LAHIRNYA KELAS BARU: PEKERJA DIGITAL YANG RENTAN, DIGITALLY VULNERABLE CLASS (DVC)

LAHIRNYA KELAS BARU: PEKERJA DIGITAL YANG RENTAN, DIGITALLY VULNERABLE CLASS (DVC)

mediasumatera.id – Affan Kurniawan malam itu bukan sedang menulis manifesto. Ia bukan ideolog revolusi, bukan pemimpin partai, dan bukan pula orator yang berdiri di atas mobil komando.

Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang sedang bekerja. Seperti jutaan pekerja digital lain, ia membuka aplikasi setiap pagi dengan harapan sederhana: memperoleh cukup penghasilan untuk membawa keluarganya menuju hari esok yang lebih baik.

Affan baru berusia 21 tahun. Ia tinggal bersama keluarganya di rumah kontrakan sederhana dan hari itu masih menerima pesanan seperti biasa. Ia tidak berangkat untuk membuat sejarah. Ia hanya berangkat untuk mencari nafkah.

Di punggungnya ada tanggung jawab. Di layar telepon pintarnya ada pesanan yang harus diselesaikan.

Namun hari itu, nasib pribadinya bertemu dengan sejarah yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ketika tubuh mudanya jatuh dalam pusaran demonstrasi Agustus 2025, Indonesia tidak hanya menyaksikan wafatnya seorang pengemudi ojek online. Indonesia sedang melihat retakan pertama dari sebuah perubahan sosial yang lebih dalam.

Affan menjadi simbol dari zaman yang paradoks. Sebuah zaman ketika jutaan orang tampak lebih bebas daripada generasi sebelumnya, tetapi justru semakin bergantung pada algoritma yang tidak mereka kuasai.

-000-

Kerusuhan Agustus 2025 memperlihatkan kemunculan kekuatan sosial yang selama ini kurang mendapat perhatian. Mereka bukan buruh pabrik seperti abad ke-20, tetapi juga bukan pegawai tetap yang menikmati jaminan sosial.

Mereka adalah pengemudi aplikasi, kurir digital, freelancer, kreator konten, pekerja logistik platform, dan berbagai profesi baru yang lahir dari revolusi internet. Saya menyebut mereka sebagai Kelas Pekerja Digital yang Rentan.

Mereka bekerja melalui aplikasi. Mereka bergantung pada rating, insentif, komisi, dan algoritma yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Fenomena ini bukan lagi gejala pinggiran. Menurut berbagai studi, jumlah pekerja platform digital Indonesia telah meningkat dari sekitar 2,2 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 4,3 juta orang pada 2024.

Data ini bersumber dari Sakernas BPS 2019, catatan Fairwork Indonesia 2020, pendataan Garda Indonesia, dan laporan CELIOS 2024 tentang penghasilan pengemudi daring.

Ciri utama mereka bukan kemalasan. Sebaliknya, mereka bekerja sangat keras, tetapi kerja keras itu tidak selalu menghasilkan kepastian.

Mereka memiliki telepon pintar, akses internet, dan keterampilan digital. Namun mereka tidak memiliki perlindungan sosial yang sebanding dengan risiko yang mereka tanggung.

Yang membuat kelas ini berbeda bukan hanya kerawanan ekonomi. Yang lebih mendasar adalah kerawanan harapan.

Yang paling rapuh bukan pendapatan mereka. Yang paling rapuh adalah keyakinan bahwa usaha masih memiliki hubungan yang masuk akal dengan hasil. Ketika hubungan itu terasa putus, lahirlah kelelahan yang lebih dalam daripada kemiskinan.

Mereka mulai meragukan bahwa kerja keras otomatis akan membawa kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak lagi sepenuhnya yakin bahwa masa depan akan lebih cerah daripada masa kini.

-000-

Untuk memahami kelas baru ini, kita perlu kembali kepada Karl Marx. Menurut Marx, kelas sosial ditentukan oleh hubungan seseorang terhadap alat produksi.

Pada abad ke-19, alat produksi berupa tanah, pabrik, mesin, dan modal. Mereka yang memiliki alat produksi disebut borjuis, sedangkan mereka yang hanya memiliki tenaga kerja disebut proletariat.

Karena itu Marx melihat sejarah sebagai sejarah pertarungan kelas. Di satu sisi ada mereka yang memiliki alat produksi, di sisi lain ada mereka yang hidup dari menjual tenaga kerja.

Namun sejarah tidak pernah berhenti. Ketika teknologi berubah, alat produksi juga berubah.

Pada awal abad ke-21, Guy Standing memperkenalkan konsep precariat. Ia menggambarkan kelompok yang hidup dalam ketidakpastian pekerjaan, pendapatan, dan perlindungan sosial.

