan lampu.

 

-000-

 

Buku kedua: Rachel Fuchs, Poor and Pregnant in Paris: Strategies for Survival in the Nineteenth Century, Rutgers University Press, 1992.

 

Fuchs memperluas persoalan dari kriminalitas menuju sejarah kemiskinan perempuan.

 

Melalui kesaksian pengadilan dan sejarah sosial, Fuchs menelusuri bagaimana perempuan miskin Paris menghadapi pekerjaan rapuh, kehamilan, persalinan, bantuan amal, aborsi, bahkan pembunuhan bayi.

 

Yang terpenting, buku ini memperlihatkan hubungan pengalaman perempuan biasa dengan pertumbuhan negara kesejahteraan. Kebijakan sosial ternyata lahir pula dari tubuh-tubuh yang pernah ditinggalkan.

 

Membaca Fuchs setelah menonton kisah Karoline menghasilkan pemahaman berbeda. Kemiskinan bukan hanya kekurangan uang, tetapi dapat menjadi kekurangan pilihan, perlindungan, bahkan masa depan yang terbayangkan.

 

Namun ada bahaya intelektual yang harus dihindari. Memahami tekanan sosial bukan berarti menganggap orang miskin kehilangan agensi, apalagi menjadikan kemiskinan sebagai pembenaran kekerasan.

 

Justru teori sosial berguna ketika membantu kita memisahkan dua pertanyaan: siapa bertanggung jawab atas kejahatan, dan kondisi apa yang membuat kejahatan lebih mungkin terjadi.

 

Dua pertanyaan itu tidak saling meniadakan. Yang pertama menjaga tanggung jawab moral. Yang kedua menjaga masyarakat agar tidak terus memproduksi panggung bagi tragedi berikutnya.

 

-000-

 

Seusai menonton film ini, saya tidak segera memikirkan Dagmar. Yang menetap justru Peter, Karoline, bayi-bayi itu, serta jarak mengerikan antara hukum dan manusia rentan.

 

Ada film yang selesai ketika layar menjadi gelap. Ada pula film yang justru dimulai sesudah layar gelap, ketika pertanyaannya mengikuti kita pulang.

 

The Girl with the Needle termasuk yang kedua. Jarumnya seperti tertinggal dalam pikiran, menusuk satu pertanyaan yang semakin lama justru semakin sulit dihindari.

 

Berapa banyak tragedi kita sebut kesalahan individual, padahal sebelum darah tumpah, tanda-tanda kegagalan sistem sebenarnya sudah lama berdiri di hadapan kita?

 

Kita memang membutuhkan hukum yang menghukum pembunuh. Tanpa pertanggungjawaban pribadi, belas kasih dapat berubah menjadi relativisme moral yang akhirnya tidak sungguh-sungguh melindungi siapa pun.

 

Tetapi peradaban menuntut langkah kedua. Setelah menghukum pelaku, negara harus bercermin: adakah kelalaian, stigma, kemiskinan, atau kekosongan perlindungan yang ikut membuka jalan?

 

Di titik itulah sebuah tragedi dapat mempunyai dua kehidupan. Kehidupan pertama berakhir di kuburan. Kehidupan kedua dimulai ketika masyarakat memutuskan belajar darinya.

 

-000-

 

Itulah warisan terbesar kisah Dagmar Overby. Tragedi tidak boleh hanya menghasilkan kemarahan. Tragedi harus menghasilkan pembelajaran, lalu pembelajaran menjelma menjadi institusi yang lebih manusiawi.

 

Kebijakan publik memperoleh martabat tertingginya ketika mampu mendengar mereka yang tidak mempunyai kekuasaan, terutama anak-anak yang paling lemah di antara kita.

 

Mungkin itulah paradoks paling memilukan dari kisah ini. Bayi-bayi itu harus kehilangan kehidupan terlebih dahulu sebelum sebuah negara belajar melindungi kehidupan dengan lebih baik.

 

Mereka tidak pernah berpidato. Tidak menulis petisi. Tidak berunjuk rasa. Bahkan tidak sempat mengucapkan nama sendiri. Tetapi kematian mereka mengguncang kesadaran sebuah negeri.

 

Kisah ini akhirnya bukan cerita tentang bagaimana seorang pembunuh mengubah negara. Ini cerita tentang bagaimana korban-korban yang tak bersuara memaksa negara belajar mendengar.

 

Sebab ukuran peradaban bukan seberapa keras negara menghukum setelah seorang bayi mati, melainkan seberapa jauh negara bekerja agar bayi berikutnya tetap hidup.***

 

Jakarta, 24 September 2026

 

-000-

 

REFERENSI

 

Joshua G. Stuart-Bennett, Motherhood, Respectability and Baby-Farming in Victorian and Edwardian London. Routledge, 2023.

 

Rachel Fuchs, Poor and Pregnant in Paris: Strategies for Survival in the Nineteenth Century. Rutgers University Press, 1992.

 

Cecilie Bjerre, “Making Policies: The History of the Danish Child Welfare System at the Local Level”. Journal of Policy History, Vol. 34, No. 4, Cambridge University Press, 2022.

 

Los Angeles Times, “Why Magnus von Horn avoided making ‘The Girl With the Needle’ seem too realistic”. 8 Januari 2025.

 

-000-

 

 

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

 

https://www.facebook.com/share/18eiVMjAgm/?mibextid=wwXIfr