Selasa, 23 Juli 2024

Forum Masyarakat Berdaya (FMB) Menggelar FGD Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Ngorok Pada Hewan Ternak, Ini Materi Yang Disampaikan

Forum Masyarakat Berdaya (FMB) Menggelar FGD Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Ngorok Pada Hewan Ternak, Ini Materi Yang Disampaikan

Palembang, mediasumatera.id 

Forum Masyarakat Berdaya ( FMB) dan Forum Masyarakat Peduli Peternakan gelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Pencegahan & Pengendalian Penyakit Ngorok (Septicaemia Epizootica) pada hewan ternak kerbau, Sapi & Kambing di Provinsi Sumatera Selatan” bertempat di Hotel Amaris Ballroom, Selasa ( 28/5/2024)

Yang menghadiri FGD Ki Edi Susilo selaku Founder Forum Masyarakat Berdaya, Ir. Ruzuan Efendi M.M selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, Keynote Speaker: H. Derga Karenza, S.P., M.M, Deva Oktavianus Coriza S.E, M.Si selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Prov. Sumsel, Dr. Ahmad Lufhfi, SH. MH. Kanit Intelkam Polda Sumsel, Dr. drh. Jafrizal M.M selaku Ketua PDHI Sumsel, Abdul Kholek, S.sos., M.A selaku akademisi, Ketua pelaksana Focus Group Discussion Forum Masyarakat Berdaya sekaligus ketua forum masyarakat peduli peternakan M. Asri Lambo S.H (Sarjana Hukum), dan Para peserta FGD Forum Masyarakat Berdaya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel Ir.Ruzuan Efendi M.M mengatakan, penyakit ngorok (Septicaemia Epizootica) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella Multocida. Biasanya menyerang hewan ternak utamanya sapi dan kerbau dan hewan lainnya seperti babi kambing domba onta dan kuda. Gejala khas adalah suara ngorok atau mendengkur bengkak di daerah submandibula. Kerugian bagi peternak adalah kematian, penurunan berat badan dan penurunan produktivitas dan potong paksa.

Laporan penyakit ngorok (SE) ada di kabupaten OKI, Kabupaten Ogan Ilir , Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Empat Lawang dan kabupaten Musi Rawas Utara.

“Upaya pengendalian adalah dengan bio security yakni isolasi, pengaturan lalu lintas dan sanitasi. Kemudian vaksinasi, KIE (mengenali gejala klinis secara cepat dan tepat , pengobatan pada awal gejala muncul dan pemeliharaan dengan memperhatikan kualitas pakan dan kesehatan hewan,” ujarnya.

Upaya pengendalian adalah dengan menetapkan pejabat otoritas veteriner (POV) tingkat provinsi dan kabupaten kota. Kemudian mengeluarkan surat edaran pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan. Selanjutnya mengoptimalkan pendampingan petugas teknis peningkatan produksi peternak serta distribusi obat-obatan multivitamin desinfektan dan logistik.

Upaya pengendalian juga dilakukan dengan vaksinasi pada hewan sehat yakni distribusi vaksin SE 9.800 dosis, realisasi vaksin SE (iSIKHNAS) 6.747 dosis. Pelaksanaan pengobatan kuratif dan suportif, serta pelaksanaan dekontaminasi dan desinfeksi wilayah sekitar kandang.

Selanjutnya, bekerjasama dengan disposal hewan mati menggunakan alat berat atau excavator. Pengetahuan lalu lintas oleh POV untuk keluar masuknya hewan atau produk hewan atau media pembawa penyakit hewan dengan prinsip manajemen risiko.

“Kolaborasi antar stakeholder perangkat desa kelompok ternak untuk akses sumber pendanaan daerah,” katanya.

Baca Juga :  IPOSC 2022 Bakal Dihadiri 800 Petani Sawit, Jadi Wadah Sosialisasi Tata Kelola Sawit Rakyat

Lebih lanjut Ruzuan Effendi mengatakan, banyak faktor yang sebabkan kerbau rawa yang belum lama ini banyak yang mati di OKI tersebut. Salahsatunya itu terkait kebiasaan lepas liar hewan ternak ini oleh masyarakat. Dengan kata lain, hal tadi menyebabkan hewan ternak tersebut akan sangat rentan terkena penyakit.

