KETIKA ANAK-ANAK SMP BERSAKSI SOAL EKOLOGI DAN BENCANA SUMATRA DENGAN PUISI ESAI – Pengantar Antologi Puisi Esai SMP Negeri 15 Jakarta

KETIKA ANAK-ANAK SMP BERSAKSI SOAL EKOLOGI DAN BENCANA SUMATRA DENGAN PUISI ESAI - Pengantar Antologi Puisi Esai SMP Negeri 15 Jakarta

mediasumatera.id – Malam itu hujan turun seperti seseorang yang lupa cara berhenti menangis.

Di sebuah desa kecil di Sumatra, seorang anak perempuan berdiri di depan rumahnya yang mulai tenggelam perlahan. Air setinggi lutut masuk tanpa meminta izin.

Ibunya sibuk memasukkan surat-surat penting ke dalam tas lusuh, sementara ayahnya memanggul adiknya yang terus menangis ketakutan.

Tetapi gadis kecil itu justru memeluk dinding rumahnya.

Di sana masih tergantung tinggi badannya setiap ulang tahun. Di lantai semen itu ia pernah belajar berjalan. Di ruang sempit itu doa-doa keluarganya tumbuh diam-diam setiap malam.

Lalu suara kayu patah terdengar pelan. Rumah itu retak.

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, anak itu sadar: yang paling menyakitkan dari bencana bukan kehilangan barang.

Melainkan kehilangan tempat di dunia yang selalu membuatmu merasa pulang.

-000-

Ada buku yang lahir dari kecanggihan teknik sastra. Ada buku yang lahir dari kemarahan politik.

Tetapi antologi ini lahir dari sesuatu yang jauh lebih langka: kesadaran anak-anak SMP bahwa bumi bisa terluka.

Buku ini berjudul Kembali Mencintai Bumi Setelah Sumatra Menangis.

Ia ditulis oleh puluhan siswa SMP Negeri 15 Jakarta yang belajar puisi esai di Tebet Eco Park. Mereka mengekspresikan diri di bawah langit mendung dan rumput yang masih menyimpan sisa hujan pagi.

Di sela riuh Jakarta, Tebet Eco Park menjadi saksi bahwa alam bukan sekadar dekorasi kota, melainkan ruang suci tempat nurani anak-anak kembali bertaut dengan napas hutan Sumatra yang kian sesak.

Mereka tidak datang membawa teori besar. Mereka datang membawa rasa ingin tahu.

Mereka berdiskusi tentang banjir, longsor, hutan yang hilang, sungai yang berubah keruh, gajah Sumatra yang kehilangan rumah, dan anak-anak pengungsi yang tidur di bawah tenda darurat.

Mereka lalu menulis.

Dan yang lahir bukan sekadar tugas sekolah. Yang lahir adalah kesaksian generasi muda tentang bumi yang sedang terluka.

Editor buku ini, Dewi Arimbi, berhasil menjaga suara para siswa tetap jujur dan manusiawi. Nita Ch. Lusaid, bersama Denny JA Foundation, menghadirkan ruang yang membuat anak-anak merasa aman untuk berpikir dan merasakan.

Yang mengejutkan saya bukan hanya kualitas puisinya. Tetapi keberanian moral mereka.

Di usia ketika banyak anak sibuk mengejar tren media sosial, mereka justru menulis tentang kehilangan rumah, hutan yang ditebang, dan ibu-ibu yang menangis di pengungsian.

Mereka menulis seperti manusia yang telah melihat sesuatu yang retak di dunia.

-000-

Hal pertama yang membuat buku ini sangat kuat adalah kemampuannya mengubah statistik menjadi luka manusia.

Anak-anak ini tidak sekadar menulis angka korban. Mereka mengubah angka menjadi wajah.

Dalam puisi “Pulang,” sebuah rumah dijadikan narator. Rumah itu berbicara tentang anak-anak yang pernah berlari di lantainya, tentang kalender tua di dinding, tentang doa-doa keluarga yang tumbuh diam-diam di ruang sempitnya.

Lalu banjir datang. Dan rumah itu berkata:

“Aku hanya ingin menjadi tempat pulang.”

Baca Juga :  Ditarget Rampung 2024, Tol Jambi Pangkas Waktu 5 Jam ke Palembang

Kalimat sederhana itu terasa menghantam karena ia menyentuh inti terdalam manusia: kebutuhan akan rasa aman.

Anak-anak SMP ini memahami sesuatu yang sering gagal dipahami orang dewasa: bahwa bencana ekologis selalu berubah menjadi tragedi emosional.

Rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah ingatan. Rumah adalah pelukan. Rumah adalah tempat seseorang percaya bahwa dunia masih aman.

-000-

Hal kedua yang membuat buku ini luar biasa adalah keberanian mereka menghubungkan bencana dengan moralitas manusia.

Mereka tidak berhenti pada hujan deras. Mereka bicara tentang hutan yang ditebang, sungai yang dipersempit, tanah yang dipaksa bekerja tanpa diberi waktu bernapas.

Mereka memahami bahwa banjir bukan sekadar fenomena alam.

