Opini  

KICK OFF TIGA INOVASI DUNIA ENERGI DI INDONESIA

KICK OFF TIGA INOVASI DUNIA ENERGI DI INDONESIA

– Minyak Non-Konvensional, Natural Hidrogen, PHE Community

Oleh Denny JA

mediasumatera.id – Sebuah inovasi energi yang berhasil dapat mengubah wajah negara. Ia dapat mengubah kelangkaan menjadi kelimpahan, ketergantungan menjadi kemandirian, bahkan menggeser posisi sebuah bangsa dalam percaturan dunia.

Amerika Serikat pernah mengalami masa ketika mobil mengantre hampir delapan kilometer hanya untuk mendapatkan bensin. Februari 1974, krisis minyak sedang mengguncang negeri adidaya itu.

Di Maryland, antrean kendaraan mengular begitu panjang. Perkelahian terjadi. Sebagian pemilik pompa bensin bahkan membawa senjata untuk menjaga tempat usahanya dari kemungkinan kerusuhan dan penjarahan.

Sulit membayangkan pemandangan itu terjadi di Amerika Serikat, negara dengan kekuatan ekonomi dan militer terbesar dunia. Tetapi energi mempunyai hukum yang tidak mengenal status negara.

Negara sebesar apa pun dapat menjadi rapuh ketika energi menjadi langka. Minyak bukan sekadar komoditas, melainkan darah yang mengalir melalui industri, transportasi, ekonomi, bahkan keamanan nasional.

Tiga dekade kemudian, persoalan Amerika belum selesai. Pada pertengahan 2000-an, produksi minyak mentah Amerika hanya sekitar lima juta barel per hari, sementara ketergantungannya terhadap petroleum impor sangat tinggi.

Lalu sesuatu berubah. Bukan buminya, bukan luas negaranya, bukan pula karena Amerika memperoleh wilayah baru yang penuh minyak. Yang berubah adalah kemampuan manusia membaca bumi.

Datanglah revolusi shale. Perpaduan hydraulic fracturing, horizontal drilling, dan pemetaan geologi membuat hidrokarbon yang sebelumnya terperangkap dalam batuan rapat dapat diproduksikan secara ekonomis.

Hasilnya mencengangkan. Pada 2024, produksi minyak mentah Amerika mencapai rata-rata 13,2 juta barel per hari, dibandingkan sekitar lima juta barel per hari pada pertengahan 2000-an.

Produksinya meningkat hampir tiga kali lipat. Amerika kemudian menjadi produsen minyak mentah terbesar dunia, sebuah transformasi yang beberapa dekade sebelumnya mungkin terdengar seperti fantasi energi.

Hebatnya sebuah inovasi energi yang berhasil. Ia tidak menciptakan minyak baru di dalam bumi. Ia menciptakan kemungkinan baru dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak mungkin.

Batuan yang kemarin dianggap tidak ekonomis, hari ini dapat menjadi kekayaan. Bumi yang sama ternyata dapat menghasilkan nasib berbeda ketika ilmu pengetahuan dan teknologi manusia berubah.

-000-

Tetapi inovasi bukan jalan yang mudah. Kita biasanya melihat inovasi setelah berhasil, ketika grafik produksi sudah menanjak dan nama penemunya mulai ditulis dalam buku sejarah.

Yang jarang terlihat adalah tahun-tahun panjang ketika semuanya masih tampak seperti kegagalan, ketika uang terus dikeluarkan sementara hasil besar belum juga terlihat di depan mata.

Kisah shale Amerika adalah kisah seperti itu. Sejak awal 1980-an, George Mitchell dan timnya mencoba membuat hidrokarbon dari Barnett Shale dapat mengalir secara ekonomis.

Mereka mengebor, mencoba fracturing, lalu gagal. Mereka mengubah metode, memperbaiki desain sumur, mengganti fluida, menghitung kembali biaya, kemudian melakukan eksperimen baru.

Begitu berlangsung bertahun-tahun. Hampir dua dekade menjadi sebuah maraton panjang eksperimen, kegagalan, pembelajaran, perbaikan, lalu keberanian untuk mencoba sekali lagi.

Bayangkan suasana psikologisnya. Tahun demi tahun uang telah dikeluarkan, sumur telah dibor, berbagai hipotesis telah diuji, tetapi keberhasilan besar yang dijanjikan belum datang.

