mediasumatera.id – Fenomena perubahan warna air di sebagian wilayah Danau Toba (DT) khususnya di Sibea-bea dan sekitar Pangururan Samosir akhir bulan Juli 2025 menjadi perhatian masyarakat luas. Kejadian ini juga telah meresahkan nelayan karena mengalami kerugian akibat kematian ikan di dalam keramba apung (KJA) mereka. Sejak dua tahun terakhir ini, kami berdua dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB telah melakukan penelitian dan pemantauan ekosistem DT secara rutin. Survei terakhir yang kami lakukan di pesisir DT adalah mulai dari Balige, Samosir (Sibeabea, Pangururan, Simanindo), Tigaras dan Haranggaol dari tanggal 29 Juli hingga 31 Agustus 2025. Kami juga telah melakukan wawancara mendalam dengan beberapa nelayan yang setiap hari melakukan penangkapan ikan di DT terkait fenomena perubahan air DT.
Berdasarkan penelusuran kami mulai dari Balige, Samosir, Tigaras hingga ke Haranggaol, fenomena perubahan warna DT secara visual hanya terjadi di sekitar wilayah Sibea-bea dan Pangururan. Luas wilayah yang mengalami perubahan warna yang mencolok tersebut adalah sekitar 30 km2 atau sekitar 3 % dari luas permukaan DT yakni 1.130 km2. Hasil analisis sampel air yang langsung kami saring dengan kertas saring diameter 0,45 µm menunjukkan tingginya kandungan partikel tersuspensi (TSS) sebagai indikator peningkatan kekeruhan air di wilayah Sibeabea dan Pangururan.
Pada umumnya peningkatan kekeruhan air disebabkan oleh adanya partikel tersuspensi (TSS, Total Suspended Solids) dan partikel terlarut (TDS, Total Dissolved Solids) yang mempengaruhi kejernihan air. TSS adalah partikel padat yang tidak larut dan melayang di dalam air, terdiri atas komponen biotik seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, dan komponen abiotik seperti detritus, pasir, lumpur, tanah liat dan partikel anorganik lainnya dengan ukuran berkisar 0,004-1,0 mm. Sementara TDS adalah jumlah total semua zat terlarut dalam air, termasuk garam, mineral, dan logam. Meskipun keduanya mempengaruhi kualitas air, TSS secara langsung menyebabkan kekeruhan perairan karena kemampuannya menghamburkan dan memantulkan cahaya. Salah satu sumber TSS adalah input dari inlet atau sungai yang masuk ke DT, namun beberapa bulan terakhir ini terjadi musim kemarau yang panjang di kawasan DT sehingga debit air yang masuk ke DT malah berkurang. Jadi kekeruhan yang terjadi saat itu bukan karena pengaruh dari air sungai yang masuk ke DT. Kemungkinan kedua terjadinya kekeruhan DT adalah blooming (ledakan) fitoplankton dari kelompok diatom (Bacillariophyceae) dan Dinoflagellata (Dinophyceae). Namun fitoplankton ini umurnya pendek dan akan cepat mati. Saat fenomena perubahan warna tidak ditemukan fitoplankton mati masal yang biasanya membuat aroma bau di lokasi kejadian karena proses dekomposisi atau penguraian fitoplankton yang mati. Oleh karena itu, kedua hal di atas tidak menjadi faktor penyebab peningkatan kekeruhan air di wilayah Sibea-bea dan Pangururan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa kecepatan angin yang tinggi di atas danau berdampak secara signifikan terhadap peningkatan kekeruhan danau, seperti penelitian Zheng et al. (2015), dengan judul: “Sediment resuspension under action of wind in Taihu Lake China” dan penelitian Luo et al. (2025), dengan judul: “Analysis of sediment resuspension in shallow lake under variable wind speed and water depth”. Angin kencang akan menghasilkan gelombang besar dan arus permukaan yang kuat menyebabkan Mixing atau pengadukan air danau dan Resuspensi di mana partikel sedimen halus (pasir halus, lumpur, bahan organik dan anorganik) yang mengendap di dasar danau terangkat kembali ke kolom lapisan atas (permukaan), akibatnya kekeruhan meningkat drastis, terutama di perairan yang dangkal.
Saat kunjungan kami di lapang, kecepatan angin cukup tinggi yang ditandai dengan goyangan dahan pohon besar. Menurut informasi dari nelayan, beberapa waktu sebelum perubahan warna air terjadi, kecepatan angin jauh lebih tinggi dari kondisi saat kami berkunjung. Berdasarkan data, kecepatan angin di kawasan DT beberapa hari sebelum perubahan warna air adalah sekitar 18 m/detik (atau 64,8 km/jam) dalam skala Beaufort dengan kategori-8 (angin kencang). Menurut nelayan setempat, fenomena peningkatan kekeruhan air (warna air berubah menjadi coklat keruh) di sekitar Sibea-bea sudah terjadi secara berulang seperti pada tahun 2014, 2016, 2018, 2020 dan yang terakhir 2025. Fenomena ini terjadi saat cuaca ekstrim (angin kencang) dan yang terparah adalah kejadian di tahun 2018. Kalau angin sudah reda, warna air akan kembali normal dan menurut nelayan setempat fenomena ini adalah hal yang biasa. Sebagai informasi saat kami berkunjung ke Sibea-bea tanggal 30 Juli 2025, warna air sudah mulai normal kembali dan nelayan sudah mulai aktifitas penangkapan ikan dengan jaring dan bubu.
