Opini  

SATU BUMI, SATU MANUSIA, TETAPI BANYAK AGAMA

SATU BUMI, SATU MANUSIA, TETAPI BANYAK AGAMA

Oleh Denny JA

mediasumatera.id – Pada 21 Desember 2015, sebuah bus dari Nairobi melintasi wilayah Mandera, Kenya, dekat perbatasan Somalia. Para penumpangnya tidak mengetahui bahaya yang sedang menanti.

Tiba-tiba, sekelompok pria bersenjata menghadang kendaraan itu. Mereka diduga anggota Al-Shabaab, kelompok ekstremis yang telah menebarkan ketakutan di wilayah tersebut.

Para penumpang diperintahkan memisahkan diri berdasarkan agama. Orang-orang Muslim diminta menjauh dari penumpang Kristen. Mereka mengetahui bahwa pemisahan itu dapat menjadi awal pembantaian. Setahun sebelumnya, di wilayah yang sama, Al-Shabaab menghentikan sebuah bus dan mengeksekusi 28 penumpang non-Muslim.

Namun sesuatu yang luar biasa terjadi. Para penumpang Muslim menolak. Sebagian bahkan memberikan hijab dan pakaian Muslim kepada penumpang Kristen agar identitas mereka tersembunyi.

Para penyerang mengancam akan menembak. Namun para penumpang tetap bersatu. Sikap mereka sederhana: bunuh kami semua, atau biarkan kami semua hidup.

Dua orang tewas dalam serangan itu. Salah Farah, seorang guru Muslim, tertembak ketika menolak dipisahkan dari penumpang Kristen. Ia wafat pada Januari 2016. Pemerintah Kenya kemudian menganugerahinya Order of the Grand Warrior secara anumerta.

Seorang penumpang, Abdi Mohamud Abdi, kemudian bercerita kepada Reuters. Mereka menolak menyerahkan saudara-saudara Kristen mereka kepada orang-orang bersenjata, sampai para penyerang akhirnya pergi.

Di tengah ancaman kematian, mereka tidak memperdebatkan agama mana yang benar. Mereka memilih mempertahankan kehidupan manusia yang berdiri di hadapan mereka.

Kisah nyata itu menyimpan pertanyaan besar. Mengapa keyakinan yang berbeda terkadang melahirkan permusuhan, tetapi pada saat lain justru membangkitkan keberanian melindungi sesama?

-000-

1. Satu Umat Manusia, Mengapa Banyak Agama?

Bayangkan bumi dilihat dari kejauhan. Tidak terlihat perbatasan agama. Tidak terdengar perdebatan teologi. Hanya sebuah planet kecil yang mengapung dalam keluasan semesta.

Di permukaan planet itu, manusia membangun masjid, gereja, vihara, pura, sinagoge, dan kuil. Masing-masing menyimpan sejarah, keyakinan, dan pengharapan yang berbeda.

Manusia lahir dengan kebutuhan yang serupa. Kita membutuhkan makanan, perlindungan, cinta, dan pengakuan. Kita juga menghadapi penderitaan, ketidakpastian, kehilangan, serta kematian.

Tetapi ketika bertanya tentang makna kehidupan, manusia menemukan jawaban yang berbeda. Sebagian beriman kepada Tuhan personal. Sebagian menempuh jalan pembebasan spiritual.

Tidak ada satu penjelasan sederhana untuk perbedaan itu. Sejarah, kebudayaan, pengalaman religius, penafsiran, dan kekuasaan saling berinteraksi dalam membentuk tradisi keagamaan manusia.

Bagi pemeluknya, agama tidak sekadar hasil sejarah. Wahyu ilahi, pengalaman spiritual, dan pencerahan batin dipahami sebagai perjumpaan dengan kebenaran tertinggi.

Ilmu sejarah dapat meneliti bagaimana keyakinan diwariskan dan dipraktikkan. Tetapi metode sejarah sendiri tidak dapat memastikan apakah suatu wahyu benar-benar berasal dari Tuhan.

Pembedaan ini penting. Menghormati iman bukan berarti menghentikan pemeriksaan kritis. Sebaliknya, mempelajari sejarah agama tidak harus berarti menyangkal pengalaman spiritual pemeluknya.

