Opini  

Gereja Katolik St. Mikael Tanjung Sakti dan Wajah Kerukunan Umat Beragama di Kaki Gunung Dempo

Gereja Katolik St. Mikael Tanjung Sakti dan Wajah Kerukunan Umat Beragama di Kaki Gunung Dempo

Oleh : Andreas Daris Awalistyo, S.Pd., M.I.Kom

Pendidik dan Jurnalis  tinggal di Palembang

 

Di pelosok Sumatera Selatan, tepatnya di kawasan kaki Gunung Dempo  yang dikenal sebagai Tanjung Sakti, berdiri sebuah gereja tua yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, iman, dan persaudaraan antarumat beragama. Gereja Katolik St. Mikael Tanjung Sakti, yang jejak misinya dimulai sejak tahun 1888, bukan sekadar tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga menjadi simbol kerukunan dan toleransi yang tumbuh subur di wilayah Bumi Pasemah.

 

Sejarah yang Menjadi Fondasi Damai

Lebih dari satu abad lalu, para misionaris Katolik datang ke Tanjung Sakti dengan semangat membawa pelayanan rohani dan sosial. Mereka datang bukan sebagai penguasa, bukan pula dengan niat mendominasi, melainkan hadir sebagai pelayan—mendampingi masyarakat, membangun sekolah, memberikan pelayanan kesehatan, serta menjadi bagian dari denyut kehidupan warga lokal. Ketulusan ini membuka hati masyarakat Tanjung Sakti, yang dikenal ramah dan terbuka terhadap sesama, terlepas dari latar belakang agama.

Gereja Katolik St. Mikael Tanjung Sakti dan Wajah Kerukunan Umat Beragama di Kaki Gunung Dempo

Dengan semangat yang mengakar pada nilai-nilai kasih dan perdamaian, Gereja Katolik St. Mikael tidak hanya membentuk komunitas Katolik yang kuat, tetapi juga berinteraksi dan berbaur secara harmonis dengan komunitas agama lain. Tidak pernah ada catatan konflik serius berbasis agama di Tanjung Sakti, dan hal ini menjadi bukti nyata bahwa sejak awal, gereja ini tumbuh dalam semangat toleransi yang tinggi.

 

Alam Sejuk, Hati yang Sejuk

Tanjung Sakti dikenal sebagai wilayah yang sejuk dan damai, baik secara harfiah maupun maknawi. Dikelilingi oleh lanskap hijau yang menyejukkan mata, dengan latar megah Gunung Dempo, kehidupan di sini mengalir tenang, jauh dari hiruk-pikuk pertentangan yang sering menghantui wilayah-wilayah yang gagal merawat keberagaman.

Baca Juga :  DARI GURUN PASIR KE PUSAT DUNIA

Gereja Katolik St. Mikael Tanjung Sakti dan Wajah Kerukunan Umat Beragama di Kaki Gunung Dempo

Suasana alam yang sejuk seolah selaras dengan sejuknya hati masyarakatnya. Dalam keseharian, warga Tanjung Sakti hidup bergandengan tangan. Saat Idul Fitri tiba, umat Katolik ikut menjaga keamanan dan membantu persiapan. Saat Natal, tetangga Muslim datang berkunjung, mengucapkan selamat, bahkan ikut membantu mendirikan tenda dan menghias gereja. Pemandangan ini bukan hal yang dibuat-buat, melainkan realitas yang terjadi dari generasi ke generasi.

 

Kerukunan Umat Beragama: Nilai yang Dihidupi

Kerukunan di Tanjung Sakti bukanlah sekadar wacana yang digalakkan oleh pemerintah atau lembaga keagamaan, melainkan nilai hidup yang dihayati bersama oleh masyarakat. Baik umat Islam, Katolik, Kristen Protestan, maupun pemeluk kepercayaan lokal hidup berdampingan tanpa saling mencurigai.

 

Dalam konteks ini, Gereja St. Mikael memainkan peran penting. Tidak jarang gereja ini menjadi tempat berkumpulnya lintas tokoh agama dan masyarakat saat menghadapi persoalan sosial. Kegiatan sosial gereja terbuka bagi siapa pun—tidak memandang agama. Dalam kegiatan gotong royong membangun jembatan, saluran irigasi, atau saat panen raya, umat Katolik dan umat agama lain berdiri dalam satu barisan.

 

Lebih jauh lagi, generasi muda dari berbagai latar belakang agama pun bersekolah bersama, bermain bersama, dan tumbuh dengan nilai toleransi. Ini adalah investasi jangka panjang yang membuat Tanjung Sakti menjadi contoh konkret tentang bagaimana kerukunan bisa dijaga, dirawat, dan diwariskan.

 

Masyarakat Petani yang Giat dan Bersatu

Kehidupan di Tanjung Sakti sangat bergantung pada alam. Mayoritas masyarakatnya adalah petani yang hidup dari tanah subur di kaki Gunung Dempo. Mereka adalah sosok-sosok pekerja keras, yang memuliakan kerja sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta.

 

Uniknya, semangat kerja keras ini juga menciptakan ruang kebersamaan lintas agama. Ketika sawah satu panen, tetangga yang berbeda agama ikut membantu. Ketika musim kopi tiba, mereka saling berbagi hasil, tenaga, dan semangat. Kehidupan ekonomi yang sederhana tapi penuh solidaritas ini turut memperkuat kohesi sosial yang menjauhkan masyarakat dari bibit perpecahan.

Baca Juga :  MENGAPA PERLU IKUT MERAYAKAN SECARA SOSIAL HARI BESAR AGAMA LAIN?

Gereja Katolik St. Mikael Tanjung Sakti dan Wajah Kerukunan Umat Beragama di Kaki Gunung Dempo

Gereja Katolik St. Mikael, yang hadir sejak tahun 1888, telah menjadi bagian dari kehidupan pertanian ini—mendoakan panen, mengedukasi anak-anak petani, hingga menjadi tempat bersandar saat musibah melanda.

 

Gereja St. Mikael Tanjung Sakti sebagai Warisan Toleransi

Dalam dunia yang makin rawan terbelah oleh isu identitas dan perbedaan keyakinan, Tanjung Sakti memberikan teladan yang menyejukkan. Di tengah perbedaan, ada persaudaraan. Di tengah keberagaman, ada kebersamaan. Dan di tengah pegunungan yang hijau, ada sebuah gereja tua—Gereja Katolik St. Mikael—yang tegak berdiri sebagai penjaga warisan toleransi dan kedamaian.

 

Kiranya, semangat yang hidup di Tanjung Sakti dapat menjadi cermin bagi daerah-daerah lain,  bahwa Indonesia bisa kuat justru karena kita berbeda, dan tetap memilih untuk bersatu