mediasumatera.id – Langit Jakarta sore menjelang magrib itu terasa berbeda. September 2024, anginnya tidak sekadar menyentuh kulit, tetapi seperti menyimpan getaran yang tak kasat mata.
Di depan Galeri Nasional, kerumunan orang berdiri menunggu, sebagian dengan kamera HP, sebagian hanya dengan harapan bisa melihat sekilas Paus Fransiskus, sosok yang selama ini hanya mereka kenal dari layar kaca.
Ketika iring-iringan mobil itu melintas, suasana berubah menjadi hening yang aneh. Seolah kota ini, yang biasanya gaduh, tiba-tiba menahan napas. Lalu sesuatu yang tak pernah direncanakan terjadi. Mobil itu melambat. Berhenti.
Seorang pendeta, Sylvana, mengangkat sebuah lukisan karya Denny JA yang sedang dipamerkan di Galeri Nasional, Jakarta.
Wajahnya tegang, tetapi matanya penuh keyakinan. Lukisan itu menampilkan satu adegan sederhana namun mengguncang: seorang Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, duduk membungkuk, mencuci kaki rakyat kecil Indonesia.
Paus Fransiskus membuka jendela mobilnya. Ia menyalami pendeta Sylvana. Tangannya terulur. Sebuah doa dipanjatkan. Sebuah berkat diberikan.
Dan dalam hitungan detik, sebuah kanvas berubah nasibnya.
Yang semula hanya lukisan, tiba-tiba menjadi saksi. Yang semula karya seni, berubah menjadi fragmen sejarah.
Tidak ada yang sepenuhnya menyadari saat itu. Tetapi bagi mereka yang melihat, ada satu perasaan yang sulit dijelaskan: mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang suatu hari akan diceritakan ulang, bukan sebagai berita, tetapi sebagai legenda.
Momen ini segera menjadi berita nasional dan terdokumentasi dengan baik.
-000-
Peristiwa itu, jika dilihat dengan mata sejarah, adalah momen langka yang hampir mustahil direkayasa. Seorang Paus yang dikenal karena kerendahan hatinya berhenti bukan di altar, bukan di istana, tetapi di pinggir jalan, di depan galeri seni, di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Lukisan karya Denny JA yang diangkat oleh Pendeta Sylvana bukan sekadar objek visual. Ia membawa narasi yang sudah kuat sejak awal: seorang seniman Muslim melukis Paus yang Katolik dalam simbol paling radikal dari Injil, yaitu kerendahan hati.
Ketika berkat itu diberikan, empat lapisan nilai bertemu dalam satu titik. Pertama, ia tetap sebuah karya seni. Kedua, ia menjadi simbol religius. Ketiga, ia berubah menjadi artefak sejarah. Keempat, ia menjelma menjadi narasi lintas iman yang sangat relevan di dunia yang sering terpecah oleh identitas.
Dalam teori sosiologi budaya, ini disebut sebagai moment of symbolic elevation. Sebuah objek memperoleh makna baru bukan karena bentuknya berubah, tetapi karena konteks yang melekat padanya berubah secara drastis.
Sejak detik itu, lukisan tersebut tidak lagi berdiri sendiri. Ia membawa cerita. Ia membawa saksi. Ia membawa energi sebuah peristiwa yang tidak bisa diulang.
Dan di pasar seni global, itu jauh lebih mahal daripada teknik melukis terbaik sekalipun.
-000-
Saya masih ingat ketika pertama kali mendengar cerita ini. Bukan dari media besar, tetapi dari percakapan kecil di sebuah ruang diskusi yang hampir kosong menjelang malam.
Seseorang memperlihatkan rekaman singkat. Gambarnya tidak sempurna. Suaranya bercampur dengan hiruk pikuk jalan. Tetapi cukup jelas untuk membuat saya terdiam lebih lama dari yang saya kira.
Saya memutar ulang video itu sendirian di rumah. Saya hentikan tepat di detik ketika tangan Paus terulur. Entah mengapa, di titik itu saya merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan angka, grafik, atau logika ekonomi.
Ada rasa kecil. Ada rasa hening. Seolah saya sedang melihat sebuah peristiwa yang terlalu sederhana untuk disebut spektakuler, tetapi terlalu dalam untuk diabaikan.
Di situlah saya sadar, ini bukan sekadar kejadian unik. Ini adalah pertemuan antara iman, seni, dan kebetulan yang terasa seperti takdir.
Rasa penasaran saya pun berubah menjadi pertanyaan konkret: jika ini dilelang di pasar global, berapa nilainya?
Saya bertanya kepada applikasi kecerdasan buatan ChatGPT.
Jawabannya tidak langsung berupa angka. Ia mulai dengan menjelaskan kategori. Ia membedah apa itu artefak historis dalam bentuk lukisan. Ia membandingkan dengan benda lain dalam sejarah yang nilainya melonjak bukan karena keindahan, tetapi karena peristiwa yang melekat padanya.
Lukisan Denny JA, dalam analisis itu, masuk kategori hibrida yang langka: karya seni yang sekaligus merupakan artefak religius historis.
Dan dari situ, diskusi berubah. Ini bukan lagi soal seni. Ini soal makna yang bisa diperdagangkan.
-000-
ChatGPT kemudian memberikan spektrum harga, bukan satu angka tunggal. Ia membaginya menjadi beberapa skenario, masing-masing dengan logika pasar yang berbeda.