Keragaman agama menjadi persoalan mendasar karena manusia tidak hidup sendirian. Keyakinan pribadi selalu bersentuhan dengan kehidupan tetangga, masyarakat, negara, dan peradaban.

Kita dapat berbeda mengenai Tuhan, keselamatan, atau kehidupan setelah kematian. Kita tetap membutuhkan aturan bersama untuk melindungi kebebasan dan martabat manusia.

Maka pertanyaan terpenting muncul: dapatkah manusia meyakini kebenaran agamanya sendiri, tanpa menjadikan keyakinan itu sebagai alasan untuk tidak menghormati agama orang lain?

Pertanyaan ini melanjutkan percakapan tentang hidup otentik. Jika memilih secara sadar berarti memeriksa warisan yang kita terima, agama adalah warisan terdalam yang perlu diperiksa, sekaligus warisan yang kita bagi bersama manusia lain.

-000-

2. Tiga Persoalan Besar Agama pada Zaman Kita

Pertama: Mengapa Agama Begitu Beragam?

Agama tidak muncul dalam satu zaman atau satu kebudayaan. Tradisi keagamaan berkembang melalui perjalanan sejarah yang panjang, dalam lingkungan dan pengalaman manusia yang berbeda.

Tradisi Yahudi berkembang melalui sejarah Israel kuno. Kekristenan muncul dalam lingkungan Yahudi abad pertama. Islam lahir di Jazirah Arab pada abad ketujuh.

Tradisi Hindu berkembang selama berabad-abad di Asia Selatan tanpa satu pendiri tunggal. Buddhisme tumbuh dari ajaran Buddha dan kemudian melahirkan berbagai mazhab.

Jainisme, Sikhisme, Daoisme, Khonghucu, dan tradisi spiritual masyarakat adat memperlihatkan keragaman yang lebih luas dalam memahami kebijaksanaan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan alam.

Perbedaan tersebut tidak selalu berarti pertentangan. Sebagian tradisi berbagi gagasan atau sejarah. Kendati demikian, kesamaan tertentu tidak menghapus perbedaan fundamental di antara mereka.

Keragaman juga tumbuh dari penafsiran. Di dalam satu agama, perbedaan mengenai kitab suci, otoritas, dan ritual dapat melahirkan berbagai komunitas serta aliran.

Sejarah agama karena itu mengajarkan kerendahan hati. Manusia dapat menghadapi pertanyaan kehidupan yang sama, lalu mengembangkan jawaban keagamaan yang sungguh berbeda.

Kedua: Mengapa Agama Dapat Menyatukan Sekaligus Memisahkan?

Agama mampu melahirkan kasih yang mengagumkan. Ia menggerakkan manusia membangun sekolah, rumah sakit, lembaga sosial, serta pelayanan bagi mereka yang menderita.

Agama juga dapat dipakai membangun tembok pemisah. Identitas kelompok berubah menjadi alasan untuk mencurigai, mendiskriminasi, bahkan menganiaya mereka yang berbeda.

Konflik keagamaan jarang lahir dari satu penyebab. Kepentingan politik, ketimpangan sosial, perebutan kekuasaan, serta tafsir agama tertentu dapat saling memperkuat.

Ketika seorang pemimpin menggambarkan kelompok lain sebagai ancaman suci, perbedaan keyakinan dapat berubah menjadi ketakutan kolektif yang diwariskan antargenerasi.

Kekerasan bukan akibat yang tak terhindarkan dari agama. Dalam tradisi yang sama, sebagian orang membenarkan permusuhan, sementara yang lain memperjuangkan perdamaian.

Pelajaran terpentingnya bukan menghapus agama dari kehidupan publik. Yang diperlukan adalah mencegah keyakinan menjadi pembenaran untuk mencabut hak dan martabat manusia.

Ketiga: Mengapa Agama Bertahan, Tetapi Juga Berubah?

Agama bertahan karena memberi makna pada pengalaman terdalam manusia. Ia menemani kelahiran, perkawinan, penderitaan, kehilangan, dan harapan menghadapi kematian.