Pada titik seperti itu, pertanyaannya bukan lagi hanya mengenai teknologi. Pertanyaannya menjadi sangat manusiawi: sampai kapan kita masih harus mencoba dan terus menanggung kegagalan?

Ada masa ketika ketekunan terlihat seperti kebodohan. Ada masa ketika seorang inovator tampak hanya sebagai manusia keras kepala yang tidak memahami kapan seharusnya berhenti.

Tetapi George Mitchell terus mencoba. Slickwater fracturing akhirnya membuat proses semakin ekonomis, sementara horizontal drilling memperluas kontak antara sumur dengan batuan yang mengandung hidrokarbon.

Ketika teknologi, geologi, dan keekonomian akhirnya bertemu pada titik yang tepat, sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap terlalu sulit berubah menjadi sebuah revolusi energi.

Di situlah pelajaran terbesar shale Amerika. Inovasi bukan hanya cerita mengenai kecerdasan menemukan sesuatu yang baru. Inovasi juga cerita mengenai daya tahan menghadapi kegagalan.

Sebuah gagasan besar sering terlihat seperti pemborosan sebelum berhasil. Tetapi setelah berhasil, bahasa dunia berubah: kegagalan disebut eksperimen, pengeluaran disebut investasi, dan keras kepala disebut visi.

-000-

KINI GILIRAN INDONESIA

Hari ini giliran Indonesia mencoba. Kita tidak mengetahui apakah perjalanan kita kelak akan sebesar revolusi shale Amerika. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jaminan itu.

Justru karena tidak ada jaminan, inovasi harus dikerjakan dengan disiplin: bermimpi besar, memulai terukur, menguji dengan data, belajar cepat, dan menghentikan sesuatu yang tidak terbukti.

Indonesia memiliki 128 cekungan migas. Sebanyak 68 cekungan di antaranya belum pernah dieksplorasi, sebuah wilayah ketidaktahuan yang sekaligus menyimpan kemungkinan bagi masa depan energi Indonesia.

Saya membayangkan bentang geologi dari Aceh hingga Papua seperti perpustakaan raksasa di bawah tanah, menyimpan berjuta halaman sejarah bumi yang belum seluruhnya pernah kita baca.

Sebagian bukunya sudah menghasilkan minyak dan gas. Sebagian baru kita buka halaman pertamanya. Sebagian lainnya mungkin bahkan belum pernah disentuh oleh generasi kita.

Di tengah kebutuhan meningkatkan kemandirian energi, PHE melakukan kick off tiga ikhtiar: Minyak Non-Konvensional, Natural Hidrogen, dan PHE Community sebagai ekosistem inovasi.

Yang pertama membuka sumber daya lama dengan teknologi baru. Yang kedua menjelajahi kemungkinan energi baru. Yang ketiga menghubungkan manusia agar gagasan baru lebih cepat menemukan jalannya.

Tiga jalan itu berbeda, tetapi semangatnya sama: jangan hanya mengelola apa yang diwariskan masa lalu. Mulailah menciptakan sesuatu yang dapat diwariskan kepada masa depan.

SATU: MINYAK NON-KONVENSIONAL

Indonesia telah memproduksi minyak selama lebih dari satu abad. Namun sebagian besar perjalanan itu bertumpu pada minyak konvensional yang reservoirnya relatif lebih mudah ditemukan dan diproduksikan.

Pertanyaannya kini berbeda: bagaimana jika kekayaan energi berikutnya justru tersimpan dalam batuan yang selama ini dianggap terlalu rapat, terlalu sulit, atau terlalu mahal diproduksikan?

Itulah peluang minyak dan gas non-konvensional. Pengalaman Amerika menunjukkan bahwa batuan yang hari ini dianggap tidak ekonomis belum tentu selamanya tidak ekonomis.

Tetapi tantangannya besar. Geologi Indonesia bukan Texas. Formula Amerika tidak dapat disalin begitu saja karena setiap batuan mempunyai karakter dan persoalan keekonomian sendiri.

Kita harus menemukan sweet spot, meningkatkan produktivitas sumur, menurunkan biaya, menyiapkan infrastruktur, serta memperpendek jarak antara pembuktian geologi dan monetisasi komersial.

Tantangannya bukan sekadar membuktikan bahwa minyak berada di bawah tanah. Kita harus membuktikan bahwa minyak tersebut dapat mengalir dengan biaya yang masuk akal.

Jika berhasil, kita sesungguhnya tidak menemukan bumi baru. Kita menemukan nilai baru dari bumi yang selama ini sudah kita miliki, tetapi belum mampu kita manfaatkan sepenuhnya.