Kecepatan angin yang tinggi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kekeruhan di sekitar perairan Sibea-bea dan Pangururan, dengan kedalaman lebih rendah dari 30 meter. Hal ini disebabkan proses mixing dan resuspensi sedimen di perairan dangkal. Namun perlu diingat bahwa sebagian besar wilayah DT adalah perairan dalam dengan kedalaman hingga 500 m. Oleh karena itu proses mixing dan resuspensi karena kecepatan angin hanya berpotensi terjadi di perairan yang dangkal seperti di Sibea-bea dan Pangururan serta sepanjang pantai dangkal DT.
Resuspensi materi padat tersuspensi di danau akibat angin kencang (18 m/detik) berdampak negatif bagi ikan seperti kesulitan bernafas karena padatan tersuspensi berukuran halus yang tinggi menyumpat insang sehingga insang sebagai organ pernafasan ikan tidak berfungsi dengan baik. Resuspensi juga dapat menyebabkan kekurangan oksigen (hipoksia) karena air dari lapisan dalam yang naik ke permukaan miskin oksigen. Oksigen rendah (< 4 mg/) dapat menyebabkan kematian ikan, terutama pada spesies yang sensitif terhadap oksigen rendah. Limbah organik dari domestik, pertanian dan sisa pakan serta feses ikan dari KJA yang menumpuk di dasar DT secara alami akan diuraikan oleh bakteri aerob yang membutuhkan oksigen. Ketika oksigen tidak cukup atau kondisi anaerobik, maka bakteri anaerob yang melakukan tugas penguraian. Ketika bahan organik terurai dalam kondisi anaerobik, bakteri akan mereduksi sulfat (SO42-) menjadi sulfida (S2-). Sulfida ini kemudian bereaksi dengan ion hidrogen (H+) dalam air membentuk hidrogen sulfida (H2S). Selain itu, dalam kondisi anaerobik, bakteri metanogenik akan memproduksi gas CH4 (Metana). Gas H2S dan CH4 ini adalah hasil dari penguraian bahan organik di dasar DT dalam kondisi anaerobik. Kombinasi antara rendahnya oksigen di lapisan bawah perairan, konsentrasi gas H2S yang beracun yang dapat menghambat enzim pernapasan (enzim sitokrom c-oksidase) pada ikan dan CH4 yang mengurangi konsentrasi oksigen terlarut dalam air, membuat ikan-ikan yang ada di dalam KJA dan sekitarnya mengalami kematian dalam jumlah tidak sedikit. Temuan ini dipertegas oleh hasil pemantauan kami bahwa di Desember 2024 pH air pada lapisan bawah perairan di lokasi kejadian dan beberapa daerah lainnya di DT yang dekat dengan aktifitas padat penduduk dan KJA berkisar antara 4,7-5,4. Hal ini membuktikan bahwa kondisi lapisan bawah sudah bersifat asam karena tingginya kadar H2S.
Danau Toba perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari seluruh pihak.
Walaupun wilayah yang terdampak peningkatan kekeruhan cukup kecil dibandingkan seluruh luasan DT, namun hal yang sama bisa terjadi secara menyeluruh di sepanjang pantai dangkal DT. Berdasarkan pemantauan kami dua tahun terakhir ini, kondisi beberapa wilayah DT perlu mendapat perhatian yang serius seperti di perairan Haranggaol. Di Teluk Haranggaol terdapat lebih dari 2000 KJA ikan yang berpotensi mengalami proses resuspensi sehingga dapat menyebabkan kematian masal ikan di keramba dan sekitarnya. Secara khusus, pada saat musim kemarau berkepanjangan, tinggi muka DT akan semakin menurun sehingga keramba makin dekat ke dasar DT. Hal yang sama telah terjadi beberapa kali, sehingga pihak yang berwenang perlu melakukan pengaturan jumlah dan distribusi keramba.
Hal yang cukup penting juga dilakukan adalah pemantauan lingkungan DT secara berkesinambungan. Data yang dihasilkan perlu dianalisis secara optimal untuk memberikan informasi yang cepat dan akurat sehingga tidak meresahkan masyarakat, termasuk merepotkan para pejabat tinggi yang harus turun ke lapangan karena tidak tersedia informasi lengkap dan akurat. Data dari Stasiun Meteorologi BMKG yang ada di Kawasan DT perlu dioptimalkan tidak hanya untuk memberikan informasi yang cepat, tetapi juga untuk membangun sistem peringatan dini, sehingga nelayan KJA dapat mempersiapkan diri menghindari kematian masal ikan. Jika masih diperlukan, jumlah alat perlu ditambah dan dipasang di beberapa tempat, termasuk penambahan sensor untuk mengukur tinggi muka danau dan parameter kualitas air secara real time. Hal yang sangat penting adalah semua elemen masyarakat harus peduli terhadap kelestarian DT misalnya dengan tidak membuang sampah dan melakukan aktivitas di darat yangakan meningkatkan pencemaran DT. Pihak terkait perlu melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat secara terus menerus, mengingat kondisi ekosistem DT dapat berubah dengan cepat seiring dengan meningkatnya ancaman terhadap ekosistem DT baik secara alami maupun dari kegiatan antropogenik.
*Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB dan xEco-Marine & Freshwater Research Institute (EMFRI)