Agama juga diwariskan melalui keluarga, pendidikan, ritual, kitab suci, dan komunitas. Tradisi menjadi rumah batin yang memberi seseorang rasa memiliki.

Rumah itu tidak selalu mempertahankan bentuk yang sama. Penafsiran berkembang, lembaga berubah, dan generasi baru mempertanyakan ajaran yang sebelumnya diterima begitu saja.

Laporan Pew Research Center tahun 2025, berdasarkan survei di 36 negara, memperlihatkan bahwa perpindahan identitas keagamaan berbeda tajam antarnegara, bergantung pada sejarah dan lingkungan sosialnya.

Di Korea Selatan, separuh orang dewasa tidak lagi menganut agama masa kecilnya. Sebaliknya, di India, setidaknya 95 persen tetap mempertahankan identitas agama asalnya.

Temuan ini mengungkap kenyataan penting. Agama dapat bertahan selama ribuan tahun, sementara identitas dan praktik keagamaan manusia terus bergerak bersama sejarah.

-000-

3. Kisah Kenya: Ketika Iman Menyelamatkan Mereka yang Berbeda

Bus di Mandera akhirnya dapat meninggalkan lokasi serangan. Tetapi pertanyaan yang ditinggalkan para penumpangnya tidak ikut berlalu bersama perjalanan kendaraan itu.

Identitas sebagai Muslim tampaknya bisa menjadi jalan selamat, meskipun dalam serangan sebelumnya Al-Shabaab kerap membunuh Muslim maupun non-Muslim. Namun Salah Farah dan para penumpang Muslim lainnya memilih tidak menempuh jalan itu. Mereka mempertahankan solidaritas dengan mereka yang berbeda keyakinan, meskipun pilihan tersebut mengancam keselamatan mereka.

Tindakan tersebut memperlihatkan perbedaan mendasar antara keyakinan dan kebencian. Orang dapat memiliki iman yang kuat tanpa menjadikan pemeluk agama lain sebagai musuh.

Kisah Kenya tidak berarti semua konflik agama dapat diselesaikan dengan keberanian individual. Kekerasan juga membutuhkan penanganan hukum, keamanan, dan keadilan sosial.

Keberanian moral tetap memiliki kekuatan istimewa. Ia memperlihatkan bahwa manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh identitas atau prasangka yang diwariskan kepadanya.

Sebuah agama mungkin mengajarkan banyak hal mengenai kehidupan setelah kematian. Para penumpang itu memperlihatkan nilai agama melalui tindakan melindungi kehidupan sebelum kematian.

Di hadapan laras senapan, mereka tidak dapat menghentikan seluruh kekerasan dunia. Mereka hanya menolak memberikan kemenangan moral kepada orang-orang yang menyebarkan kebencian.

Mereka tidak menyamakan agama. Mereka menyatukan keberanian. Perbedaan iman tetap ada, tetapi hak untuk hidup tidak mereka biarkan dipisahkan.

-000-

4. Pengalaman Personal: Ketika Gandhi Mengajarkan Cinta Melampaui Agama

Ada satu adegan dalam film Gandhi (1982), karya sutradara Richard Attenborough, yang begitu membekas dalam ingatan saya. Adegan itu mengajarkan kedewasaan iman.

India, 1947. Kekerasan antara umat Hindu dan Muslim berkobar. Kebencian mengubah tetangga menjadi musuh, dan perbedaan agama menjadi alasan untuk saling membunuh.

Seorang lelaki Hindu mendatangi Mahatma Gandhi. Dengan jiwa yang hancur, ia mengaku telah membunuh seorang anak Muslim sebagai balas dendam atas kematian putranya.

Lelaki itu menangis. Rasa bersalah menghantuinya. Ia merasa telah melakukan dosa yang tak terampuni dan takut jiwanya akan tersiksa selamanya di neraka.

Gandhi mendengarkan. Lalu, dengan ketenangan yang menggetarkan, ia menawarkan jalan penebusan yang tidak pernah dibayangkan lelaki itu sebelumnya, sebuah jalan melalui cinta.

Carilah seorang anak Muslim yang kehilangan kedua orang tuanya. Bawalah pulang. Besarkanlah seperti anak kandungmu sendiri. Berikan kepadanya kehidupan yang telah kau renggut.