DUA: NATURAL HIDROGEN

Ikhtiar kedua membawa kita menuju frontier yang bahkan lebih baru: natural hydrogen, hidrogen yang terbentuk secara alamiah di bawah permukaan bumi melalui berbagai proses geologi.

Indonesia mempunyai alasan untuk mulai melihatnya dengan serius. Survei Badan Geologi di Sulawesi Tengah telah menemukan indikasi rembesan hidrogen alami yang menarik untuk diteliti lebih jauh.

Tetapi kita harus disiplin terhadap kata potensi. Indikasi bukan cadangan, cadangan belum tentu ekonomis, dan sesuatu yang menarik secara geologi belum tentu menjadi industri.

Karena itu, tugas kita bukan mengumumkan kemenangan terlalu dini. Tugas kita adalah mencari, memetakan, mengukur, mengebor, menguji, kemudian membiarkan data memberikan jawabannya.

Mungkin natural hydrogen kelak menjadi salah satu sumber energi penting Indonesia. Mungkin pula penelitian panjang menunjukkan bahwa sebagian potensinya tidak cukup ekonomis untuk dikembangkan.

Tetapi jika dunia sedang membuka sebuah frontier energi baru, Indonesia tidak seharusnya hanya berdiri di pinggir jalan sambil menunggu keberhasilan bangsa lain.

Kita harus ikut berada di laboratorium sejarah itu. Sebab bangsa yang terlambat memasuki teknologi baru sering akhirnya harus membeli teknologi dari mereka yang berani masuk lebih dahulu.

TIGA: PHE COMMUNITY

Ikhtiar ketiga tidak berada ribuan meter di bawah permukaan bumi. Ia berada di antara manusia, di tempat pengetahuan bertemu pengalaman dan pengalaman bertemu keberanian bereksperimen.

PHE mempunyai geolog, engineer, peneliti, kampus, vendor, startup, investor, regulator, media, dan generasi muda dengan pengalaman serta pengetahuan yang sangat beragam.

Masalahnya, pengetahuan yang tidak terhubung sering berhenti menjadi serpihan. Gagasan yang tidak menemukan jaringan dapat mati sebelum sempat diuji dan membuktikan kemungkinan yang dikandungnya.

Bayangkan seorang engineer di Rokan menghadapi persoalan yang pernah diselesaikan engineer di Kalimantan, tetapi keduanya tidak mengetahui pengalaman masing-masing karena pengetahuan tidak pernah dipertemukan.

Bayangkan pula kampus mempunyai teori, vendor mempunyai teknologi, PHE mempunyai data, startup mempunyai keberanian bereksperimen, sementara investor memahami risiko dan jalan menuju skala komersial.

Masing-masing memiliki potongan puzzle. Tetapi gambar besarnya baru terlihat ketika potongan itu dipertemukan, diuji bersama, diperdebatkan, diperbaiki, kemudian diarahkan kepada persoalan nyata.

Itulah PHE Community. Ia bukan sekadar forum, grup WhatsApp, atau kalender seminar baru. Ia harus menjadi pasar gagasan sekaligus laboratorium kolaborasi.

Dari sana harus lahir problem bank, riset bersama, innovation challenge, pilot project, pertukaran pengetahuan, serta dokumentasi kegagalan yang dapat menjadi bahan pembelajaran bersama.

Sebab kegagalan yang dibagikan dapat berubah menjadi pengetahuan. Sebaliknya, kegagalan yang disembunyikan hanya membuat organisasi berisiko membayar kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Teknologi dapat dibeli dan peralatan dapat diimpor. Tetapi budaya inovasi tidak dapat dipesan dari katalog mana pun. Ia harus ditumbuhkan melalui manusia dan kepercayaan.

-000-

DUA BUKU UNTUK MEMAHAMI PERJALANAN INI

Ada dua buku yang membantu saya memahami mengapa tiga ikhtiar ini penting. Keduanya berbicara mengenai inovasi dari sudut berbeda, tetapi justru karena itu saling melengkapi.

Buku pertama, The Frackers karya Gregory Zuckerman, membawa kita ke belakang layar revolusi shale Amerika dan memperlihatkan manusia-manusia yang bekerja sebelum keberhasilan terlihat.

Di sana ada modal yang hilang, keputusan yang salah, perusahaan yang tertekan, serta orang-orang yang ditertawakan karena mengejar sesuatu yang ketika itu dianggap terlalu sulit.

