Hati yang Tulus, Pembawa Damai, dan Tetap Setia dalam Kebenaran

Hati yang Tulus, Pembawa Damai, dan Tetap Setia dalam Kebenaran

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id – Mengawali bulan Februari dengan penuh hikmat dan sukacita, GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar kembali menggelar Ibadah Minggu Septuagesima dengan tema “Hidup Berbahagia di Dalam Tuhan.” pada hari Minggu, 01 Februari 2026. Meski rumah Tuhan masih direnovasi, jemaat datang dengan semangat yang tidak bisa dihentikan oleh keadaan. Mereka datang bukan karena bangunan sudah sempurna, tetapi karena iman mereka kepada Tuhan tetap utuh.

Ibadah diawali dengan Lagu Mars GKPI yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Suara jemaat menyatu, diiringi organ yang dimainkan Inang A. br Sihombing. Di tengah bangunan yang belum rampung, pujian itu terdengar begitu tulus, seolah setiap nada menjadi doa: Tuhan, kami tetap datang kepadaMu.

Ada yang datang dengan pergumulan. Ada yang datang dengan kelelahan hidup. Ada yang mungkin datang dengan hati yang sedang patah. Namun pagi itu, semua duduk bersama sebagai satu keluarga di dalam Tuhan.

Firman Tuhan diambil dari Matius 5:1–12 dan disampaikan oleh Inang Pdt. Maria br Simatupang, M.Th dari Kantor Sinode GKPI. Dengan suara yang lembut namun penuh kuasa, beliau mengingatkan jemaat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. “Ketika kita tidak melihat jalan, Tuhan sedang menyiapkan jalan. Ketika kita merasa lemah, Tuhan sedang menguatkan. Kita ini orang-orang yang sangat dikasihi dan diingat oleh Tuhan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi banyak jemaat, kalimat itu menembus hati.

Renungan hari itu mengajak jemaat melihat kembali ucapan bahagia dari Yesus. Bukan bahagia menurut dunia, tetapi bahagia menurut Tuhan. Ada tiga hal yang ditekankan: hati yang tulus, hidup sebagai pembawa damai, dan tetap setia dalam kebenaran meski harus menderita.

Baca Juga :  Balon Bawaslu Sumsel menurut Bagindo Butar butar banyak kepentingan Parpol

Ketika firman tentang hati yang tulus disampaikan, suasana ibadah terasa hening. Banyak yang tersentuh. Dunia sering mengajarkan manusia untuk memakai topeng, tersenyum di luar, tetapi menyimpan luka di dalam. Namun Tuhan tidak melihat penampilan luar. Tuhan melihat hati.

“Orang yang kuat bukanlah yang paling kaya atau paling berkuasa,” disampaikan dalam khotbah itu. “Orang yang kuat adalah orang yang hatinya tulus di hadapan Tuhan.”

Di bangku jemaat, ada yang menundukkan kepala. Ada yang mengusap mata. Ada yang berdoa dalam diam. Seolah firman itu berbicara langsung kepada setiap hati.

Renungan berlanjut tentang menjadi pembawa damai. Damai yang dimaksud bukan sekadar tidak bertengkar, tetapi menghadirkan Kristus di tengah konflik. Menjadi pembawa damai berarti membawa kasih Tuhan ke tengah keluarga, gereja, dan masyarakat yang sering dilanda perpecahan.

Dan ketika firman tentang kesetiaan dalam penderitaan disampaikan, suasana menjadi semakin haru. Yesus berkata, berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Bukan karena penderitaan itu menyenangkan, tetapi karena Tuhan menyertai setiap langkah orang yang setia.

Mungkin ada jemaat yang sedang bergumul dalam hidup. Mungkin ada yang merasa sendirian. Namun pagi itu, mereka diingatkan: Tuhan melihat. Tuhan peduli. Tuhan tidak pernah meninggalkan.

Liturgi ibadah dipimpin oleh Inang Pnt. R. br Lumbantobing yang juga membacakan epistel dari Ulangan 33:24–29. Warta jemaat dan doa syafaat dipimpin oleh Inang Pnt. N. br Panggabean. Pujian dipimpin oleh song leader Inang B. br Parapat dan Inggrid br Ginting. Persembahan serta penerimaan tamu dilayani oleh Amang C.Pnt. Victor Asido Elyakim dan Amang C.Pnt. P. Purba.

Hati yang Tulus, Pembawa Damai, dan Tetap Setia dalam Kebenaran

Semua pelayanan itu berjalan sederhana, tetapi penuh kasih. Tidak ada yang mewah. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga: kehangatan sebagai tubuh Kristus.

Baca Juga :  Wagub Papua Buka Rakornas Gercin Indonesia, Apresiasi Peran Strategis Gercin dalam Pembangunan Tanah Papua

Di tengah proses renovasi gereja yang belum selesai, jemaat justru mengalami renovasi hati. Mereka pulang dengan wajah yang berbeda. Ada senyum yang lebih tulus. Ada mata yang berkaca-kaca. Ada hati yang terasa lebih ringan.

Seorang jemaat berkata pelan setelah selesai ibadah, “Bangunan gereja mungkin belum selesai… tapi hari ini hati saya diperbaiki Tuhan.”

Hati yang Tulus, Pembawa Damai, dan Tetap Setia dalam Kebenaran

Ibadah hari itu menjadi pengingat bahwa gereja bukan hanya tentang bangunan, melainkan tentang umat yang berkumpul di dalam kasih Tuhan. Di tengah keterbatasan, Tuhan tetap bekerja. Di tengah proses, Tuhan tetap hadir.

Mungkin bangunan itu masih dalam tahap renovasi. Namun iman jemaat sedang dikuatkan. Harapan sedang diperbaharui. Dan kasih Tuhan tetap nyata.

Kiranya setiap orang yang membaca kisah ini diingatkan: “Apa pun keadaan kita hari ini, kita tidak sendiri. Tuhan bekerja dalam hidup kita. Tuhan menguatkan kita. Dan Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan hati yang tulus, menjadi pembawa damai, serta tetap setia dalam kebenaran.”

Karena di dalam Tuhan, selalu ada harapan. Dan di dalam hadiratNya, selalu ada kebahagiaan yang sejati.

Hati yang Tulus, Pembawa Damai, dan Tetap Setia dalam Kebenaran

.

Bagi jemaat dan donatur yang tergerak untuk memberikan bantuan bagi renovasi GKPI Jemaat Khusus Immanuel Pematangsiantar, dapat menyalurkan donasi melalui:

Rekening Donasi:
🏦 Bank: Bank SUMUT
💳 Nomor Rekening: 22002040465521
📌 Atas Nama: PANPEM GKPI JK Immanuel

Setiap dukungan yang diberikan, baik besar maupun kecil, akan sangat berarti bagi pembangunan rumah Tuhan. Tuhan memberkati setiap tangan yang memberi dengan sukacita.

“Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kita lebih besar dari segala allah. Tetapi siapakah yang mampu mendirikan rumah bagi-Nya, karena langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku mampu mendirikan rumah bagi-Nya, kecuali hanya untuk membakar korban di hadapan-Nya?”

(2 Tawarikh 2:5-6)

Soli Deo Gloria.

Baca Juga :  Kalau Tol Jambi-Pekanbaru Jadi, Orang Medan bisa Malam Mingguan di Bandung Berangkat Jumat Rebahan dulu Jambi

(VIP)