Namun Gandhi menambahkan satu pesan yang membuat adegan itu begitu agung: besarkanlah anak tersebut sebagai seorang Muslim. Jangan mengubah agama yang diwariskan orang tuanya.

Saya terdiam menyaksikan adegan itu. Betapa dalam kebijaksanaan Gandhi. Ia tidak sekadar mengajarkan penyesalan, tetapi mengubah rasa bersalah menjadi tanggung jawab kemanusiaan.

Kematangan beragama tidak hanya diukur dari seberapa teguh kita mempertahankan iman sendiri, tetapi juga dari seberapa aman orang lain mempertahankan imannya di dekat kita.

Saya membayangkan anak Muslim dalam kisah itu tumbuh menjadi dewasa. Ia mengenang seorang ayah Hindu yang mencintainya, tanpa pernah memintanya meninggalkan Islam.

Bukankah di sanalah keindahan yang sesungguhnya? Seorang manusia menjaga api keyakinan orang lain, meskipun nyala api itu berbeda dari miliknya sendiri.

Agama mencapai keagungannya bukan ketika semua manusia berdoa dengan cara yang sama, melainkan ketika perbedaan doa tidak lagi menghalangi mereka saling mencintai.

-000-

5. Dua Buku untuk Memahami Dunia Banyak Agama

Untuk memperdalam persoalan tersebut, dua buku memberikan landasan penting. Keduanya membantu menjelaskan bagaimana keragaman agama dapat menjadi sumber perjumpaan maupun konflik.

Buku Pertama: A New Religious America, Diana L. Eck (2001)

Diana L. Eck meneliti perubahan kehidupan keagamaan Amerika Serikat akibat migrasi dan perjumpaan kebudayaan. Komunitas Hindu, Muslim, Buddha, dan Sikh semakin terlihat dalam ruang publik.

Buku ini menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya persoalan jumlah agama. Ia hadir di sekolah, lingkungan kerja, rumah ibadah, serta kehidupan bertetangga.

Eck membedakan keberagaman dari pluralisme. Banyak kelompok dapat hidup berdekatan tanpa saling memahami. Pluralisme membutuhkan hubungan, dialog, dan keterlibatan yang nyata.

Dialog tidak berarti seluruh peserta harus menyetujui keyakinan yang lain. Mereka justru belajar memahami perbedaan sambil membangun kepercayaan dan penghormatan timbal balik.

Pelajaran terpenting buku ini: masyarakat damai tidak terbentuk dengan sendirinya. Keberagaman membutuhkan usaha sadar untuk membangun hubungan yang adil dan bermartabat.

Buku Kedua: Fields of Blood, Karen Armstrong (2014)

Karen Armstrong menelusuri hubungan agama dan kekerasan sepanjang sejarah. Ia mempertanyakan pandangan bahwa agama merupakan penyebab tunggal peperangan dan permusuhan manusia.

Armstrong memperlihatkan bagaimana kekuasaan politik, kepentingan ekonomi, pembentukan negara, dan keyakinan keagamaan sering berkelindan dalam melahirkan konflik serta kekerasan.

Buku ini juga menunjukkan bahwa tradisi keagamaan mengandung suara yang beragam. Sebagian penafsiran membenarkan kekerasan, sementara yang lain justru menekankan belas kasih.

Argumennya mengingatkan pembaca agar tidak menjadikan agama kambing hitam seluruh sejarah. Itu tidak berarti ajaran keagamaan bebas dari tanggung jawab kritis.

Pelajaran pentingnya adalah menilai hubungan antara keyakinan, kekuasaan, dan tindakan manusia secara jujur, tanpa menyederhanakan sejarah menjadi pertentangan hitam putih.

-000-

6. Kontra-Argumen: Apakah Semua Agama Harus Dianggap Benar?

Ada keberatan yang patut dihormati. Jika setiap agama memiliki klaim kebenaran sendiri, bagaimana mungkin semuanya diperlakukan sebagai warisan yang layak dipelajari bersama?