Pesannya sederhana: sebelum sebuah inovasi menjadi arus utama, biasanya ada sekelompok kecil manusia yang bersedia terlihat salah jauh lebih lama daripada kebanyakan orang.

Buku kedua, Where Good Ideas Come From karya Steven Johnson, menunjukkan bahwa gagasan besar jarang lahir dari seorang genius yang sepenuhnya bekerja sendirian.

Inovasi sering lahir ketika gagasan bertemu gagasan, disiplin bertemu disiplin, dan manusia yang memiliki masalah bertemu manusia lain yang memiliki teknologi.

The Frackers mengajarkan keberanian untuk mencoba. Where Good Ideas Come From mengajarkan pentingnya ekosistem yang memungkinkan gagasan bergerak, bertemu, berbenturan, lalu melahirkan kemungkinan baru.

Kita membutuhkan keduanya. Keberanian tanpa ekosistem mudah mati sendirian, sementara ekosistem tanpa keberanian hanya menghasilkan banyak pertemuan dan presentasi tanpa terobosan nyata.

-000-

Tentu ada pertanyaan yang sah. Mengapa mengejar tiga frontier sekaligus ketika produksi hari ini sendiri masih menghadapi tekanan, sementara bisnis energi semakin kompleks dan mahal?

Bukankah minyak non-konvensional mahal? Bukankah natural hydrogen masih sangat awal? Bukankah sebuah community mudah berubah menjadi seremoni dengan banyak kegiatan tetapi sedikit hasil nyata?

Kritik itu benar jika kita memperlakukan ketiganya sebagai proyek raksasa yang langsung harus berhasil, kemudian menggelontorkan investasi besar sebelum memperoleh pembuktian teknis dan keekonomian.

Tetapi bukan itu makna kick off. Kick off adalah keputusan untuk mulai belajar secara terstruktur, membeli pengetahuan melalui eksperimen, kemudian memperbesar hanya sesuatu yang terbukti menjanjikan.

Prinsipnya sederhana: bermimpi besar, memulai kecil, mengukur ketat, dan belajar cepat. Keberanian harus mempunyai pagar agar tidak berubah menjadi perjudian yang mahal.

Sebab keberanian tanpa disiplin dapat menjadi perjudian. Tetapi disiplin tanpa keberanian membuat sebuah institusi sangat pandai mengelola masa lalu sambil perlahan kehilangan masa depan.

Namun, idealisme ini dipagari stage-gate system yang ketat: setiap tahap uji eksperimen menuntut tolok ukur keekonomian yang jelas, sehingga alokasi modal tetap rasional dan terukur sebelum melangkah ke skala komersial.

-000-

Saya semakin percaya bahwa ada dua jenis pohon yang ditanam manusia. Ada pohon yang kita tanam karena kita sendiri ingin menikmati buahnya ketika musim panen tiba.

Tetapi ada pohon yang kita tanam karena suatu hari, ketika kita sudah tidak berada di sana, seseorang yang tidak kita kenal mungkin membutuhkan tempat berteduh.

Inovasi adalah pohon jenis kedua. Mereka yang memulai belum tentu menikmati seluruh hasilnya karena inovasi besar sering membutuhkan waktu lebih panjang daripada satu masa kepemimpinan.

George Mitchell membutuhkan hampir dua puluh tahun untuk membantu membuka jalan menuju revolusi shale, perjalanan panjang yang dipenuhi ketidakpastian, eksperimen, kegagalan, dan harapan.

Di sepanjang perjalanan itu ada ribuan engineer, geolog, pekerja, ilmuwan, investor, dan pembuat kebijakan yang namanya tidak pernah masuk ke dalam buku sejarah.

Tetapi tanpa mereka, revolusi itu tidak pernah terjadi. Sejarah memang mengingat beberapa nama, padahal perubahan besar hampir selalu merupakan kerja kolektif banyak manusia.

Sebagai Komisaris Utama PHE, saya berkesempatan mengamati pemain energi dunia, dari ADIPEC Abu Dhabi, Davos, CERAWeek dan OTC Houston, hingga TotalEnergies di Paris.

Dari perjalanan itu, saya membawa pulang satu kegelisahan: dunia energi tidak sedang duduk menunggu masa depan. Negara dan perusahaan besar sedang berlomba menciptakan masa depan.