Precariat tidak menikmati stabilitas yang pernah dimiliki generasi sebelumnya. Mereka berpindah dari kontrak ke kontrak tanpa kepastian jangka panjang.

Baca Juga :  1.100 Hektar Program Cetak Sawah di Ogan Ilir Terancam Gagal

Namun Indonesia di era kecerdasan buatan menghadapi situasi yang lebih kompleks. Kini alat produksi tidak lagi hanya berupa pabrik dan modal.

Data, algoritma, jaringan digital, dan platform teknologi telah menjadi alat produksi baru. Mereka yang menguasai platform menguasai pasar.

Sebaliknya, mereka yang bekerja di dalam platform harus tunduk pada aturan yang tidak mereka buat sendiri. Dari sinilah lahir Kelas Pekerja Digital yang Rentan.

Jika proletariat hidup dari tenaga kerja dan precariat hidup dalam ketidakpastian, maka Kelas Pekerja Digital yang Rentan hidup dalam ketidakpastian sekaligus kerawanan harapan. Di situlah letak perbedaannya.

Pada abad lalu, pekerja mengetahui siapa majikannya. Ia dapat melihat wajah pemilik pabrik dan mengetahui kepada siapa tuntutannya ditujukan. Kini banyak pekerja tidak lagi berhadapan dengan manusia, melainkan dengan algoritma yang tak memiliki wajah dan tak dapat diajak berunding.

-000-

Peran Kelas Pekerja Digital yang Rentan dalam gejolak Agustus 2025 tidak dapat dibaca sebagai ledakan spontan. Ia merupakan akumulasi panjang dari rasa tidak aman, rasa tidak didengar, dan rasa kehilangan kendali atas masa depan.

Kematian Affan Kurniawan menjadi titik simbolik karena ia menghadirkan wajah manusia dari statistik yang dingin. Selama ini pekerja digital lebih sering dibicarakan dalam angka: jumlah pengguna, jumlah transaksi, jumlah perjalanan, jumlah mitra, dan jumlah komisi.

Namun Affan mengembalikan seluruh angka itu menjadi manusia. Ia memiliki keluarga yang menunggu kepulangannya, impian yang ingin diwujudkannya, dan masa depan yang sedang diperjuangkannya.

Ketika Affan wafat, yang gugur bukan hanya seorang pengemudi ojek online. Yang ikut runtuh adalah ilusi bahwa ekonomi digital secara otomatis menghadirkan keamanan bagi mereka yang bekerja paling keras di dalamnya.

Solidaritas kemudian bergerak sangat cepat. Bukan karena Affan tokoh terkenal, melainkan karena jutaan pekerja digital melihat diri mereka sendiri di dalam dirinya.

Hari ini Affan. Besok bisa siapa saja.

Di sinilah kekuatan sosial baru itu lahir. Mereka tersebar di berbagai kota, tetapi terhubung dalam jaringan digital yang sama.

Jika kelas pekerja industri membangun solidaritas di pabrik, maka kelas pekerja digital membangun solidaritas melalui aplikasi dan media sosial. Koneksi digital itulah yang membuat mereka mampu bergerak cepat ketika merasa diperlakukan tidak adil.

Mereka tidak memiliki kantor bersama. Namun mereka memiliki ruang virtual bersama yang setiap hari mempertemukan pengalaman, keluhan, harapan, dan kemarahan.

Karena itu, kemarahan yang muncul dalam gejolak Agustus 2025 tidak boleh dibaca semata sebagai reaksi terhadap satu peristiwa. Ia adalah ekspresi dari keresahan yang telah lama mengendap di bawah permukaan.

Mobilisasi horizontal lewat grup percakapan instan menjadi katalis taktis, mengubah keluhan algoritma sehari-hari menjadi strategi boikot atau aksi protes serentak dan penggalangan massa riil di titik-titik krusial kota saat kerusuhan pecah.

Yang mereka perjuangkan sesungguhnya bukan hanya pendapatan. Yang mereka perjuangkan adalah martabat.

Mereka ingin diakui bukan sekadar sebagai mitra dalam istilah administratif. Mereka ingin diakui sebagai manusia yang memiliki hak atas perlindungan, kepastian, dan masa depan.

-000-

Dua buku membantu kita memahami mengapa fenomena ini penting.

Buku pertama adalah The Precariat: The New Dangerous Class karya Guy Standing, diterbitkan oleh Bloomsbury Academic pada tahun 2011.

Buku ini menjelaskan munculnya kelompok sosial baru yang hidup tanpa kepastian kerja, tanpa identitas profesional yang stabil, dan tanpa perlindungan sosial yang memadai.

Standing menunjukkan bahwa ketidakpastian yang berlangsung lama bukan hanya persoalan ekonomi. Ketidakpastian yang berkepanjangan perlahan berubah menjadi kecemasan sosial dan akhirnya dapat berubah menjadi ketidakstabilan politik.