Seorang Muslim memiliki keyakinan teologis yang tidak seluruhnya sama dengan seorang Kristen. Seorang Buddhis memahami pembebasan spiritual melalui kerangka yang berbeda lagi.

Perbedaan itu nyata. Mengatakan seluruh agama sebenarnya sama dapat mengaburkan inti ajarannya, bahkan merendahkan kesungguhan pemeluk yang mempertahankan keyakinan berbeda.

Menghormati banyak agama tidak berarti menyatakan seluruh klaimnya benar. Kita perlu membedakan penilaian tentang kebenaran dari penghormatan terhadap martabat manusia.

Seseorang boleh meyakini agamanya sebagai jalan yang benar. Keyakinan tersebut tidak otomatis memberinya hak memaksa orang lain menerima ajaran yang sama.

Kebebasan hati nurani melindungi hak seseorang untuk beriman, mempertanyakan agamanya, berpindah keyakinan, atau memilih kehidupan tanpa afiliasi agama.

Kebenaran teologis dapat terus diperdebatkan. Hak manusia untuk hidup aman, bebas dari pemaksaan, dan diperlakukan setara tidak perlu menunggu kesepakatan teologis.

Di sinilah perbedaan antara toleransi dan kematangan beragama menjadi penting. Toleransi membiarkan orang lain berbeda. Kematangan beragama ikut menjaga kebebasan mereka.

Seorang manusia belum sepenuhnya menghormati kebebasan beragama apabila ia hanya menginginkan kebebasan itu bagi dirinya sendiri, tetapi menolaknya bagi mereka yang berbeda.

Kita tidak perlu menyamakan seluruh jalan spiritual untuk mengakui bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama ketika menempuh jalan hidupnya.

-000-

7. Indonesia: Ketika Perbedaan Menjadi Ujian Kemanusiaan

Indonesia merupakan ruang perjumpaan berbagai tradisi agama. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan penghayat kepercayaan membentuk kehidupan masyarakat yang majemuk.

Kemajemukan itu melahirkan persahabatan, kerja sama, dan kekayaan budaya. Sejarah Indonesia juga mencatat diskriminasi, pembatasan kebebasan, ketegangan, dan kekerasan.

Karena itu, kerukunan tidak cukup diukur melalui pertemuan seremonial para pemimpin agama. Ukurannya harus terlihat dalam perlakuan terhadap manusia yang berbeda keyakinan.

Apakah sebuah keluarga dapat beribadah dengan aman? Apakah anak memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi? Apakah seseorang bebas mengikuti hati nuraninya tanpa intimidasi?

Bayangkan seseorang yang lahir, tumbuh, dan mencintai Indonesia. Namun ketika mengurus identitas kependudukan, keyakinan yang diwarisinya tidak memperoleh pengakuan administratif setara.

Selama bertahun-tahun, banyak penghayat kepercayaan menghadapi keadaan semacam itu. Kolom agama pada Kartu Keluarga dan KTP elektronik mereka dapat dibiarkan kosong.

Kekosongan itu bukan sekadar persoalan administrasi. Ia membawa pertanyaan yang menyakitkan: apakah seorang warga negara harus mengikuti kategori tertentu agar diakui sepenuhnya?

Pada 7 November 2017, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 97/PUU-XIV/2016 mengabulkan permohonan empat penghayat kepercayaan yang memperjuangkan kesetaraan dalam administrasi kependudukan.

Mahkamah menegaskan bahwa kata “agama” dalam ketentuan terkait harus dimaknai mencakup “kepercayaan”. Keputusan itu membuka jalan bagi pengakuan administratif yang lebih setara.

Namun perubahan hukum tidak otomatis menghapus seluruh hambatan sosial. Pengakuan di atas kertas masih harus diterjemahkan menjadi pelayanan publik dan penghormatan nyata.

Kemanusiaan tidak diuji ketika semua orang sepakat, melainkan ketika perbedaan menimbulkan ketegangan, dan ketika kelompok terkecil meminta diakui.

Pancasila menyediakan landasan kebangsaan bagi kehidupan bersama. Nilai kebangsaan itu harus diterjemahkan melalui perlindungan hukum, kesetaraan warga, dan tanggung jawab institusi.

