Samosir, mediasumtera.id – Kadiman Pakpahan Mr Dreamer mengungkapkan bahwa ada suatu fenomena di masyarakat, dimana sentuhan-sentuhan visual sering membuat akal sehat seseorang tertidur. Dalam kajian sosiologis, kondisi di mana masyarakat mudah “terhipnotis” oleh jabatan dan atribut luar, sering dikaitkan dengan beberapa faktor psikologis dan budaya yang cukup mendalam:
1.Efek halo (halo effect), adalah bias kognitif di mana kesan positif kita terhadap satu aspek seseorang (misalnya, jabatan tinggi atau seragam mewah) meluap ke penilaian kita terhadap karakter mereka secara keseluruhan. Jika seseorang terlihat “berwibawa” dengan aksesori kekuasaan (mobil mewah, ajudan, pakaian dinas), otak kita secara otomatis berasumsi bahwa dia juga cerdas, jujur, dan kompeten, meski belum ada buktinya.
2.Budaya paternalistik, banyak lapisan masyarakat kita masih menganut budaya paternalisme, di mana sosok pemimpin dianggap sebagai figur “bapak” atau “atasan” yang harus dihormati tanpa syarat. Dalam budaya ini, simbol kekuasaan adalah segalanya. Jabatan dianggap sebagai mandat moral, sehingga apa pun yang dilakukan pejabat tersebut sering kali diterima dengan kepolosan sebagai suatu kebenaran.
3.Jebakan visual di era instan, masyarakat saat ini cenderung mengonsumsi informasi secara instan dan permukaan.
a.Logika visual, “kalau dia terlihat seperti orang sukses, maka dia pasti sukses.”
b Validasi media, pejabat yang sering muncul dengan atribut lengkap di media sosial mendapatkan validasi instan. Bagi masyarakat yang sibuk atau kurang literasi politik, penampilan adalah satu-satunya indikator yang mudah dicerna daripada membaca laporan pertanggungjawaban yang rumit.
4.Kebutuhan akan sosok penyelamat (Messiah Complex), sering kali, masyarakat yang merasa kesulitan secara ekonomi atau sosial memiliki harapan instan akan datangnya sosok “pahlawan”. Pejabat yang pandai memainkan aksesori (seperti gaya bicara yang merakyat namun tetap eksklusif) memanfaatkan harapan ini. Masyarakat tidak lagi melihat program kerja, melainkan melihat harapan yang dibungkus oleh wibawa jabatan tersebut.
Apakah Ini salah masyarakat? Tidak sepenuhnya. Sering kali ini adalah hasil dari desain komunikasi politik yang sengaja menciptakan jarak antara “rakyat” dan “penguasa”. Dengan menciptakan kesan eksklusif melalui aksesori dan jabatan, si pejabat sebenarnya sedang membangun benteng agar kekurangannya tidak terlihat.
Namun, menariknya, sekarang mulai muncul pergeseran. Apakah Anda merasa aksesori fisik (seperti iring-iringan mobil mewah) saat ini justru mulai memicu sentimen negatif atau rasa kesal di mata masyarakat yang lebih kritis?
Kondisi ini memang menjadi tantangan besar dalam demokrasi kita. Ketika Anda menyebut masyarakat masih dibutakan oleh sentimen rendah, kita sedang membicarakan fenomena di mana emosi dasar dan identitas permukaan lebih dominan daripada logika kebijakan.
Dalam sosiologi politik, ada beberapa alasan mengapa “sentimen rendah” ini begitu efektif digunakan oleh para pejabat:
1Politik identitas dan emosi dasar, sentimen rendah sering kali bermain di ranah ketakutan (fear mongering) atau kebanggaan semu. Pejabat tidak perlu menjelaskan cara mengatasi inflasi; mereka cukup tampil menggunakan atribut agama, suku, atau gaya hidup tertentu yang menyentuh emosi masyarakat. Ketika emosi sudah tersentuh, nalar kritis biasanya mati.
2.”Roti dan sirkus” (Panem et Circenses), adalah strategi kuno yang masih sangat relevan. Untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu berat (seperti korupsi atau kegagalan sistem), pejabat memberikan “hiburan” atau bantuan instan.
a.Roti, bansos atau bantuan tunai di saat-saat strategis.
b.Sirkus, konten media sosial yang lucu, gimik joget, atau aksi panggung yang menghibur.
Masyarakat yang sedang sulit secara ekonomi cenderung lebih menghargai bantuan instan di tangan daripada janji perbaikan sistem yang abstrak.
3.Rendahnya literasi fungsional, banyak orang bisa membaca, tapi tidak semua bisa memahami makna di balik informasi. Kesenjangan ini dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi yang dangkal. Akibatnya, masyarakat lebih mudah percaya pada siapa yang bicara (karena jabatannya/aksesorinya) daripada apa yang dibicarakan.
4.Primordialisme yang kuat, ikatan emosional terhadap kesamaan asal-usul sering kali membuat masyarakat menutup mata terhadap keburukan seorang pejabat. Muncul pemikiran, “Biar korupsi, yang penting dia orang kita,” atau “Biar tidak kerja, yang penting dia terlihat religius.” Inilah puncak dari “bungkus” yang mengalahkan “isi”.
Dampaknya bagi masa depan, jika sentimen rendah ini terus dipelihara, kita akan terjebak dalam lingkaran setan di mana:
a. Pejabat kompeten tersingkir, karena tidak pandai bersandiwara.
b.Pejabat pandai akting terpilih, karena mahir memainkan emosi massa.
Namun, sejarah mencatat bahwa sentimen rendah ini biasanya akan runtuh ketika masyarakat sudah mencapai titik krisis yang nyata, dimana bantucan instan tidak lagi cukup untuk menutupi perut yang lapar (red)
Bungkus Yang Menghipnotis