Indonesia jangan hanya menjadi penonton. Kita mempunyai bumi, manusia, pengalaman panjang di dunia energi, serta kebutuhan besar untuk memperkuat kembali kemandirian energi nasional.

Yang harus kita hidupkan adalah keberanian memasuki wilayah yang belum pasti, sambil tetap membawa ilmu pengetahuan, disiplin ekonomi, tata kelola, dan kerendahan hati terhadap data.

-000-

Bayangkan Agustus 2056. Tiga puluh tahun telah berlalu. Anak-anak muda yang hari ini bahkan belum lahir mungkin bekerja dalam industri energi Indonesia yang sangat berbeda. Mungkin minyak non-konvensional telah menjadi bagian penting produksi nasional, dan natural hydrogen berkembang menjadi industri yang pada Agustus 2026 masih terdengar seperti kemungkinan jauh.

Atau mungkin sebagian eksperimen kita gagal. Kemungkinan itu harus diterima sejak awal, sebab inovasi yang tidak menyediakan ruang bagi kegagalan sesungguhnya bukan inovasi.

Tetapi kegagalan yang dikerjakan dengan ilmu pengetahuan tidak pernah sepenuhnya sia-sia. Ia meninggalkan data, pengalaman, dan papan penunjuk bagi generasi yang datang kemudian: jalan ini pernah dicoba dan ternyata buntu, gunakan pengetahuan yang kami tinggalkan, lalu carilah jalan lain yang lebih menjanjikan.

Mungkin suatu hari seseorang membuka arsip lama dan menemukan sebuah tanggal kecil, ketika sekelompok manusia memutuskan bahwa Indonesia harus mulai mencari kemungkinan energi yang baru.

Tanggal itu berada pada Agustus 2026. Bukan hari ketika kelimpahan energi ditemukan, melainkan hari ketika kita memilih untuk mulai mencari dengan lebih berani.

Kemandirian energi tidak dimulai ketika sumur pertama menghasilkan minyak. Ia dimulai jauh sebelumnya, ketika sebuah bangsa memutuskan untuk percaya kepada ilmu pengetahuan.

Warisan terbesar generasi kita mungkin bukan berapa banyak energi yang berhasil kita keluarkan dari bumi hari ini, melainkan berapa banyak kemungkinan baru yang kita buka agar generasi setelah kita mempunyai pilihan yang lebih luas.

Sebuah inovasi energi yang berhasil dapat mengubah wajah negara. Amerika pernah membuktikannya melalui shale. Kini Indonesia mulai mencoba melalui minyak non-konvensional, natural hydrogen, dan PHE Community, tiga ikhtiar berbeda yang dipersatukan oleh keberanian membuka kemungkinan baru.

Dan jika hari itu akhirnya datang, mungkin generasi masa depan membuka arsip Agustus 2026 dan berkata sederhana: ternyata, perjalanan besar itu pernah dimulai dari sini.***

Jakarta, 11 Agustus 2026

(Esai ini merupakan perluasan dari orasi Denny JA selaku Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi ketika memberikan pengarahan pada Kick Off tiga inovasi energi, Jakarta, 10 Agustus 2026.)

(Tiga inovasi tersebut adalah dimulainya Roadmap Minyak Non-Konvensional, Roadmap Natural Hidrogen, serta pembangunan PHE Community sebagai ekosistem kolaborasi dan inovasi energi Indonesia.)

REFERENSI UTAMA

1. Zuckerman, Gregory. The Frackers: The Outrageous Inside Story of the New Billionaire Wildcatters. Portfolio/Penguin, 2013.
2. Johnson, Steven. Where Good Ideas Come From: The Natural History of Innovation. Riverhead Books, 2010.

SUMBER DATA DAN RUJUKAN

1. U.S. Energy Information Administration (EIA). Data historis produksi minyak mentah dan petroleum Amerika Serikat, termasuk perkembangan shale dan rekor produksi minyak mentah Amerika.
2. Smithsonian Magazine. Catatan sejarah krisis minyak Amerika Serikat 1973–1974, termasuk antrean kendaraan sekitar lima mil atau delapan kilometer di Maryland.
3. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. Data 128 cekungan migas Indonesia, termasuk 68 cekungan yang belum dieksplorasi.
4. Badan Geologi Kementerian ESDM Republik Indonesia. Survei dan kajian natural hydrogen di East Sulawesi Ophiolite, termasuk indikasi rem

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/share/18ycvY15hf/?mibextid=wwXIfr