Tugas pendidikan bukan menghapus identitas keagamaan anak. Tugasnya membantu mereka memahami keyakinannya sekaligus mengenal agama lain tanpa prasangka dan penghinaan.

Indonesia dapat memberikan pelajaran berharga kepada dunia apabila keberagamannya menghasilkan perlindungan nyata bagi kelompok minoritas, kebebasan beragama, dan solidaritas lintas keyakinan.

Kita tidak membutuhkan masyarakat tanpa perbedaan. Kita membutuhkan masyarakat yang cukup dewasa untuk memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi ketidakadilan.

-000-

8. Pelajaran Filosofis: Kerendahan Hati di Hadapan Misteri

Ada paradoks dalam kehidupan beragama. Semakin kuat seseorang meyakini kebenaran, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk membedakan keteguhan iman dari kesombongan.

Keyakinan memberikan pegangan hidup. Manusia tetap memiliki keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan bahasa ketika berbicara tentang kenyataan yang dianggap paling suci.

Kerendahan hati intelektual bukan sikap menyerah terhadap kebenaran. Ia merupakan kesadaran bahwa keyakinan yang tulus masih membutuhkan kesediaan mendengar dan memahami.

Bahkan dalam satu tradisi, para pemeluk dapat berbeda penafsiran. Kenyataan tersebut mengingatkan bahwa ketulusan seseorang tidak selalu menjamin ketepatan seluruh kesimpulannya.

Mengakui keterbatasan bukan berarti kehilangan iman. Justru kesadaran itu dapat mencegah manusia menganggap pandangannya sebagai izin untuk menguasai kehidupan orang lain.

Kita dapat memandang agama sebagai jendela. Setiap jendela memiliki bingkai, sejarah, dan arah pandang. Jendela itu tidak boleh berubah menjadi penjara.

Metafor itu memiliki batas. Tidak semua jendela memperlihatkan pemandangan yang identik. Sebagian bahkan memberikan penjelasan yang saling bertentangan tentang hakikat kenyataan.

Perbedaan pemandangan tidak menghapus kewajiban kita menjaga rumah bersama. Pengetahuan tentang dunia orang lain dapat memperluas empati dan memperdalam tanggung jawab.

Pada titik inilah hidup otentik menemukan dimensi sosialnya. Manusia bukan sekadar memilih keyakinan secara sadar, melainkan bertanggung jawab atas akibat pilihannya terhadap sesama.

Hidup otentik bukan hanya keberanian menjadi diri sendiri. Ia juga keberanian membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri, tanpa ancaman dan pemaksaan.

-000-

9. Menuju Agama sebagai Warisan Milik Bersama

Dua bab sebelumnya mengajak kita memahami kehidupan yang tidak kita pilih, serta pentingnya menentukan jalan hidup secara sadar melalui kebebasan yang bertanggung jawab.

Bab ini menambahkan satu kenyataan. Warisan keagamaan manusia sangat beragam, terus berubah, dan dapat melahirkan akibat moral yang berbeda dalam kehidupan bersama.

Kita mewarisi bukan hanya kitab dan ritual. Kita juga mewarisi ingatan tentang kebaikan, luka sejarah, kebiasaan sosial, serta batas kelompok yang terbentuk jauh sebelum kita lahir.

Warisan tidak harus menjadi takdir. Manusia dapat memeriksa, memahami, mempertahankan, mengubah, atau meninggalkan keyakinan sesuai kebebasan hati nuraninya.

Gagasan agama sebagai warisan milik bersama tidak berarti setiap ajaran menjadi milik siapa saja untuk ditafsirkan tanpa memperhatikan komunitas yang menjaganya.

Warisan bersama berarti manusia boleh belajar dari kekayaan tradisi lain secara hormat. Perbedaan otoritas, praktik suci, dan keyakinan pemeluknya tetap perlu diakui.

Seorang Muslim dapat mempelajari kebijaksanaan Buddhis tanpa meninggalkan Islam. Seorang Kristen dapat menghargai filsafat Hindu tanpa menyatakan seluruh ajarannya sama.

Begitu pula seseorang yang tidak beragama dapat mempelajari sejarah keagamaan sebagai kekayaan intelektual manusia, tanpa harus menerima klaim spiritual yang dikandungnya.