Yang membuat buku ini relevan bagi Indonesia adalah kemampuannya menjelaskan mengapa kelompok yang tampak bekerja setiap hari tetap dapat merasa terasing.

Baca Juga :  PISAH SAMBUT KAPOLSEK TANJUNG RAJA, OGAN ILIR.

Mereka produktif, tetapi tidak merasa aman. Mereka bekerja keras, tetapi tidak yakin bahwa kerja keras itu akan membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

-000-

Buku kedua adalah Platform Capitalism karya Nick Srnicek, diterbitkan oleh Polity Press pada tahun 2017. Buku ini menjelaskan bagaimana platform digital menjadi bentuk baru kapitalisme abad ke-21.

Menurut Srnicek, data telah menjadi sumber daya ekonomi yang sama pentingnya dengan tanah dan mesin pada masa lalu. Mereka yang menguasai data dan platform memperoleh kekuasaan yang sangat besar terhadap pasar dan perilaku manusia.

Dalam konteks Indonesia, buku ini membantu kita memahami bahwa persoalan pekerja digital tidak hanya soal tarif perjalanan atau bonus harian. Persoalan yang lebih dalam adalah struktur kekuasaan yang tidak terlihat di balik algoritma.

Pekerja digital bekerja di dalam sistem yang datanya tidak mereka miliki, aturannya tidak mereka tulis, dan algoritmanya tidak mereka pahami sepenuhnya. Karena itu, keadilan sosial di abad ke-21 tidak cukup berbicara tentang upah minimum.

Keadilan sosial kini juga harus berbicara tentang transparansi algoritma, perlindungan data, jaminan sosial yang portabel, dan posisi tawar pekerja di dalam ekonomi platform.

Negara wajib meregulasi ekonomi platform lewat jaminan sosial portabel lintas-aplikasi, menetapkan batas minimum tarif per kilometer yang adil, serta membentuk dewan pengawas independen untuk mengaudit transparansi bias algoritma perusahaan.

-000-

Di ranah Indonesia, kajian Permana dkk. (2023) atas data Sakernas dan riset Fairwork Indonesia memperluas analisis ini, sementara Ubedillah Badrun dan Derajad Widhyharto menegaskan dimensi sosiologisnya secara lokal.

Saya sering merenungkan bahwa setiap revolusi teknologi selalu membawa dua wajah sekaligus. Di satu sisi ia membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Di sisi lain ia menciptakan kerentanan yang belum pernah kita kenal sebelumnya.

Dahulu orang miskin berada jauh dari pusat ekonomi. Kini mereka justru berada tepat di jantung ekonomi digital.

Mereka mengantar makanan yang kita pesan. Mereka mengirim barang yang kita beli. Mereka menghubungkan kota-kota melalui jutaan perjalanan setiap hari.

Namun pada saat yang sama, mereka menjadi kelompok yang paling mudah terguncang ketika sistem berubah. Satu perubahan algoritma dapat mengubah pendapatan mereka. Satu perubahan kebijakan dapat mengubah kehidupan keluarga mereka.

Di sinilah saya melihat tantangan moral terbesar abad ke-21. Tantangan itu bukan sekadar menciptakan teknologi yang lebih canggih.

Tantangan yang sesungguhnya adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap memperluas martabat manusia. Sebab teknologi yang hebat tetapi meninggalkan manusia pada akhirnya hanya akan melahirkan ketimpangan dalam bentuk yang baru.

Negara karena itu tidak boleh hanya menghitung nilai transaksi ekonomi digital. Negara juga harus menghitung kualitas hidup mereka yang menopang seluruh transaksi itu setiap hari.

Kita sering merayakan pertumbuhan ekonomi digital dalam angka triliunan rupiah. Namun kita jarang bertanya siapa yang paling lelah menggerakkan mesin besar itu.

Pertanyaan itulah yang harus dijawab jika kita ingin membangun masa depan yang lebih adil.

-000-

Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa keamanan. Ia adalah pesan sosial dari zaman yang sedang berubah.

Ia memperlihatkan bahwa di balik wajah ekonomi digital yang modern, cepat, dan efisien, sedang lahir kelompok sosial baru yang jumlahnya besar tetapi perlindungannya kecil.

Energinya kuat tetapi daya tawarnya terbatas, dan yang bekerja keras setiap hari tetapi semakin sulit mempercayai bahwa masa depan akan memberi imbalan yang setimpal.

Setiap zaman melahirkan kelasnya sendiri. Karl Marx menyaksikan lahirnya proletariat. Guy Standing menjelaskan kemunculan precariat.