Ia adalah akumulasi dari keserakahan manusia yang terlalu lama merasa berhak mengambil tanpa merawat.

Di beberapa puisi, bumi berbicara seperti makhluk hidup yang kelelahan. Hutan menangis. Air kehilangan arah. Tanah merasa sesak.

Ini bukan sekadar gaya bahasa puitik. Ini adalah kesadaran ekologis yang sangat matang.

Mereka memahami bahwa ketika manusia merusak hutan, yang sesungguhnya rusak bukan hanya pohon.

Yang rusak adalah keseimbangan hidup. Dan yang paling mengagumkan: kesadaran itu lahir dari anak-anak berusia tiga belas atau empat belas tahun.

-000-

Hal ketiga yang membuat antologi ini penting adalah fakta bahwa ia lahir di era Artificial Intelligence.

Hari ini kita hidup di zaman yang sangat cepat. Anak-anak dibesarkan oleh layar. Perhatian manusia dipotong menjadi video pendek beberapa detik.

Tetapi di tengah dunia seperti itu, anak-anak SMP ini memilih duduk di taman dan membicarakan penderitaan bumi.

Sebagian dari mereka bahkan menggunakan AI untuk membantu menyusun kerangka tulisan.

Namun mereka tetap membaca ulang, memperdebatkan pilihan kata, dan menambahkan rasa yang hanya bisa lahir dari hati manusia.

Di sinilah saya percaya:

teknologi mungkin membantu menulis kalimat, tetapi empati tetap lahir dari jiwa manusia. Dan sastra adalah salah satu cara tertua manusia melatih empati.

Buku ini membuktikan bahwa generasi digital masih bisa menangis untuk bumi. Dan selama kemampuan itu masih ada, masa depan belum sepenuhnya gelap.

-000-

Di dunia internasional, kita pernah melihat karya remaja yang mengguncang pembaca karena kejujuran emosinya.

Jacqueline Woodson, dalam Brown Girl Dreaming, menulis masa kecilnya sebagai anak Afrika-Amerika, dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh luka sejarah.

Ia tidak berteriak tentang diskriminasi rasial. Ia menuliskannya lewat dapur keluarga, suara nenek, dan percakapan kecil sehari-hari.

Yang membuat karya itu besar adalah kejujuran. Antologi ini memiliki kualitas yang sama.

Anak-anak SMP Negeri 15 Jakarta tidak sedang mencoba menjadi penyair besar. Mereka hanya sedang jujur. Dan justru karena itu suara mereka terasa sangat kuat.

Caroline Kennedy juga pernah menyusun buku Poems to Learn by Heart, kumpulan puisi untuk anak muda yang percaya bahwa puisi membantu manusia memahami hidup sebelum mereka cukup dewasa menjelaskan semuanya secara logis.

Buku ini melakukan hal yang sama. Ia mengajarkan anak-anak bahwa membaca dan menulis puisi bukan sekadar kegiatan sastra.

Baca Juga :  Uskup Agung Palembang Sebagai Narasumber Seminar Layanan Pendidikan Karakter

Ia adalah latihan menjadi manusia.

-000-

Dalam konteks sastra ekologi dunia, antologi ini sebenarnya memiliki posisi yang menarik. Ia berdiri di jalur yang sama dengan tradisi tulisan lingkungan yang lahir dari kegelisahan moral generasi muda terhadap bumi yang terluka.

Greta Thunberg, dalam No One Is Too Small to Make a Difference, menunjukkan bagaimana suara remaja dapat mengguncang percakapan global tentang krisis iklim.

Greta tidak berbicara sebagai ilmuwan. Ia berbicara sebagai anak muda yang marah karena orang dewasa gagal menjaga masa depan.

Spirit yang sama terasa dalam antologi ini. Anak-anak SMP Negeri 15 Jakarta tidak menawarkan teori ekologis yang rumit. Mereka menawarkan kegelisahan yang jujur.

Sementara itu, Robin Wall Kimmerer dalam Braiding Sweetgrass mengajarkan bahwa manusia seharusnya tidak memandang alam sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai kerabat hidup yang harus dihormati.

Kesadaran serupa muncul dalam puisi-puisi siswa SMP ini ketika mereka menulis tentang hutan yang kehilangan suara dan sungai yang kehilangan arah.

Bahkan bayang-bayang Silent Spring karya Rachel Carson terasa hadir di sini. Carson mengubah isu lingkungan dari sekadar data ilmiah menjadi kegelisahan moral publik.

Antologi ini melakukan hal serupa dalam skala yang lebih kecil tetapi sangat manusiawi: ia membuat bencana ekologis terasa dekat, personal, dan emosional melalui mata anak-anak yang belum kehilangan kemampuan untuk merasa sedih melihat bumi terluka.

-000-

Bencana Sumatra sendiri memang bukan sekadar soal hujan.

Ia adalah hasil dari pertemuan antara cuaca ekstrem, deforestasi, alih fungsi lahan, tambang, dan tata kelola lingkungan yang gagal.