” Di dalam kandang saja, potensinya masih ada apalagi yang dilepas liarkan begitu saja oleh pemiliknya, sehingga hal ini membuat ternak menjadi rentan terserang penyakit dan salahsatunya penyakit ngorok akibat bakteri SE. Untuk itu, kita juga himbau bagi pemilik ternak atau peternak untuk terapkan pola Pengandangan. Sehingga bisa dapat terus mengontrol kesehatan termasuk juga pakan yang diberikan. Jangan hanya diberi karbohidrat saja, tapi pastikan protein serta vitamin juga seimbang,” ulasnya.

Tidak hanya, untuk mengantisipasi semua hal tersebut terulang, pihaknya juga mulai mewajibkan peternak untuk memvaksinasi hewan ternak miliknya. Baik itu yang berada di kandang maupun yang dilepas liar. Untuk itu, program vaksinasi ini dilakukan secara serentak dengan melibatkan stakeholder terkait dan peternak atau pemilik hewan tadi. Hanya saja, karena jumlahnya yang terbatas, kemungkinan akan ada biaya.

” Selain di kandang, makanan hewan ternak ini juga harus seimbang, selain itu supaya bisa tetap sehat, pastikan jua hewan ternak ini divaksin dan mengontrol kesehatan dari hewan ternak tersebut. Semua langkah ini, akan kita libatkan pihak desa dan badan jua dinas terkait. Karena semua harus berjalan bersama dan tidak bisa sepihak saja,” ulasnya.

Sementara itu, Dr. drh. Jafrizal M.M selaku Ketua PDHI Sumsel mengatakan, Kejadian yang menimpa kerbau rawa si OKI beberapa waktu lalu, bukan karena virus melainkan karena bakteri yang dialami oleh kerbau rawa atau yang dilepas liar oleh pemiliknya. Kejadian ini terjadi terutama di musim penghujan, yang mana bakteri yang menjangkiti kerbau yakni Septicaemia Epizootica ini banyak ditemui di kawasan rawa. Di samping itu, di dalam kubangan air, bakteri tersebut bisa bertahan hidup hingga 10 hari. Selain itu, penyebarannya ataupun penularannya juga sangat cepat, sehingga hal ini menyebabkan kerbau banyak mati.

Di samping bakteri SE, masih kata Jafrizal tadi, setidaknya ada 18 penyakit hewan ini yang perlu diwaspadai oleh peternak atau pemilik hewan, terutama di musim hujan mendatang. Jangan sampai, karena fokus di dalam penanganan satu penyakit, maka belasan penyakit lainnya terabaikan. Maka yang paling nyata dan bisa ditemui matinya hewan ternak tersebut.

” Saat bakteri SE ini menjangkiti kerbau tadi, fokus petani pada penyakit mulut dan kuku (PMK) serta LSD, namun faktanya terjadi di lapangan, kerbau tadi banyak mati terkena bakteri SE yang penularannya sangat cepat tersebut. Untuk solusinya, yakni pemberian vaksin dan pakan ternak yang baik. Bukan hanya itu, kondisi lingkungan juga menjadi point’ yang sangat penting di dalam upaya meminimalisir penyakit pada ternak,” terang Jafrizal.

Baca Juga :  Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Karya Sumadi Minta Kepala Daerah Integrasikan Angkutan Umum, Agar Mengurangi Kemacetan di Palembang

Ditempat yang sama, Abdul Kholek, S.sos., M.A selaku akademisi dari Unsri mengatakan,untuk kegiatan FGD ini saya dari Akademisi dari bidang sosial atau sosiologi, menyampaikan materi tentang bagaimana program-program ini bisa berpihak pada petani, kemudian pada peternak dan juga nelayan. Yang artinya keberpihakan itu yang sangat dibutuhkan oleh apa namanya oleh petani peternak dan nelayan dalam rangka Untuk mensupport hal-hal yang tidak diinginkan.Terutama kematian ternak karena karena sebuah penyakit, artinya harus ada kerangka apa namanya ideal yang dibangun oleh pemerintah.

Dalam hal ini oleh dinas terkait untuk mengantisipasi maupun menanggulangi ketika terjadi kejadian-kejadian yang tidak terduga apakah dalam bentuk asuransi ataupun dalam bentuk program-program lain yang benar-benar menyentuh pada penerima manfaatnya.
Yang lebih cenderung pada keberpihakan pada petani dan nelayan.

“Kami menghimbau jika membeli hewan untuk qurban agar membeli hewan yang memang sudah ada dasar legalnya dan sertifikasilah dari keamanan dan lain sebagainya, karena ini untuk menghindari penyebaran penyakit yang menular,” katanya.