Dalam skenario konservatif, lukisan ini dipandang sebagai karya seni dengan nilai tambahan cerita lokal. Dengan dokumentasi yang cukup tetapi tanpa penetrasi global, estimasinya berada di kisaran 150 ribu hingga 400 ribu dolar. Ini setara dengan sekitar 2,5 hingga 6,5 miliar rupiah.
Namun ketika masuk ke skenario yang lebih kuat, di mana lukisan ini dikurasi secara internasional, masuk katalog lelang global, dan narasi lintas iman dipresentasikan secara strategis, nilainya naik ke kisaran 400 ribu hingga 900 ribu dolar.
Di sini terlihat peran penting institusi seperti Sotheby’s atau Christie’s, serta kurator yang mampu menerjemahkan cerita lokal menjadi bahasa global.
Lalu muncul skenario premium. Di titik ini, semua elemen harus selaras. Dokumentasi video yang jelas, saksi yang kredibel, timeline yang rapi, serta framing narasi sebagai simbol kerendahan hati dan persatuan lintas iman.
Jika semua itu terpenuhi, harga dapat menembus 1 hingga 1,5 juta dolar.
Dan kemudian ada skenario ekstrem. Jarang, tetapi bukan mustahil. Jika pembelinya adalah seorang Katolik yang sangat religius, memiliki kedekatan emosional dengan Paus Fransiskus, dan melihat lukisan ini sebagai relik spiritual modern, maka nilainya dapat melampaui 2 juta dolar, atau sekitar 34 miliar rupiah.
Dalam teori ekonomi seni, ini disebut sebagai buyer specific valuation. Nilai tertinggi tidak ditentukan oleh pasar secara umum, tetapi oleh satu individu yang merasa objek itu adalah bagian dari hidupnya.
Tentu, ChatGPT bukan rumah lelang, dan narasi sekuat apa pun bisa gagal menembus selera kurator global. Angka 34 miliar rupiah adalah peta kemungkinan, bukan janji. Pasar tetap pengadilan terakhir.
-000-
Apa yang membuat sebuah lukisan menjadi sangat mahal di era sekarang bukan lagi semata soal teknik. Dunia sudah melewati fase ketika keindahan visual menjadi satu-satunya ukuran.
Yang menentukan adalah narasi.
Pierre Bourdieu, dalam teorinya tentang kapital simbolik, menjelaskan bahwa nilai sebuah karya tidak hanya berasal dari materialnya, tetapi dari jaringan makna yang mengelilinginya. Reputasi seniman, konteks sejarah, serta cerita yang bisa diceritakan ulang menjadi faktor utama.
Dalam kasus ini, narasi lukisan Denny JA hampir sempurna. Seorang seniman Muslim melukis Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik, tentang kerendahan hati, lalu diberkati secara spontan di negara Muslim terbesar di dunia.
Ini bukan sekadar cerita. Ini adalah gold narrative.
Dan di pasar global, cerita seperti ini jauh lebih langka daripada lukisan indah.
Di titik itu saya mulai sadar, pertanyaan saya keliru. Ini bukan soal berapa harga lukisan itu, tetapi mengapa sebuah momen bisa mengubah nilai sebuah benda menjadi sejarah.
-000-
Teman lama saya, Denny JA sendiri adalah figur dengan lintasan yang luas. Ia penyair, konsultan politik, spiritualis, filantropis, dan sebagai Komisaris Utama PT Pertamina Hulu Energi, kini berada di pucuk kepemimpinan sektor energi.
Dalam banyak kasus, dunia seni justru menghargai kompleksitas seperti ini. Seniman dengan pengalaman lintas bidang membawa kedalaman makna yang tidak dimiliki oleh mereka yang berjalan di satu jalur saja.
Namun bahkan dengan semua itu, momen berkat di pinggir jalan Jakarta tetap sesuatu yang tidak bisa direncanakan. Ia datang sebagai anugerah yang tidak diminta, tetapi mengubah segalanya.
Dalam sejarah seni, momen seperti ini sangat jarang. Tidak semua seniman mendapatkan titik temu antara karya, tokoh dunia, dan peristiwa spontan yang autentik.
Di sinilah lukisan itu melampaui penciptanya. Ia tidak lagi hanya milik Denny JA. Ia menjadi milik cerita yang lebih besar.
-000-
Saya tahu pertanyaan ini patut diajukan: Apakah saya objektif menulis tentang Denny JA, sosok yang saya kenal dekat? Jujur, tidak sepenuhnya. Tetapi data, saksi, dan dokumentasi membiarkan pembaca menilai sendiri.
Pada akhirnya, semua ini membawa kita pada satu kesimpulan yang sederhana tetapi dalam.
Nilai sebuah lukisan tidak terletak pada apa yang terlihat, tetapi pada apa yang pernah terjadi di sekitarnya.
Dan dalam kasus ini, sebuah kanvas di pinggir jalan Jakarta telah berubah menjadi artefak peradaban yang, di tangan pembeli yang tepat, dapat bernilai hingga 34 miliar rupiah.
Di luar angka miliaran tersebut, lukisan ini menjadi pengingat bahwa seni sejati adalah jembatan. Ia meruntuhkan sekat dogma, menyatukan nurani manusia, dan membuktikan bahwa pesan perdamaian selalu menemukan jalannya sendiri.
Ini bukan lukisan yang menjadi mahal, melainkan sejarah yang memilih kanvas sebagai tempat tinggalnya.***
Depok, 30 April 2026
**Satrio Arismunandar* adalah lulusan S3 Filsafat FIB Universitas Indonesia. Teman lama Denny JA sejak masih kuliah di Elektro FTUI tahun 1980-an.







