Kasih Allah Besar Akan Dunia Ini

Kasih Allah Besar Akan Dunia Ini

RENUNGAN PARTANGIANGAN SEKTOR SHALOM GKPI JK IMMANUEL

Kamis, 05 Maret 2026

PEMATANGSIANTAR, mediasumatera.id –Suasana khidmat menyelimuti ibadah Partangiangan hari Rabu di Jemaat Sektor Shalom GKPI JK Immanuel.

Ibadah dipimpin dalam liturgi oleh Amang St. A. Sinaga, yang menuntun jemaat dalam doa, pujian, dan pengakuan iman dengan tertib dan penuh penghayatan. Suasana ibadah semakin diberkati melalui persembahan nyanyian rohani yang dibawakan oleh C.St. Victor Asido Elyakim P, yang menguatkan hati jemaat untuk semakin merasakan hadirat Tuhan.

Firman Tuhan disampaikan oleh Amang Andres Siringoringo, S.Th, yang mengajak seluruh jemaat merenungkan betapa besar kasih Allah di tengah perjalanan masa Prapaska.
Mengangkat tema “Kasih Allah Besar Akan Dunia Ini”, renungan malam itu masih berada dalam Minggu Reminiscere, yang diambil dari Kitab Mazmur 25:6: “Reminiscere Miserationum Tuarum Domine” yang artinya Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya Tuhan.
Dalam masa Prapaska ini, jemaat diajak untuk memohon agar Tuhan mengingat janji kasih-Nya. Bukan karena Tuhan lupa, tetapi agar hati kita kembali disadarkan bahwa hidup ini berdiri di atas kasih setia-Nya.
Belajar dari Nikodemus
Renungan berfokus pada kisah Nikodemus dalam Injil Yohanes pasal 3. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi, anggota Mahkamah Agama (Sanhedrin). Ia mengenal hukum Taurat dan memahami ajaran agama. Namun, ada kekosongan dalam hidupnya.
Ia datang kepada Yesus pada malam hari. Mengapa malam? Bisa jadi karena rasa malu. Sebagai pemuka agama besar, ia enggan diketahui orang bahwa ia datang kepada seorang guru dari Nazaret.
Nikodemus berkata, “Guru, kami tahu Engkau datang dari Allah.” Namun Yesus menjawab dengan sesuatu yang mengejutkan: “Sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
Nikodemus berpikir secara logika, bagaimana mungkin seseorang dilahirkan kembali? Apakah harus masuk kembali ke rahim ibunya?
Namun Yesus tidak berbicara tentang kelahiran jasmani. Ia berbicara tentang pembaruan rohani. Manusia tidak cukup hanya diperbaiki. Kita harus diperbaharui dari dalam, oleh kuasa Roh Kudus. Dari gelap menuju terang. Dari kehidupan lama menuju hidup yang baru.
Kasih Agape: Tanpa Syarat
Puncak dari renungan ini mengarah pada Injil Yohanes 3:16–17:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…”

Baca Juga :  Renungan hari ini: Mampukah Kita Melihat Kuasa Tuhan Di Balik Mukjizat

Kasih yang dimaksud adalah kasih agape, kasih tanpa syarat. Bukan kasih yang menuntut balasan. Bukan kasih yang tersembunyi maksud di baliknya.
Sebagai manusia, sering kali kita mengasihi dengan syarat. Ada “udang di balik batu”. Tetapi kasih Yesus berbeda. Ia tetap mengasihi walau kita berdosa. Ia rela menanggung dosa di kayu salib karena kita berharga di hadapan-Nya.
Amang Andres menyampaikan sebuah ilustrasi sederhana namun menyentuh. Seorang bapak memegang uang Rp100.000, lalu meremas dan mengoyaknya. Ia bertanya kepada seorang pemuda, “Masih mau uang ini?” Jawabnya: “Mau.”
Mengapa? Karena nilainya tetap ada.
Demikianlah manusia di hadapan Tuhan. Sekalipun hidup kita pernah “remuk”, “terkoyak”, bahkan terasa seperti dibuang, nilai kita di mata Kristus tidak pernah hilang. Kita tetap berharga. Itulah sebabnya Ia rela berkorban.

Refleksi di Masa Prapaska

Dalam masa Prapaska ini, jemaat diajak untuk berefleksi:
1. Apa saja kasih Tuhan yang sudah kita terima?
2. Kesehatan, nafas kehidupan, kesempatan beribadah, semuanya adalah anugerah.
3. Kita bisa datang beribadah bukan karena kekuatan sendiri, tetapi karena pertolongan Tuhan.
Dalam perikop yang dibahas, ular menjadi gambaran dosa. Seperti bangsa Israel memandang ular tembaga agar diselamatkan, demikian pula kita diajak mengingat dosa-dosa kita dan datang kepada Kristus untuk menerima keselamatan.
Kasih Tuhan tidak pernah berhenti. Tidak berkurang oleh kelemahan kita. Tidak habis oleh kegagalan kita.

Penutup
Melalui renungan ini, jemaat GKPI JK Immanuel diingatkan kembali bahwa kekristenan bukan sekadar mengetahui agama, tetapi memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan. Bukan hanya menjadi religius, tetapi mengalami kelahiran baru.
Di tengah perjalanan Prapaska, marilah kita mengingat rahmat dan kasih setia Tuhan. Mendekat kepada-Nya. Membiarkan Roh Kudus memperbaharui hidup kita.
Karena sungguh, kasih Allah begitu besar akan dunia ini, dan kasih itu juga bagi kita.

Baca Juga :  Renungan hari ini: Tuhan, Kapan Kami Melihat Engkau

Amin.

(VIP)