Indonesia di era kecerdasan buatan dan ekonomi platform sedang menyaksikan lahirnya Kelas Pekerja Digital yang Rentan. Saya mengklaim ini lahirnya sebuah kelas yang baru.

Baca Juga :  KERJA SAMA LPPKI OGAN ILIR DENGAN PT QUANTUM

Dalam bahasa Inggris, saya memberinya nama Digitally Vulnerable Class, atau disingkat DVC. Mereka bukan kelompok pinggiran.

DVC (Digitally Vulnerable Class) adalah kelas sosial baru yang menggantungkan penghidupannya pada platform digital dan algoritma yang tidak mereka miliki, tidak mereka kendalikan, dan tidak mereka pahami sepenuhnya, sehingga mengalami ketidakpastian ekonomi, ketergantungan teknologi, dan kerawanan harapan.

Walau saya temukan kelas baru ini dalam konteks Indonesia, namun ia adalah gejala universal, karena konteks sosial yang melahirkannya juga terjadi di negara lain.

Setiap masyarakat pada akhirnya diuji bukan dari cara ia memperlakukan mereka yang berada di puncak, melainkan mereka yang menopang sistem dari bawah.

Dan dalam ekonomi digital Indonesia, para pekerja platform adalah fondasi yang sering terlihat, tetapi jarang benar-benar diperhatikan.

Mereka adalah wajah baru dunia kerja Indonesia. Mereka mengantar makanan kita, mengirim barang kita, menghubungkan kota-kota kita, dan menggerakkan ekonomi digital setiap hari.

Namun mereka sendiri sering hidup tanpa kepastian bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini. Mereka bekerja keras, tetapi tidak selalu yakin bahwa kerja keras itu masih cukup.

-000-

Apa perbedaan Pekerja Digital Yang Rentan, Digitally Vulnerable Class (DVC), dengan kelas prekariat dari Guy Standing?

Kelas prekariat yang dijelaskan Guy Standing lahir dari ketidakpastian kerja, pendapatan, dan perlindungan sosial. Mereka hidup dari kontrak ke kontrak tanpa jaminan masa depan yang jelas. Namun mereka masih berada dalam dunia kerja yang relasi kekuasaannya relatif dapat dikenali.

DVC melangkah lebih jauh. Mereka tidak hanya bergantung pada pekerjaan yang tidak pasti, tetapi juga pada platform digital dan algoritma yang tidak mereka miliki, tidak mereka kendalikan, dan sering kali tidak mereka pahami.

Pendapatan mereka dapat berubah bukan karena kemampuan atau kerja keras yang berbeda, melainkan karena perubahan sistem yang berlangsung tanpa negosiasi.

Karena itu, jika prekariat adalah kelas yang rentan secara ekonomi, maka DVC adalah kelas yang rentan secara ekonomi, teknologi, dan psikologis sekaligus.

Ciri khas DVC bukan hanya ketidakpastian kerja, melainkan kerawanan harapan: hilangnya keyakinan bahwa usaha yang lebih keras masih akan menghasilkan masa depan yang lebih baik.

-000-

Di situlah kerawanan harapan mulai tumbuh. Dan ketika harapan mulai rapuh, stabilitas sosial perlahan ikut menjadi rapuh.

Jika negara mampu menghadirkan harapan, energi mereka akan menjadi kekuatan pembaruan yang luar biasa. Namun jika harapan terus menghilang, energi yang sama dapat berubah menjadi kemarahan yang sulit dibendung.

Sebab sejarah selalu berubah ketika lahir sebuah kelas baru yang tidak lagi sanggup memikul luka lama.

Di titik itulah DVC berbeda dari kelas rentan sebelumnya: mereka lahir di pusat ekonomi digital, tetapi justru paling sedikit memiliki suara atas aturan, data, dan algoritma yang menentukan hidup mereka.

Dan dalam setiap motor hijau, gojek, pekerja digital yang rentan, yang melintas di pagi, siang atau malam hari, sesungguhnya sedang melintas sebuah pertanyaan yang akan menentukan masa depan bangsa.

Apakah kemajuan digital akan memperluas martabat manusia, atau justru mengubah manusia menjadi sekadar angka di dalam algoritma?*

Jakarta, 7 Juni 2026

REFERENSI

Guy Standing. The Precariat: The New Dangerous Class. Bloomsbury Academic, 2011.

Nick Srnicek. Platform Capitalism. Polity Press, 2017.

Permana, dkk. “Analisis Pengaruh Ragam Karakteristik Pekerja Ekonomi Gig di Indonesia.” Jurnal Riset Ekonomi Pembangunan, 2024. Tautan[pubmedia]

Fairwork Indonesia. Laporan Tahunan Kondisi Kerja Platform Digital, 2020–2024.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1D7gz79nnU/?mibextid=wwXIfr