Hutan Sumatra dulu bekerja seperti spons raksasa. Ia menyerap air, menjaga tanah, menahan longsor, dan melindungi sungai.

Ketika hutan berubah menjadi sawit atau tambang, tanah kehilangan kemampuan menahan air.

Maka hujan berubah menjadi bencana. Anak-anak dalam buku ini memahami sesuatu yang sangat penting: alam tidak marah tiba-tiba.

Alam lelah perlahan.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 menelan 1.189 jiwa hingga 12 Januari 2026, dengan 141 orang masih hilang, 195.542 mengungsi, dan 147.236 rumah rusak.

Sementara itu, Indonesia kehilangan 10,7 juta hektar tutupan pohon dalam dua dekade terakhir menurut Global Forest Watch.

Dan manusia baru sadar setelah rumah hanyut dan desa hilang dari peta. Kritik ekologis dalam buku ini terasa kuat justru karena disampaikan dengan suara polos anak-anak.

Mereka bertanya:

Mengapa manusia terus menebang hutan jika akhirnya manusia sendiri yang tenggelam?

Mengapa keuntungan ekonomi terasa lebih penting daripada nyawa?

Mengapa bumi baru didengar setelah ia menangis?

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana. Tetapi sering kali pertanyaan sederhana justru paling sulit dijawab.

-000-

Saya membaca antologi ini pada malam hari. Dan berkali-kali saya berhenti membaca.

Bukan karena puisinya rumit. Tetapi karena saya malu.

Baca Juga :  Polresta Deli Serdang Gelar Doa Bersama Pasca Pilkada 2024

Malu karena anak-anak SMP ini mampu memiliki empati sebesar itu, sementara banyak orang dewasa justru sibuk berdebat politik ketika bumi sedang terluka.

Salah satu siswa, Nurin Najwa Khairunnisa, menulis dengan getir:

“Kita meninggalkan hutan. Cepat menebang, lambat menanam. Mengubah rumah pohon menjadi papan, mengubah paru-paru bumi menjadi debu.”

Kalimat sederhana itu terasa menghantam karena lahir dari kesadaran seorang anak SMP bahwa kerusakan alam selalu dimulai dari manusia yang lupa merawat rumahnya sendiri.

Saya membayangkan mereka duduk di Tebet Eco Park, mendengarkan hujan, lalu berbicara tentang banjir dan hutan yang hilang.

Di usia mereka, banyak generasi hanya diajarkan mengejar nilai. Tetapi anak-anak ini belajar sesuatu yang jauh lebih penting:

bagaimana menjadi manusia. Dan mungkin itulah pendidikan yang sesungguhnya.

Mungkin inilah ironi terbesar zaman kita: ketika orang dewasa sibuk menghitung nilai ekonomi hutan, anak-anak SMP justru lebih dulu memahami bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan bagi generasi yang belum lahir.

-000-

Esai yang baik harus memiliki presisi data, ketahanan logika, efisiensi struktur, kekuatan argumentasi, keseimbangan akademik, dan kedalaman intelektual.

Antologi puisi esai ini bukan esai, tapi memenuhi syarat itu dengan cara yang mengejutkan. Data bencana hadir bukan sebagai hiasan, tetapi sebagai fondasi moral cerita.

Logika ekologisnya kuat:
kerusakan lingkungan melahirkan tragedi kemanusiaan. Strukturnya cair, emosional, namun tetap terarah.

Argumentasinya tidak menggurui, melainkan mengajak pembaca merasa.

Dan yang paling penting:
buku ini memiliki kedalaman intelektual karena berani mengajukan pertanyaan moral paling mendasar.

Mengapa anak-anak harus lebih dulu menangis agar orang dewasa mau mendengar bumi?

Pertanyaan itu akan tinggal lama di kepala pembaca.

-000-

Antologi ini mungkin belum sempurna secara teknis. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih langka: kejujuran.

Di dalam buku ini, anak-anak SMP tidak sedang mencoba terlihat pintar. Mereka hanya sedang mencoba memahami mengapa bumi bisa menangis.

Dan justru karena itulah, suara mereka terasa sangat murni.

Di zaman ketika manusia semakin sibuk mengejar teknologi, mungkin yang paling kita butuhkan justru keberanian sederhana:

duduk di bawah hujan,
mendengar bumi,
lalu menulis dengan hati.

Karena peradaban tidak runtuh saat gedung-gedung hancur.

Peradaban runtuh ketika manusia tak lagi mampu merasa sedih melihat bumi terluka.*

Jakarta, 20 Mei 2026

REFERENSI

1. Brown Girl Dreaming, Jacqueline Woodson, Nancy Paulsen Books, 2014.
2. Poems to Learn by Heart, Caroline Kennedy, Disney, Hyperion, 2013.
3. No One Is Too Small to Make a Difference, Greta Thunberg, Penguin Books, 2019.
4. Braiding Sweetgrass, Robin Wall Kimmerer, Milkweed Editions, 2013.
5. Silent Spring, Rachel Carson, Houghton Mifflin, 1962.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1BqRdLKMKi/?mibextid=wwXIfr