Sementara di tempat yang sama, Muhammad Asri Lambo SH, Ketua forum Masyarakat Peduli Perternakan mengatakan, bekerjasama dengan forum masyarakat berdaya, menambahkan pencegahan dan pengendalian penyakit ngorok pada hewan ternak kerbau, sapi dan kambing.

Karena memang saat ini kan beberapa waktu yang lalu terdapat penyebaran penyakit kita dalam rangka untuk pengendalian ke depannya akan pencegahan ke depannya. Ini kurang lebih 50 ada dari komunitas peternak, ada dari pedagang peternak ada dari pemerhati aktivis dan mahasiswa yang peduli terhadap hewan.

“Harapan kita dalam FGD tentang kedaulatan pangan salah satu suasana swasembada daging soal peternakan soal daging ini jarang di publis, sehingga ini dijadikan isu pembicaranya, ketika ada persoalan-persoalan seperti kemarin menemukan solusi. Jadi kalau kita bareng-bareng lintas sektor lintas instansi pemerintah dan masyarakat dan kelompok yang peduli yaitu bisa cepat penanganannya,” bebernya.

“Harapan Kita kan memang daging untuk memenuhi pasar di Sumatera Selatan ini, jangan hanya impor saja artinya bagaimana mendorong agar memang daging-daging yang mengisi pasar-pasar itu dari peternak lokal kita, sehingga pertumbuhan ekonomi di masyarakat desa yang mayoritas peternak,” tandasnya.

Baca Juga :  Kombes Pol Irsan Sinuhaji SIK. MH Lounching Vaksinasi Merdeka Usia 6 s/d 12 Tahun

Keynote Speaker: H. Derga Karenza, S.P., M.M menjelaskan, Penyakit ngorok, atau Septicaemia Epizootica, adalah penyakit bakterial menular yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada hewan ternak seperti kerbau, sapi, dan kambing. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida yang menyebar dengan cepat melalui kontak langsung atau udara. Kasus terbaru pada tanggal 15 april 2024 kemarin di Kab. Ogan Komering Ilir – Puluhan ekor kerbau mati mendadak di Desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lampam dan Desa Tanjung Batu, Kecamatan Air Sugihan, Kab. OKI. Puluhan Hewan ternak diduga mati terserang penyakit septicaemia epizootica atau ngorok.

“Saya ingin menekankan bahwa pencegahan dan penanganan penyakit ngorok memerlukan kerjasama yang erat antara pemerintah, peternak, dan tenaga kesehatan hewan. Implementasi program asuransi ternak dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi dampak ekonomi dari penyakit ini. Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, penanganan yang cepat, dan dukungan dari program asuransi, kita dapat menjaga kesehatan serta produktivitas hewan ternak di Provinsi Sumatera Selatan,” bebernya.

Ditempat yang sama, Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan Peternakan FMB ,Tarisa Indah Lestari mengatakan, FGD ini menyampaikan permasalahan terkait tentang matinya hewan ternak berupa kerbau, bagaimana caranya pencegahan dan juga pengendalian penyakit dari kasus tersebut.

Penyakit yang sedang sangat dibahas itu yaitu mengenai penyakit ngorok. Jadi mungkin melalui diskusi ini kita ingin menjawab mengenai pertanyaan-pertanyaan dari para peternak soalnya di sini penyakit ini kan menyebar katanya itu berdasarkan dari aliran air kan. Nah itu yang menjadi salah satu permasalahan dan juga para peternak karena para hewan ternaknya ini pada mati misterius nah jadi di sini pun juga menegaskan bahwa pemerintah itu juga sudah memberikan suatu penanganan di mana penanganan ini yaitu berupa vaksin dan juga vitamin untuk mencegah penyakit ini menyebar.

“Harapan sederhana untuk dari diskusi kita kali ini itu menghasilkan bagaimana tanggapan dari para peternak itu menyikapi dan simpang siurnya berita itu dapat terkikis. Karena sudah diberikan penjelasan sebelumnya oleh para dinas dan juga para aktivis dan terkait mengenai penyakit ini,” katanya.

Peserta FGD, M.Kholid Saputra,SH mengatakan, kegiatan ini bagus untuk kedepannya untuk para petani hewan untuk melihat bagaimana cara mengelola peternaknya, agar hewan-hewan itu tidak ngorok.

“Selain itu, temen-temen bisa membeli hewan ternak itu agar tidak salah pilih. Harapan kedepannya untuk fgd ini sangat bagus dan juga mencari materi-materi lain untuk kedepannya lebih bagus lagi untuk menganalisa yang luar biasa,” pungkasnya.