Mempelajari tidak selalu berarti menyetujui. Menghargai tidak selalu berarti mengikuti. Keduanya membantu manusia melihat dunia melampaui batas pengalaman sendiri.

Gagasan warisan bersama bukan proyek menyeragamkan agama. Ia merupakan undangan untuk memperluas kemanusiaan, tanpa meminta siapa pun mengkhianati suara hati nuraninya.

Bab ini sengaja berhenti di ambang pertanyaan berikutnya. Jika agama boleh dipelajari bersama, siapa yang berhak menafsirkannya, dan di mana batas antara belajar dari sebuah tradisi dan mengambil alih tradisi itu?

-000-

Penutup: Langit yang Berbeda, Bumi yang Sama

Mari kembali ke bus di Mandera, Kenya. Hari itu, para penumpang tidak memiliki waktu untuk menyelenggarakan dialog panjang mengenai hubungan antaragama.

Mereka hanya memiliki satu kesempatan menentukan sikap. Mereka dapat menyelamatkan kelompok sendiri, atau mempertaruhkan nyawa demi manusia yang berbeda keyakinan.

Mereka memilih solidaritas. Salah Farah membayar pilihan itu dengan hidupnya. Tetapi keberaniannya meninggalkan sesuatu yang tidak dapat dibunuh oleh peluru.

Saya teringat kembali pada adegan Gandhi. Seorang Hindu diminta membesarkan anak Muslim, tanpa mengubah agamanya. Dua kisah berbeda, tetapi menyimpan cahaya serupa.

Di Kenya, orang mempertaruhkan hidup untuk melindungi pemeluk agama lain. Dalam film Gandhi, seseorang diajak menebus kebencian dengan merawat kehidupan yang berbeda.

Keduanya mengingatkan bahwa kematangan beragama bukan sekadar kemampuan hidup berdampingan, melainkan keberanian menjaga kehidupan dan kebebasan mereka yang berbeda keyakinan.

Kita mungkin tidak akan pernah menghadapi pilihan sedramatis itu. Tetapi setiap hari, kehidupan menghadirkan ujian yang lebih kecil mengenai prasangka, keadilan, dan kasih.

Ketika tetangga berbeda keyakinan ingin beribadah, ketika anak memilih jalan spiritual berbeda, ketika kelompok kecil meminta perlindungan, di sanalah kematangan kita diuji.

Agama boleh memberi jawaban berbeda mengenai keabadian. Selama hidup di bumi, manusia tetap saling membutuhkan perlindungan, pengertian, dan penghormatan.

Sebab pada akhirnya, bumi bukan tempat kita memenangkan seluruh perdebatan tentang surga. Bumi adalah tempat kita membuktikan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Langit boleh kita tafsirkan berbeda. Tetapi bumi harus kita jaga bersama.

Jakarta, 2 November 2026

-000-

REFERENSI

1. Diana L. Eck. A New Religious America: How a “Christian Country” Has Become the World’s Most Religiously Diverse Nation. HarperSanFrancisco, 2001.

2. Karen Armstrong. Fields of Blood: Religion and the History of Violence. Alfred A. Knopf, 2014.

3. Reuters. “Passenger says Muslims protect Christians in Islamist attack on Kenyan bus.” 21 Desember 2015.

4. The Guardian. “Muslims hailed for protecting Christians during terror attack on Kenyan bus.” 22 Desember 2015.

5. Anadolu Agency. “Kenya honors Muslim who shielded Christians in attack.” 1 April 2016.

6. Daily Nation. “President awards late Salah Farah the Order of the Grand Warrior.” 2016.

7. Pew Research Center. Around the World, Many People Are Leaving Their Childhood Religions. 26 Maret 2025.

8. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Putusan Nomor 97/PUU-XIV/2016. 7 November 2017.

9. Richard Attenborough, sutradara. Gandhi. Skenario John Briley. Columbia Pictures, 1982.

10. Martin Scorsese. “Scorsese Screens: Gandhi (1982).” Turner Classic Movies, 29 Maret 2021.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/19k6AchTge/?mibextid=wwXIfr